KBM ACADEMY LEVEL 8
Tema: Twist Ending
°KAMAR RAHASIA°
Penulis: Ummu Zakiyah
Ini Rahasia! Hanya aku, Mas Bima dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi di kamar ini. Aku menamainya Kamar Rahasia, setidaknya sampai aku menceritakan pada khalayak, sekarang.
Seperti biasa, hari ini setelah puas berkasih-kasihan, kami keluar dari kamar rahasia dan langsung menuju ke tempat nongkrong, yang kebanyakan dikunjungi oleh anak-anak muda.
Karena sering mampir ke tempat ini, tak sedikit dari mereka yang mengenal aku dan Mas Bima. Kadangkala ada yang cemburu melihat kelanggengan hubungan kami, atau mengira kami telah menikah.
Setahun terakhir, di kamar rahasia inilah, aku sering berbagi kisah dengan Mas Bima. Pertemuan yang sering itu, membuat aku merasa bahwa ia adalah lelaki yang paling bisa mengerti, membuat tersenyum bahkan tertawa dengan ceritanya yang seabrek.
Kebersamaan dengannya, menyuburkan benih-benih kasih sayang di antara kami. Sungguh, aku suka caranya menyayangi, apalagi bila ia memanjakanku layaknya anak kecil.
Ia tak pernah bosan mendengar ceritaku, dari yang penting sampai yang tidak bermutu sama sekali. Kedewasaannya mampu luluhkan hati, ia juga tahu berlaku bijak saat aku ngambek. Dan paling bisa mengingatkan, bila aku malas melakukan banyak hal penting dalam hidupku.
Ah..., pokoknya aku suka cara Mas Bima menyayangi.
***
Pukul 08.00 pagi. Biasanya Mas Bima sudah ada di toko aksesoris kendaraan miliknya. Dan sebentar lagi ia pasti akan menelpon atau mengirim pesan, sekedar menyampaikan bila agak sibuk atau membuat janji untuk bertemu, di kamar rahasia kami.
Tiba-tiba beep handphone-ku berbunyi, pasti SMS dari Mas Bima. Benar saja mataku langsung berbinar dengan senyum merekah.
Buru-buru aku membukanya, tapi seketika..., mataku terbelalak tatkala melihat deretan kalimat yang baru saja terbaca. Badan lemas, rasanya bagai tak bertenaga.
Kueja lagi deretan kata-kata itu, "Mbak!! Tolong jangan ganggu keluarga kami. Mas Bima, laki-laki yang Mbak pacari itu suami saya. Anak kami sudah dua dan masih kecil-kecil. Tolong Mbak jauhi suami saya!!"
Sulit mempercayai sms ini, tidak mungkin lelaki yang begitu kharismatik di mataku itu, berbohong. Bisa saja ini kerjaan temannya yang lagi iseng mainin HP Mas Bima.
Tapi di sisi lain, hati tetap curiga bahwa SMS ini benar adanya. Aku menghela nafas panjang, menekuri lantai rumah, sambil menopangkan kedua telapak tangan ke kepala.
Ingatan tentang Mas Bima kembali menari-nari di ruang pikir. Arrgh...!!! Rasanya tak ingin ada yang merebut kebahagiaanku, dengannya.
Tak terasa bendungan air mata jebol dan mengalirkan cairan bening yang hangatkan pipi.
Aku harus klarifikasi. Keadaan ini tidak bisa membuatku terombang-ambing dalam gelombang rasa tak bertepi.
Segera kuraih handphone. Dan dengan perasaan kacau, aku baca lagi SMS tadi, lalu segera menuliskan balasan.
"Maaf, ini siapa ya? Tolong bercandanya jangan kelewatan." -Message Sent- Tulisan dari layar hp menandakan bahwa SMS telah terkirim.
Sejurus kemudian, bunyi beep menyadarkanku dari lamunan.
"Saya istrinya Mas Bima. Dan saya sama sekali tidak bercanda."
Kurasakan hati ini berdesir dan benar-benar hancur berantakan. Aku hanya bisa mendekap dada, saat kesakitan hebat, tiba-tiba menyergap tanpa ampun.
Lalu sebuah SMS kembali menyambangi HP-ku.
"Maaf ya Mbak, saya pernah mendapati SMS mbak yang isinya kata-kata mesra. Saya bisa maklum, mungkin Mbak belum tahu kalau Mas Bima sudah menikah. Makanya saya protes ke suami dan ia berjanji untuk tidak melakukan ini lagi. Tapi ternyata, saya kembali menemukan SMS serupa dari nomor Mbak, saat tadi pagi handphone yang satu ini ketinggalan di rumah. Setelah saya beritahu ke Mbak, tolong jangan berusaha lagi merebut suami orang!!"
Sempurna! SMS kali ini, benar-benar membuatku seolah tak lagi memijak bumi. Menyakitkan!
Seharian, aku hanya berkutat dengan air mata. Aku menyangka Mas Bima adalah orang yang tepat. Bisa mengangkat dari keterpurukan hati, tapi kenapa pula kejadiannya harus seperti ini?
Beberapa kali Mas Bima, mencoba menghubungiku dari nomor ponsel-nya yang lain, tapi tak pernah kuangkat. Sakit rasanya, sudah dibohongi habis-habisan seperti ini.
Tubuhku melemah, boleh jadi karena hingga menjelang malam, belum secuil makanan pun melalui tenggorokan. Entah sudah berapa SMS yang dikirim Mas Bima, menunjukkan kekuatirannya, tapi tak satu pun yang aku balas.
Malam ini, aku ingin menelpon dan mengajak Mas Bima ke kamar rahasia. Menanyakan langsung, mengenai kebenaran SMS yang dikirim tadi pagi, oleh perempuan yang mengaku istri, lelaki yang belakangan ini mengisi hari-hariku, dengan keceriaan.
Tapi baru saja aku hendak menelpon, tiba-tiba handphone-ku berdering, rupanya dari Mas Bima. Lamat-lamat kudengar suaranya mengawali pembicaraan.
"Halo, Sayang... lagi apa nih," berselang beberapa detik, aku tak mengeluarkan suara. Ia kembali bertanya menyelidik.
"Sayang, kok diem, sih?"
"Mas, udah baca belum SMS keluar dari HP satunya?" aku menimpali pertanyaannya dengan nada datar.
"Belum. Emang ada apa sih, Sayang?"
"Mas, liat sendiri aja." Suaraku agak ketus.
"HP-nya kan ketinggalan di rumah. Dan malam ini, aku nginap di toko, Sayang. Ntar ada barang yang masuk."
"Hmm..." Aku hanya bisa menggumam pelan, lalu memutuskan untuk menceritakan peristiwa siang tadi.
Tapi Mas Bima malah terkekeh, lalu berkata.
"Rara, Sayangku. Inget nggak, dulu Mas pernah ngasih tahu ke kamu, kalau mama mau menjodohkan aku dengan gadis pilihannya. Nah, boleh jadi SMS tadi hanya akal-akalan mama, biar kamu jauhin aku. Rara percaya mana, SMS yang Rara baca tadi pagi atau sama Mas?"
Hatiku melunak dan mencoba untuk lebih mempercayai kekasihku, daripada SMS yang aku baca tadi pagi. Apalagi harapan terbesarku adalah, Mas Bima tetap menjadi pacar terbaik yang tetap sayang padaku.
"Mas, sekarang juga aku tunggu di kamar rahasia, ya."
"Mas nggak bisa sekarang, sayang. Lagi agak sibuk nih. Gimana kalau kita ketemuan besok, sepulang kamu ngampus. Sayang, jangan mikir macem-macem, inget rencana besar kita kedepan. Malam ini istirahat aja dulu ya. Besok siang, kita ketemu di tempat biasa, kamar rahasia, Okey."
"Iya, Mas."
"Love you so much my Rara, Muuahh."
"Love you too, my Bima." Seperti biasa telponan diakhiri dengan ritual ekspresi, yang bisa membuat aku terbuai. Malam ini kebahagiaan bertandang ke hatiku. Senyuman, sambut aku lagi!
Setelah mengikuti perkuliahan terakhir hari ini, aku segera teringat janji bertemu dengan Mas Bima di tempat biasa. Wajahku sumringah, kamar rahasia, tunggu aku ya.
Karena kegerahan, aku melepaskan baju luar dan hanya menggunakan kaos. Sambil ngadem, aku menunggu kekasihku yang sebentar lagi menemuiku di sini, di kamar ini.
Tak berselang lama, Mas Bimaku datang dan selanjutnya tak perlu aku ceritakan, kebahagiaan seperti apa yang meliputi hati kami, saat ini!
***
Sepulang dari kampus, kuhempaskan badan ke kasur lalu mengambil HP dari saku jeans. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak bernama, aku mengangkatnya lalu sejurus kemudian...
"Rara!! Harus berapa kali sih aku ingatkan, kalau Mas Bima itu suamiku."
Selanjutnya kata-kata ketus, yang menurutku terlalu sadis, segera berentetan dari suara perempuan di seberang. Aku hanya bisa terhenyak, lalu secepatnya memutuskan panggilan. Hatiku panas mendengar tuduhannya.
Beberapa kali ia menelpon, tapi tidak kuhiraukan. HP aku diamkan lalu menenggelamkan wajah ke bantal. Pikiranku menerawang tak tentu arah.
Kulirik lagi HP yang tergeletak, notifikasi 15 kali panggilan tak terjawab dan 1 SMS muncul di layarnya. Karena penasaran aku membuka kotak masuk pesan.
"Dasar perempuan murahan!!!
Perempuan nggak tahu diri!!!
Udah dibilangin, masih aja ganggu suami orang. Sekali lagi saya ingatkan ya, jangan ganggu suami saya, perempuan ganjen!!!
Pengganggu rumah tangga orang!!!"
Sungguh, kalimat itu membuat darahku mendidih. Aku tak terima, seenaknya saja dia mengatai aku seperti itu.
Kali ini aku benar-benar marah, segera ku tekan kembali nomor yang tadi menghubungiku.
Tanpa basa-basi, kusemburkan kata-kata yang tak kalah ketus ke telinganya.
"Kamu, kalau nuduh orang kira-kira dong!! Suamimu tuh yang ganjen. Dia yang terus-terusan menggoda aku." Aku tak lagi memanggilnya Mbak.
"Hei, jaga mulutmu ya!! Awas aja, aku samperin ke tempatmu, baru tahu rasa kamu, perempuan jalang!!"
"Introspeksi diri dong, jangan-jangan kamu yang tidak tau menjaga diri, sampai suami cari perempuan lain." Suara ketusku tak mau kalah.
"Bukan urusanmu!!!" Teriakannya benar-benar memekakkan telinga. Segera kumatikan HP, lalu menghempaskannya ke kasur.
Hhh... Aku kembali cengeng! Hari ini sungguh melelahkan bagiku, seharian dijejali dengan tugas kampus yang seabrek, sampai ke rumah aku malah dapat telepon yang menyakitkan.
Masalah apa lagi yang akan aku hadapi, Tuhan! Di usiaku yang baru saja menjelang seperempat abad ini.
"Jangan hubungi aku lagi Mas Bima, simpan semua kebohonganmu dan urus saja Istrimu yang super bawel itu." Segera kukirim pesan yang baru saja selesai aku ketik, ke nomor handphone Mas Bima.
Entah berapa kali Mas Bima menghubungiku, tapi aku tak ingin meladeninya. Sampai akhirnya HP-ku diam. Sepi, sesepi duniaku!
Tak berapa lama, dalam kepenatan jiwa, lamat-lamat aku membaca SMS Mas Bima yang baru saja masuk.
"Rara sayang, Tolong maafkan Mas, ya. Mas baru menyadari... cepat atau lambat, kebohongan ini pasti akan terbongkar. Mungkin, sekarang saatnya berkata jujur. Mas benar telah menikah, tapi entah kenapa kehadiranmu memberikan nuansa baru dalam hidup. Rara sayang, Mungkin ini permohonan terakhir padamu. Please Ra, temui Mas sekarang di kamar rahasia. Mas sayang sama Rara! I will miss you so much, Baby!!"
"Gombaaalll...!!! Persetan dengan sayang!!!"
Teriakanku nyaris mengalahkan gemuruh hujan di luar, yang disertai deru angin. Tangisan pun kembali luruh membasahi bumi.
Segera aku login ke MF-SUIT, sebuah sosial media, tempat aku dan Mas Bima berkenalan, serta bertemu hampir setiap hari.
Kuketik beberapa kalimat, sebelum akun Mas Bima benar-benar aku blokir.
Mas Bima, terimakasih atas pelajaran hidup yang telah Mas berikan. Mungkin ini curhatan terakhirku.
Maafkan aku Mas. Ingin juga kukatakan sesuatu padamu. Sebenarnya akupun telah menikah, tapi satu tahun ini, harus berjuang menghadapi suami yang kerap meluruhkan duniaku, hingga ke titik nadir paling bawah. Lalu kehadiranmu dalam hidupku, bagaikan oase di padang pasir.
Caramu mencintai, mampu melambungkan duniaku, tapi itu dulu. Sebelum aku tahu kalau kamu pun PEMBOHONG!
Maaf akunmu dan kamar rahasia kita, setelah ini aku BLOKIR!!!
SELAMAT TINGGAL, MAS BIMA!!"
That's my life.
"Biarkan aku menjadikan cerita ini, sebagai pembelajaran untuk kisah cintaku, selanjutnya," gumamku dalam hening.
*The End
Note: Cerita ini hanya fiktif, jika ada kesamaan nama, tempat dan kejadian. Hal itu diluar kesengajaan penulis.
Senin, 21 April 2014
Senin, 31 Maret 2014
WEIRD BEARD
Jenggot Aneh.
perkenalkan, saya ibu rumah tangga dengan dua anak. Dua hari terakhir ini saya mempunyai kebiasaan baru yaitu ngelus-ngelus jenggot. O ya... jenggot itu kan biasanya hanya dimiliki oleh para pria? adanya di dagu, berbulu dan berwarna hitam bukan? yup benar, semua ciri-ciri itu ada pada saya kecuali satu bahwa saya ini ibu-ibu dan seorang ibu itu pastilah perempuan dan suatu keanehan jika ada perempuan yang punya jenggot, bukan? :D
Tapi ini beneran lho, makanya keanehan itulah yang jadi inspirasi tulisan ini (ceile... bahasanya :D ) dan inilah yang tidak lazim dari jenggot saya, yaitu bulunya yang berupa kulit kering berwarna hitam yang berasal dari luka tapi enak banget jika dielus-elus, dipreteli dan dicabuti, nah lho :D
Tulisan ini nggak penting banget ya :D tapi penting nggak penting, yang penting kita masih bisa tersenyum... ihihihi...
Salam Peace, Smile and Love....
Sabtu, 29 Maret 2014
Dicium pemabuk
Dhuarr. ... motorku terpental, akibat tabrakan hebat dari arah belakang, tubuhku terguling-guling, muka mencium aspal, sekuat tenaga aku berusaha menahan agar badan ini segera terhenti dari lajunya.
Beban berat di punggung yang berisi laptop 14" untuk merampungkan tugas academi KBM dan beberapa buku tebal ANPH lumayan membantu. Karena berat badanku bertumpu di punggung, maka cangklongku itulah yang pertama kali menghantam bumi, bagian depannya hancur, isinya berserakan termasuk modem yang kini tak ketahuan lagi rimbanya.
Tubuhku terhenti tepat di tengah aspal jalur propinsi Takalar-Jeneponto, beberapa mobil terlihat dari kedua arah, pelan-pelan aku beringsut ke tepi jalan, takutnya ada kendaraan lain yang ikut menyeruduk.
Sekilas aku melihat laki-laki yang menabrakku dengan motornya tergeletak tak bergerak di seberang jalan, semoga dia tidak mati, begitu doaku dalam hati.
Orang-orang berdatangan dan menolong, tak berselang lama seorang polisi datang dan melaporkan bahwa yang menabrakku tadi dalam keaadaan mabuk, dari mulutnya yang berbau minuman keras, terlihat beberapa gigi copot dan menyisakan banyak darah. Kmarin sore itu, rupanya motorku dicium pemabuk.
Mungkin aku harus istirahat, ampunkan hamba ya Allah.
Pagi, pekan terakhir di bulan Maret 2014
Senin, 24 Maret 2014
Prinsip-Prinsip Menulis Fiksi
In Angkatan I, In Denny Prabowo, In Materi MenulisMinggu, 22 Agustus 2010
Oleh Denny PrabowoDuduk dan lakukan! Begitu nasihat Josip Novakovich dalam bukunya, Berguru kepada Sastrawan Dunia. Masalahnya apa yang harus dilakukan kalau tidak ada ide untuk dituliskan? Mungkin itu pertanyaan yang segera muncul di kepala kamu. Suatu kali teman saya, penulis cerpen di majalah remaja, bertanya seperti ini, “Apakah kamu pernah merasa takut kehabisan ide?” Hmm … rasanya saya lebih takut kehabisan waktu dan motivasi untuk menulis daripada takut kehilangan ide. Bahkan seringkali saya kesulitan menulis, justru karena begitu banyak ide yang berebut minta dituangkan menjadi sebuah cerita. Yup, ide itu ada di sekitar kita. Terkadang ada di dalam diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lebih suka mencari-cari semut di seberang lautan, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Lalu bagaimanakah caranya agar gajah di pelupuk mata itu dapat terlihat? Apa yang harus dilakukan, agar kita tak perlu mencari-cari semut di seberang lautan, dan membuat semut-semut itu merubungi kita? Berikut ini prinsip-prinsip yang dapat kamu terapkan dalam mengelola ide menjadi sebuah fiksi.
Prinsip #1: Penulis yang baik adalah pengamat yang baik Seorang penulis sudah semestinya adalah seorang pengamat. Penulis yang baik adalah pengamat yang baik. Pengamat yang baik haruslah memiliki kepekaan dan ketertarikan pada segala hal. Ketertarikan seorang penulis pada objek yang dianggap remeh dan biasa oleh sebagian orang, membuatnya tak akan pernah kehabisan cerita. Seperti menimbun ide di lumbung imaji. Seorang teman di FLP pernah mengatakan pada saya, kalau dia tidak suka menulis tentang terminal dan pasar karena menganggap tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan. Bagaimana kita dapat menjadi pengamat yang memiliki kepekaan jika kita membatasi ketertarikan pada sesuatu? Padahal, menjadi pengamat yang baik adalah kunci menjadi penulis yang baik, yang dengannya kita tak akan pernah kehabisan ide cerita untuk dituliskan. Mulai sekarang buka mata dan telinga. Perhatikan sekitar kamu. Apakah ada yang bisa kamu tuliskan? Jangan melakukan pemilahan berdasarkan kemenarikan. Karena yang kamu anggap tidak menarik, bisa jadi sangat menarik bagi orang lain. Cobalah belajar untuk mencari hal menarik dari sesuatu yang selama ini kamu anggap tidak menarik. Jika prinsip pertama ini kamu jalankan, kamu tak akan pernah kehabisan bahan cerita untuk dituliskan.
Prinsip #2: Realitas sebagai bahan mentah Setelah novel remaja pertama saya, Pemuda dalam Mimpi Edelweiss (Lingkar Pena Publishing House, 2006) diterbitkan, banyak pembaca yang bertanya pada saya melalui email atau ponsel: “Apakah karya itu berdasarkan kisah nyata?” Novel itu bercerita tentang seorang gadis pendaki bernama Edelweiss. Bukan kebetulan jika saya juga sering naik gunung. Maka banyak pembaca mengira, tokoh Fajar (kakaknya Edelweiss) dalam novel itu tak lain adalah diri saya sendiri. Dan Edelweiss adalah penjelmaan dari adik saya. Kebetulan memang saya dua bersaudara. Dan kebetulan pula adik saya perempuan. Hanya saja, adik saya bukan seorang pendaki, bahkan seumur hidupnya belum pernah mendaki gunung. Kehidupan adik saya jauh dari dunia pendakian. Kalau begitu, bagaimana tokoh Edelweiss itu bisa hadir? Kalau Plato beranggapan bahwa sastra dan seni hanya peniruan, peneladanan, atau pencerminan dari kenyataan, Aristoteles di pihak lain, beranggapan bahwa dalam proses penciptaan, sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah “dunia” dengan kekuatan kreativitasnya. Dunia yang diciptakan pengarang adalah sebuah dunia yang baru, dunia yang diidealkan, dunia yang mungkin dan dapat terjadi walau sebenarnya tidak pernah terjadi. Pendapat Aristoteles ini menjelaskan pada kita, mengapa novel fiksi yang saya tulis, membuat pembaca menduga kalau karya itu ditulis berdasarkan kisah nyata saya. Realitas di dalam dunia fiksi hanyalah bahan mentah untuk mengkreasi “dunia baru”, yaitu dunia fiksi. Prinsip yang kedua ini, realitas atau kenyataan hidup yang kita alami bukanlah cerita yang sudah jadi, tetapi bahan mentah. Kita perlu mengolah bahan itu agar menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dinikmati.
Prinsip #3: Buku kecil seorang penulis Berapa usiamu sekarang? 13 tahun? 17 tahun? Atau 21 tahun? Sepanjang kehidupan kamu, sejak dari dalam kandungan sampai pada usiamu yang sekarang adalah kenyataan hidup. Apa saja yang kamu ingat dari perjalanan panjang kehidupanmu itu? Mungkin tidak banyak. Ingatan seringkali melakukan proses seleksi terhadap pengalaman atau realitas yang dialami oleh seseorang. Akibatnya, tak banyak yang kita ingat. Padahal, seandainya kamu mampu mengingat atau mengetahui keseluruhan perjalanan hidupmu, betapa kamu telah menimbun ide di lumbung imaji. Kamu akan memiliki bahan mentah untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita. Oleh sebab itu, diperlukan sarana yang dapat menampung pengalaman kamu (baik itu pengalaman empiris, pengalaman membaca, atau pengalaman menonton). Semacam buku catatan untuk menampung segala yang pernah kamu lihat, kamu dengar, atau kamu pikirkan. Tuliskan saja semua yang muncul tanpa mencemaskan apakah hal itu merupakan ide yang baik atau buruk. Tuliskan saja semuanya tanpa melakukan proses seleksi seperti yang dilakukan oleh ingatan kita. Jika kamu malas mencatatnya atau malas membawa-bawa buku catatan, mengapa kamu tidak mencobanya dengan alat perekam? Prinsip yang ketiga ini, mulailah melakukan pengamatan dan catatlah!
Prinsip #4: Bagaimana jika…? Setelah kamu memiliki banyak bahan mentah, apakah kamu masih kesulitan untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita fiksi? Apa yang membuat kamu kesulitan? Apakah karena pengalaman-pengalaman yang berhasil kamu catatkan dalam buku catatanmu itu tidak cukup menarik? Apabila masalah itu yang kamu hadapi, maka prinsip keempat ini akan membantumu untuk mengembangkan cerita dari pengalaman yang kamu anggap kurang menarik. Mungkin kamu terlalu membatasi idemu pada kehidupan nyata. Kamu hanya menuliskannya sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ingat, kita akan menulis fiksi, bukan sebuah reportase. Apakah pengalaman melihat seekor anjing mengorek-ngorek sampah cukup menarik? Jika jawabanmu “tidak”, maka yang perlu kamu lakukan adalah mencoba untuk mengajukan pertanyaan sederhana ini: bagaimana jika saat mengorek-ngorek sampah, anjing itu menemukan seorang bayi menangis dalam kardus? Lihat, bagaimana pertanyaan sederhana itu mampu membuat peristiwa yang tidak menarik menjadi memiliki nilai konflik atau permasalahan yang cukup besar. Setiap jawaban yang kamu pilih dari pertanyaan sederhana itu, akan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Dan jika keseluruhan pertanyaan itu telah kamu jawab, sebuah cerita siap kamu tuliskan. Menulis fiksi adalah proses menemukan sebuah kemungkinan. Prinsip yang keempat adalah kamu perlu memperbesar kemungkinan dengan mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana jika…?
Prinsip #5: Mari berimajinasi Prinsip ini merupakan prinsip terpenting yang mutlak harus dimiliki oleh seorang penulis fiksi. Suatu kali dalam milis kepenulisan, mengemuka wacana: apakah menjadi penulis itu merupakan bakat? Pendapat dalam milis itu terbagi tiga kelompok. Kelompok pertama memercayai bahwa bakat mutlak diperlukan. Kelompok kedua menganggap proses latihan yang akan menentukan seseorang menjadi penulis. Kelompok terakhir, mereka yang memilih berada di tengah-tengah: bakat dan latihan diperlukan. Saya tidak akan meminta kamu memilih mana pendapat yang paling tepat. Yang ingin saya katakan adalah tidak satu pun dari ketiga kelompok itu, yang memperhitungkan imajinasi sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki seorang penulis. Yup! Imajinasi. Meski kamu memiliki bakat dan rajin berlatih menulis fiksi, tanpa imajinasi kamu hanya mungkin menulis sebuah reportase—bahkan penulisan sebuah reportase pun membutuhkan imajinasi. Seorang penyair bernama Cecep Syamsul Hari, dalam “Puisi dan Yang Lain” (Majalah Horison Tahun XLII, No.8/ Agustus 2007: 5) mengatakan, “Imajinasi bukanlah mimpi atau fantasi. Ia adalah kualitas untuk menghadirkan realitas yang dialami (experienced-reality) dan realitas yang ditafsirkan (interpreted-reality) yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Dalam bahasa sederhananya, imajinasi merupakan kemampuan menghadirkan realitas dalam citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, perabaan, dan citraan kinestetik atau gerak. Kamu mungkin telah berhasil menyusun plot melalui prinsip kelima (baca: bagaimana jika…?). Namun, untuk membuat gambaran utuh, kamu membutuhkan imajinasi. Imajinasi yang akan membentuk plot itu menjadi rangkaian peristiwa yang mewujud dalam latar, tokoh, dan adegan yang dapat diasosiasi pembaca.
Prinsip #6: Ayo membaca! Suatu ketika dalam talkshow kepenulisan, saya pernah ditanya oleh peserta yang hadir, “Bagaimana cara mengatasi kemacetan dalam menulis?” Katanya lagi, “Saya suka menulis, tapi tidak suka membaca.” Penanya itu sudah menjawab sendiri pertanyaannya. Kemacetannya dalam menulis atau mengembangkan ide cerita karena ia tidak suka membaca. Ada penulis yang tidak mau membaca karya fiksi penulis lain karena menurutnya, hal itu akan membuat karyanya jadi terpengaruh oleh karya orang. Akibatnya, karyanya jadi tidak orisinal. Kalau ia tak pernah membaca karya orang, bagaimana dia berani menjamin bahwa karya yang ditulisnya itu orisinal, alias belum pernah ditulis oleh orang lain? Penulis yang berpendapat seperti itu, sesungguhnya tengah mengurung dirinya dalam sebuah kotak. Lagipula, apa sih yang bisa dikatakan orisinal di dunia yang renta ini, kalau untuk menguburkan jasad Habil, Qabil harus meniru seekor burung? Tidak ada ide yang benar-benar orisinal, yang ada hanyalah cara menceritakan yang berbeda. Dan untuk menemukan cara menceritakan yang berbeda, kamu harus membaca. Hanya dengan membaca, kamu bisa menemukan perbedaan yang dapat kamu kembangkan menjadi ciri khas kamu! Menulis merupakan saudara kembar membaca. Tanpa membaca, kamu akan kesulitan mengembangkan ceritamu. Sebagai contoh, kamu ingin menulis cerita tentang pendakian, padahal kamu sendiri belum pernah melakukan pendakian. Jika kamu tidak membaca buku-buku tentang pendakian, bagaimana cara kamu menceritakannya? Atau kamu ingin menulis cerita dengan tokoh seorang dokter. Sementara kamu tidak mengetahui kehidupan seorang dokter. Lalu bagaimana cara kamu menceritakannya? Mungkin kamu bisa mengatakan, “Kita kan cukup mengkhayal menjadi seorang dokter!” Nah, karya fiksi semacam inilah yang bisa disebut sebagai kebohongan. Apa yang bisa diceritakan tentang seorang dokter oleh penulis yang tidak mengetahui dunia kedokteran, jika bukan kebohongan? Sebagai penulis, kamu tidak perlu menunggu menjadi ahli di bidang kedokteran untuk menulis cerita tentang dokter. Kamu hanya perlu menerapkan prinsip keenam ini: ayo membaca!
Prinsip #7: Mulai menulis Menulis, menulis, dan menulis! Begitu nasihat tiap pengarang yang ditanya bagaimana cara menulis sebuah fiksi. Semua prinsip-prinsip yang telah dipaparkan di atas, hanya akan menjadi omong kosong, jika kita tidak memulai untuk menulis. Kamu tidak mungkin dapat berenang, walau semua teori tentang renang sudah kamu pelajari dan pahami, jika kamu tidak pernah nyebur ke dalam kolam renang! Namun, apabila dalam proses penulisan kamu mengalami kemacetan imajinasi, alias tidak mampu menghadirkan gambaran atau citraan dari peristiwa-peristiwa yang ingin kamu rangkai menjadi cerita, kembalilah pada prinsip nomor tiga. Buka catatan atau rekaman pengalaman kamu. Apakah ada yang bisa kamu ambil untuk menggambarkan peristiwa yang kamu inginkan? Jika cara itu juga tidak mendatangkan hasil, maka gunakan prinsip keenam: ayo membaca. Boleh jadi, kemacetan kamu disebabkan minimnya kosakata kamu untuk menampilkan citraan dalam latar, tokoh, dan adegan. Atau kamu belum memahami tema yang ingin kamu tulis.
Prinsip #8: Berdiskusi, yuk! Kamu sudah berhasil menulis cerita? Apakah kamu merasa puas dengan hasil karyamu? Tunggu dulu! Jangan terburu-buru mengirimkannya ke majalah atau koran. Apalagi mengirimkannya ke editor penerbitan. Cobalah untuk menunjukkannya ke teman-temanmu. Mintalah mereka membaca karyamu. Bagaimana pendapat mereka setelah membacanya? Apakah mereka tertarik? Atau mereka mengkritik? Bagian mana yang mereka tidak suka? Mana yang menurut mereka bagus untuk dikembangkan? Diskusikan, yuk! Jangan dulu buang karyamu ke tong sampah jika lebih banyak kritik yang kamu terima dari pada pujian. Minta masukan dari teman-temanmu. Kamu bisa mencoba merevisi karyamu sesuai masukan dari temanmu. Namun, jika hasilnya belum juga memuaskan, simpan karyamu. Suatu saat nanti, karya itu akan jadi harta yang tak ternilai. Saya selalu menyimpan karya-karya yang saya anggap “gagal”. Jika jam terbang menulis kamu sudah cukup tinggi, coba tengok kembali karya-karya itu. Boleh jadi bukan karena idenya tidak menarik, melainkan karena kemampuan kita yang belum matang. Prinsip ini tidak selalu berhasil jika kamu tidak memiliki teman-teman yang tertarik dengan dunia fiksi. Untuk itu kamu perlu bergabung dalam satu komunitas menulis. Kamu perlu memiliki teman-teman yang punya ketertarikan yang sama denganmu. Saat ini, komunitas menulis sudah sangat banyak dibanding ketika saya pertama kali belajar menulis fiksi. Selain sebagai kebutuhan untuk diskusi, komunitas juga sangat berguna untuk memotivasi kamu.
***
Duduk dan lakukan! Apakah nasihat Novakovich itu masih terdengar
bombastis bagi diri kamu? Sekarang kamu sudah tahu prinsip-prinsipnya.
Itu merupakan modal awal bagi kamu untuk masuk ke dunia fiksi. Sebuah
dunia yang menawarkan banyak kemungkinan. Dunia rekaan yang bermuasal
dari tiruan realitas yang telah mengalami proses pengendapan dalam diri
penulis, sebelum melakukan proses pengimajinasian dan melahirkan dunia
dalam kata. Selamat memasukinya!Sumber: www.flpdepok.org
KBM ACADEMY LEVEL 5
Dua Kata Ajaib
Baru saja kuraih ujung slang, hendak menyiram tanaman pagi ini, tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangisan seorang Ibu, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Sambil pura-pura asik menyiram tanaman, aku menguping kalimat-kalimat yang mengalir diantara tangisnya. Ternyata anaknya, telah di-Drop Out dari kampus lantaran kuliahnya tidak selesai, sampai batas waktu yang ditentukan. Nalarku spontan teringat dua kata ajaib, yang bila saja diaplikasikan oleh si anak, boleh jadi perkuliahannya tidak mandek di tengah jalan.
Membaca judul tulisan ini, mungkin akan muncul pertanyaan di benak pembaca, mengenai seajaib apakah kedua kata tersebut? Dan seberapa besar pengaruhnya dalam pencapaian kesuksesan di setiap urusan?
Layaknya pertunjukan sulap yang menggunakan media untuk menampilkan kejadian-kejadian ajaib dan kadang sulit dipercayai oleh penglihatan, maka seperti itu pula keberadaan kedua kata ini, akan nampak ajaib jika dimanfaatkan oleh seseorang yang paham makna serta bagaimana memberdayakannya dalam kehidupan.
Disiplin adalah kata ajaib yang pertama, berasal dari bahasa Latin dari kata “discipline” yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada tiga makna: (1) tata tertib (di sekolah, kemiliteran dst); (2) ketaatan kepada peraturan (tata tertib dst); (3) bidang study yang memiliki objek sistem dan metode tertentu.
Dari beberapa pengertian disiplin, maka penulis bisa menyimpulkan bahwa disiplin adalah suatu sikap yang di tunjukkan oleh seseorang dalam menaati segala peraturan yang diyakininya dan dilakukan secara sadar serta senang hati, sehingga perasaannya tidak nyaman jika tidak melakukan hal itu.
Kata ajaib yang kedua adalah 'fokus.'
Setelah berhasil mendisiplinkan diri, ada satu lagi kata ajaib yang butuh pembuktian agar pencapaian kesuksesan bisa semakin terarah.
Fokus diartikan sebagai konsentrasi penuh terhadap satu tujuan, maka tujuan dari setiap perbuatan menjadi hal pertama yang harus ditentukan, kemudian arahkan potensi diri untuk tujuan tersebut.
Lebih gamblangnya, fokus merupakan kemampuan berkonsentrasi pada sebuah obyek tanpa menambahkan hal-hal lain yang akan mengurangi bahkan menghilangkan kepekatan konsentrasi. Intinya, fokus yang baik, dihasilkan dari semangat atau daya juang yang kuat serta obyek yang tertarget, apapun rintangannya.
Keajaiban kedua kata ini akan nampak ketika seseorang telah lihai mengamalkannya, mematri kuat dalam hati, lalu mampu menerapkan dalam aktifitasnya.
Contoh kasus kecil diatas bisa mencerminkan, seandainya si anak menanamkan sikap disiplin dalam keseharian, menaati tata tertib atau peraturan dikampus secara tepat serta fokus pada tujuan yang hendak diraih, maka tentu saja surat DO tidak akan didapatkannya.
Dapat dipastikan seorang yang telah sukses mencapai cita-citanya, karena telah mengamalkan kombinasi kedua kata ajaib dengan cara yang tepat.
wallahua'lam.
Sumber:
www.wikipedia.com, diunggah tanggal 20 Maret 2014
www.kbbi.com, diunggah tanggal 23 Maret 2014
Dua Kata Ajaib
Baru saja kuraih ujung slang, hendak menyiram tanaman pagi ini, tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangisan seorang Ibu, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Sambil pura-pura asik menyiram tanaman, aku menguping kalimat-kalimat yang mengalir diantara tangisnya. Ternyata anaknya, telah di-Drop Out dari kampus lantaran kuliahnya tidak selesai, sampai batas waktu yang ditentukan. Nalarku spontan teringat dua kata ajaib, yang bila saja diaplikasikan oleh si anak, boleh jadi perkuliahannya tidak mandek di tengah jalan.
Membaca judul tulisan ini, mungkin akan muncul pertanyaan di benak pembaca, mengenai seajaib apakah kedua kata tersebut? Dan seberapa besar pengaruhnya dalam pencapaian kesuksesan di setiap urusan?
Layaknya pertunjukan sulap yang menggunakan media untuk menampilkan kejadian-kejadian ajaib dan kadang sulit dipercayai oleh penglihatan, maka seperti itu pula keberadaan kedua kata ini, akan nampak ajaib jika dimanfaatkan oleh seseorang yang paham makna serta bagaimana memberdayakannya dalam kehidupan.
Disiplin adalah kata ajaib yang pertama, berasal dari bahasa Latin dari kata “discipline” yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada tiga makna: (1) tata tertib (di sekolah, kemiliteran dst); (2) ketaatan kepada peraturan (tata tertib dst); (3) bidang study yang memiliki objek sistem dan metode tertentu.
Dari beberapa pengertian disiplin, maka penulis bisa menyimpulkan bahwa disiplin adalah suatu sikap yang di tunjukkan oleh seseorang dalam menaati segala peraturan yang diyakininya dan dilakukan secara sadar serta senang hati, sehingga perasaannya tidak nyaman jika tidak melakukan hal itu.
Kata ajaib yang kedua adalah 'fokus.'
Setelah berhasil mendisiplinkan diri, ada satu lagi kata ajaib yang butuh pembuktian agar pencapaian kesuksesan bisa semakin terarah.
Fokus diartikan sebagai konsentrasi penuh terhadap satu tujuan, maka tujuan dari setiap perbuatan menjadi hal pertama yang harus ditentukan, kemudian arahkan potensi diri untuk tujuan tersebut.
Lebih gamblangnya, fokus merupakan kemampuan berkonsentrasi pada sebuah obyek tanpa menambahkan hal-hal lain yang akan mengurangi bahkan menghilangkan kepekatan konsentrasi. Intinya, fokus yang baik, dihasilkan dari semangat atau daya juang yang kuat serta obyek yang tertarget, apapun rintangannya.
Keajaiban kedua kata ini akan nampak ketika seseorang telah lihai mengamalkannya, mematri kuat dalam hati, lalu mampu menerapkan dalam aktifitasnya.
Contoh kasus kecil diatas bisa mencerminkan, seandainya si anak menanamkan sikap disiplin dalam keseharian, menaati tata tertib atau peraturan dikampus secara tepat serta fokus pada tujuan yang hendak diraih, maka tentu saja surat DO tidak akan didapatkannya.
Dapat dipastikan seorang yang telah sukses mencapai cita-citanya, karena telah mengamalkan kombinasi kedua kata ajaib dengan cara yang tepat.
wallahua'lam.
Sumber:
www.wikipedia.com, diunggah tanggal 20 Maret 2014
www.kbbi.com, diunggah tanggal 23 Maret 2014
Kamis, 13 Maret 2014
°Nestapa Cinta°
Ingatkah?
Ketika asa bersambut, hantarkan persuaan kasih
Pun tiada aral yang menyanggah
Untuk menghalau rasa itu membaur di satu titik
Aku, kamu ... lalu kita terbuai dalam pasrah!
Pun tiada aral yang menyanggah
Untuk menghalau rasa itu membaur di satu titik
Aku, kamu ... lalu kita terbuai dalam pasrah!
Selaksa kisah luapkan cinta dengan piawai
tanpa ragu telah menyemai kalbu
Indah laksana puspa bermekar di taman hati
Tatkala asa rela menyulam rindu
Indah laksana puspa bermekar di taman hati
Tatkala asa rela menyulam rindu
Lalu jagad bertasbih khusyuk
Ikrarkan pertautan raga dalam saksi
Hadirkan rinai yang begitu syahdu
Bahkan cakrawala pun takzim tiada sangsi
Ikrarkan pertautan raga dalam saksi
Hadirkan rinai yang begitu syahdu
Bahkan cakrawala pun takzim tiada sangsi
Itu awal pengembaraan rasa berkawan mimpi
Lalui badai hidup berkalang dalam jasad
Tiada jeda lagi untuk menuai kasih
Hanyalah kalut pias menghempas
Lalui badai hidup berkalang dalam jasad
Tiada jeda lagi untuk menuai kasih
Hanyalah kalut pias menghempas
Mana … mana janji yang pernah kau semai?
Mana cinta yang usai kau tulis?
Dalam kitab hati yang dulu terpatri rapi
Semua kini berbalut selimut sedih
Mana cinta yang usai kau tulis?
Dalam kitab hati yang dulu terpatri rapi
Semua kini berbalut selimut sedih
Serangkai hikayat lebur dalam ketakpastian
Hadirkan bebilur rasa yang hebat
Menikam, menohok kuat dalam lara
Mencekam rasa tiada jera
Hadirkan bebilur rasa yang hebat
Menikam, menohok kuat dalam lara
Mencekam rasa tiada jera
Bahkan pekat malam tak menafikan
Hadirkan jua deraian air mata pilu
Merembes hebat dalam sepinya hati di tepian
Tapi engkau tetap dalam angkuhmu
Hadirkan jua deraian air mata pilu
Merembes hebat dalam sepinya hati di tepian
Tapi engkau tetap dalam angkuhmu
Kini kau sisakan luka cinta tiada terperih
Dalam kalbu yang masih mendamba
Pada janjijanji suci
Yang tertuang dalam kisah usang
Dalam kalbu yang masih mendamba
Pada janjijanji suci
Yang tertuang dalam kisah usang
Aduhai derita hati tak terwakilkan dalam kata
Bahkan dalam ejaan sajak
Baitbaitnya luruh tiada daya
Terhempas kuat mencengkram duka
Bahkan dalam ejaan sajak
Baitbaitnya luruh tiada daya
Terhempas kuat mencengkram duka
Oh, cinta mengerang jua menuai luka
Kelam mengemas remas airmata
Lalu akan kemana hendak menambatkan
Nestapa cinta tak bertahta.
Kelam mengemas remas airmata
Lalu akan kemana hendak menambatkan
Nestapa cinta tak bertahta.
Rabu Sore, 050314
=YOU ARE MY EVERYTHING=
Selaksa tanya tiba-tiba menyeruak memenuhi ruang nalarku, duh Gusti Allah... Kenapa pertanyaan aneh ini menyerbu, ketika memandang wanita yang tengah terbaring lemah dalam tidur, kerutan mulai menggaris di wajahnya, tapi bias kecantikan masih saja terlukis dalam rupa yang kini menirus. Perlahan kubelai lembut rambutnya.
"Mama, cepat sembuh ya," gumamku perlahan nyaris tanpa suara. Mataku menghangat hingga tak terasa, menetes buliran bening. Kelopak mata mama membuka sedikit, lalu pelan menoleh kearahku.
"Mama, maafin kakak udah gangguin tidurnya mama."
"Enggak Kak. Mama emang udah pengen bangun. Eh, Kakak nangis ya sayang?" Tanya mama karena melihat mataku memerah.
"Enggak kok, Ma." Sambil tersenyum, buru-buru kuseka pipi dengan kedua punggung tangan.
"Mama, nggak apa-apa, Kak. Mama hanya kelelahan saja, hingga nge-drop kayak gini."
"Mama cepat sembuh dong."
"Pasti, sayang."
"Kak, Adik mana ya?"
"Adik baru saja pulang, Ma. Katanya ntar sore dia kesini lagi."
"Adikmu sudah makan, Nak?"
"Sudah Ma, tadi kakak bawa makanan dari rumah."
"Syukurlah, trimakasih ya Kak. Kakak sudah bantu mama."
"Mama kan lagi sakit, jadi urusan rumah tanggung jawab Kak Rini dong."
"Ah kakak sekarang sudah dewasa, mama bangga sama kakak." Senyum bahagia tersungging di bibir kami.
Sejak kematian papa empat tahun yang lalu, Setiap hari, mama lebih sering naik motor sendiri ke sekolah tempatnya mengajar. kadang-kadang hati ini terenyuh melihat perjuangan mama sebagai single parent. Akhir-akhir ini, ada beberapa pria yang berniat melamar mama, tapi ketika mama memberitahukan hal itu, aku selalu diam dan biasanya beralasan mau belajar agar bisa segera berlalu dari hadapannya. Padahal wajar saja jika mama masih ingin menikah di usianya yang masih 37 tahun. Untuk membantu mama memenuhi kebutuhan aku dan adik Reza, maka kuputuskan untuk mengelola warung kecil-kecilan di depan rumah. Meski tak jarang, mama yang membuka warung jika lebih dahulu sampai ke rumah, setelah mengajar di Sekolah Dasar Budi Mulia yang terletak empat kilometer dari rumah kami.
***
"Mbak Rini, ini resep yang harus mbak tebus," jelas seorang suster ketika aku sengaja ke ruang jaga mereka untuk mengambil resep obat untuk mama.
"Makasih ya, Suster" imbuhku, lalu segera berlalu dari tempat mereka. Belum beberapa meter aku melangkah tiba-tiba seorang suster memanggil.
"Mbak Rini," panggilan itu memaksa aku segera menoleh ke arah suster yang memanggil.
"Iya, Suster"
"Mbak Rini, dipanggil ke ruangan dokter Richie," lanjutnya.
Deg..., dadaku langsung berdesir, seketika aku mengingat mama. Dokter pasti akan membicarakan perihal penyakit mama.
Tok tok tok, perlahan aku mengetuk ruangan bernuansa putih itu.
"Permisi, Dok."
"Iya silahkan masuk." seorang asisten pria, membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.
"Anaknya Bu Rara ya? Mari silahkan duduk Mbak."Ajakan yang ramah itu, tak cukup menenangkan pacu jantungku.
"Makasih, Dok" jawabku dengan senyum hambar, lalu segera duduk dihadapan meja dokter.
"Begini mbak, ibu mbak sepertinya kecapaian, yang menyebabkan kondisi badan beliau melemah," dokter Richie menjelaskan dengan hati-hati.
"Mm… bisa saya tanya sesuatu ke mbak?" lanjutnya.
"Bisa, Dok" jawabku segera.
"Tapi saya mohon, mbak tidak terkejut sebab semua penyakit insyaallah ada obatnya" kalimat dokter itu semakin membuat aku penasaran.
“Memangnya ibu saya sakit apa ya, Dok?”
"Apakah selama ini, ibu mbak sering mengeluh sakit di perut bagian bawah?"
“Pernah beberapa kali, Dok.”
Setelah kami melakukan pemeriksaan, kami menemukan bahwa ibu Mbak, terkena gejala kanker mulut rahim, atau dalam istilah kedokteran sering juga disebut dengan kanker serviks."
"A-apa Dok?" aku tersentak kaget, bagai tidak yakin dengan pendengaranku sendiri.
"Kanker mulut rahim, Mbak. Tapi mbak nggak perlu kuatir, insyaallah ibunya masih bisa sembuh, yang penting bu Rara bisa menghindari makanan pantangan, tetap menjaga kebersihan dan meminum obat yang dianjurkan.”
Suara dokter lamat-lamat menjelaskan, tapi konsentrasiku buyar, perhatianku tidak tertuju pada kalimat dokter, yang aku pikirkan kenapa mama sampai mengidap penyakit aneh itu. Ingatanku lalu berhenti disatu titik, pada pikiran yang entah benar atau salah, tiba-tiba aku menghubungkan penyakit mama dengan lelaki yang belakangan ini sering kirim pesan ke akun FB yang dulu aku buatkan untuknya. Aku marah, sangat marah. Berbagai penjelasan dokter tak banyak yang singgah di benakku, emosiku kian menjadi!
Aku berjalan lunglai ke ruangan, dimana mama sedang tertidur. Hatiku sungguh lelah!
Hari keempat di rumah sakit, kondisi mama telah membaik. kata dokter pukul 10.00 pagi ini, mama sudah bisa kembali ke rumah. Aku mengemasi barang-barang, ketika mama yang duduk di tepi ranjang menyapa.
"Kakak kelihatannya lemes banget, kakak sakit ya?"
"Enggak kok Ma, kakak nggak sakit. Mungkin karena tidurnya aja yang kurang nyenyak selama di rumah sakit ini," aku mencoba menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada mama.
"Kakak minum madu, biar nggak loyo." tatapan mama yang sendu, membuat aku bangkit dan segera mengikuti anjurannya.
"Iya, Ma." ujarku sambil mengambil sesendok madu.
***
Hari ini mama mulai mengajar lagi, setelah beristirat selama dua hari sekeluarnya dari rumah sakit. Tepat jam 07.00 WIB mama dan dik Reza, sudah meninggalkan rumah.
Aku juga sudah siap hendak berangkat ke kampus, kubaca sekali lagi surat ringkas yang baru saja kutulis.
Mama,
Kakak nginap di rumah teman, beberapa hari untuk menenangkan hati.
Kak Rini.
Kusimpan lembaran itu di meja kerja mama, sambil menarik napas panjang. pikiran-pikiran buruk tentang mama masih saja bergelayut di otakku. Net book dan beberapa potong baju sudah siap di tas cangklong yang agak besar, aku ingin nginap di rumah Gita untuk beberapa hari.
Di kampus, sahabatku Gita sampai menyelidiki bawaanku yang tidak biasanya sebanyak itu.
"Mau minggat ya, Rin?" serta merta Gita memegangi dan menilik tas yang tergeletak pasrah di kursi yang ada di dekatku.
"Enggak kok, aku pamit sama mama."
"Jangan-jangan kamu mau kawin lari nih? Sama siapa? Beritahu dong,” cerocos Gita gencar bagai kendaraan yang remnya lagi blong.
"Ha... kawin lari? Apaan tuh?"
"Itu lho, kawin tapi sambil lari-larian." Terdengar tawa renyahnya memenuhi ruangan perkuliahan.
"Hadeuh, ngawur kamu Git, aku hanya pengen menjauh aja dari rumah, beberapa saat."
"Lho... Ada apa? Kamu marahan sama mamamu?"
"Enggak kok, hubungan aku dan mama baik-baik saja, ntar aja aku ceritain asal ijinkan aku nginap beberapa hari di rumahmu."
"Okey Cah ayu, lagian tumben-tumbenan kamu pamitan mau nginap di rumah, biasanya juga, langsung datang, iya kan?"
"Tapi kali ini aku nginapnya beberapa hari, bisa ya?"
"Iya... Iya, asal kamu nggak ngompol aja, aku siap menerima kamu kapanpun" Gita mengucapkan itu disertai gelak tawa khasnya.
"Asem kamu, Git! masa cewek manis dan wangi gini, ngompol sih. Amit-amit deh."
"Huu... kepedean kamu Rin." Kita berdua tertawa, tapi kemudian diredakan oleh kehadiran dosen killer pada jam pertama.
Setelah perkuliahan usai, aku dan Gita beriringan ke tempat parkir, akan menuju ke rumahnya.
***
Baru saja, aku hempaskan badan ke kasur empuk di kamar Gita, tiba-tiba hape-ku berdering, segera kuambil HP dari saku jeans, ternyata telepon dari mama, aku tidak menjawab panggilan itu, melainkan aku biarkan benda itu terus bergetar dan melantunkan reff lagu 'trouble', hingga akhirnya berhenti sendiri. Aku belum siap berbicara dengan mama, sungguh... rasanya saat ini, aku kehilangan kata untuk menjelaskan kenapa jadi sangat marah ke mama. Pelan-pelan kelopak mataku menutup hendak menjemput mimpi-mimpi indah yang hanya ada dalam bunga tidur.
Setelah makan malam, aku iseng membuka akun facebook. Ada pesan dari mama, segera aku klik ikon amplop yang ada di sudut atas layar handphone.
‘Dear Kak Rini,
Mama mohon maaf, sekiranya ada sikap mama yang tidak kakak sukai, hanya saja mama benar-benar nggak paham kenapa Kakak jadi marah seperti ini, padahal mama nggak tahu apa kesalahan yang sudah mama lakukan ke kamu, Nak!
Plis beri penjelasan, biar mama bisa memperbaiki diri, dan tidak bingung seperti ini. Mama sayang banget sama kakak, hanya kepadamu Mama tumpukan segala harapan, Nak.
Kakak, pulang ya... Kasihan Dik Reza nggak ada teman main.
Mama sayang banget sama Kakak'
Deg…. Entah knapa, tiba-tiba kesedihan menyeruak di relung hatiku. Notifikasi dari FB aku buka tanpa bersemangat merespon balik, malah jempolku tergerak membuka tab baru lalu mengetik kata 'kanker serviks' dari kolom pencarian di google. Ada banyak informasi yang aku dapatkan, salah satunya aku tahu bahwa kanker serviks itu tidak selamanya disebabkan oleh hubungan sex yang tidak dibenarkan. aku juga baru ingat kalau nenek meninggal karena kanker. dan boleh jadi, itu salah satu penyebab kenapa mama mengidap penyakit yang sama. Sungguh, aku jadi merasa bersalah, telah berpikiran buruk kepada mama, dan menelpon mama pada jam-jam seperti ini pasti hanya akan mengganggu tidurnya.
Ah, mendadak aku menjadi cengeng, tak terasa ada airmata yang mengalir di pipi. Maafkan Kak Rini ya Ma. Rini janji setelah ini akan menjaga mama dengan baik dan akan rutin menjerang daun sirsak untuk mengobati penyakit mama.
Besok pagi aku harus menemui mama dan minta maaf kepada beliau, tekadku dalam hati. Malam yang kian larut, mengantarku lelap dalam tidur dengan mata yang sembab.
***
Tepat pukul 07.15 Wib, aku dan Gita sudah siap berangkat, ketika tiba-tiba handphone-ku berdering.
"Telepon dari siapa Rin?" Tanya Gita menyelidik.
"Dari mama," aku tersenyum senang dan menatap Gita.
"Cepetan diangkat Rin," tak kurespon lagi ucapan Gita, karena perhatianku segera tertuju ke HP dan segera mengangkat telepon dari mama.
"Halo, mbak bener anaknya ibu yang punya nomer HP ini?"
"Iya bener Pak, mana mama saya, Pak? Kenapa bukan mama yang langsung bicara dengan saya?" cecarku.
"Sabar ya Mbak, ibu mbak kecelakaan di perempatan menuju SD Budi Mulia." Ucapan itu membuat jiwa dan tubuhku limbung. Aku terhenyak!
"A-apa? Jadi gimana keadaan mama saya, Pak? mama dimana sekarang?"
"Ibunya telah dibawa ke Rumah Sakit Umum."
"Saya segera kesana, Pak." Tak dapat kutahan airmata yang bercucuran, hatiku menangis pilu. Kulafazkan maaf dalam derai kesedihan dari hatiku.
"Maafkan anakmu ini, Ma!"
*The End
"Mama, cepat sembuh ya," gumamku perlahan nyaris tanpa suara. Mataku menghangat hingga tak terasa, menetes buliran bening. Kelopak mata mama membuka sedikit, lalu pelan menoleh kearahku.
"Mama, maafin kakak udah gangguin tidurnya mama."
"Enggak Kak. Mama emang udah pengen bangun. Eh, Kakak nangis ya sayang?" Tanya mama karena melihat mataku memerah.
"Enggak kok, Ma." Sambil tersenyum, buru-buru kuseka pipi dengan kedua punggung tangan.
"Mama, nggak apa-apa, Kak. Mama hanya kelelahan saja, hingga nge-drop kayak gini."
"Mama cepat sembuh dong."
"Pasti, sayang."
"Kak, Adik mana ya?"
"Adik baru saja pulang, Ma. Katanya ntar sore dia kesini lagi."
"Adikmu sudah makan, Nak?"
"Sudah Ma, tadi kakak bawa makanan dari rumah."
"Syukurlah, trimakasih ya Kak. Kakak sudah bantu mama."
"Mama kan lagi sakit, jadi urusan rumah tanggung jawab Kak Rini dong."
"Ah kakak sekarang sudah dewasa, mama bangga sama kakak." Senyum bahagia tersungging di bibir kami.
Sejak kematian papa empat tahun yang lalu, Setiap hari, mama lebih sering naik motor sendiri ke sekolah tempatnya mengajar. kadang-kadang hati ini terenyuh melihat perjuangan mama sebagai single parent. Akhir-akhir ini, ada beberapa pria yang berniat melamar mama, tapi ketika mama memberitahukan hal itu, aku selalu diam dan biasanya beralasan mau belajar agar bisa segera berlalu dari hadapannya. Padahal wajar saja jika mama masih ingin menikah di usianya yang masih 37 tahun. Untuk membantu mama memenuhi kebutuhan aku dan adik Reza, maka kuputuskan untuk mengelola warung kecil-kecilan di depan rumah. Meski tak jarang, mama yang membuka warung jika lebih dahulu sampai ke rumah, setelah mengajar di Sekolah Dasar Budi Mulia yang terletak empat kilometer dari rumah kami.
***
"Mbak Rini, ini resep yang harus mbak tebus," jelas seorang suster ketika aku sengaja ke ruang jaga mereka untuk mengambil resep obat untuk mama.
"Makasih ya, Suster" imbuhku, lalu segera berlalu dari tempat mereka. Belum beberapa meter aku melangkah tiba-tiba seorang suster memanggil.
"Mbak Rini," panggilan itu memaksa aku segera menoleh ke arah suster yang memanggil.
"Iya, Suster"
"Mbak Rini, dipanggil ke ruangan dokter Richie," lanjutnya.
Deg..., dadaku langsung berdesir, seketika aku mengingat mama. Dokter pasti akan membicarakan perihal penyakit mama.
Tok tok tok, perlahan aku mengetuk ruangan bernuansa putih itu.
"Permisi, Dok."
"Iya silahkan masuk." seorang asisten pria, membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.
"Anaknya Bu Rara ya? Mari silahkan duduk Mbak."Ajakan yang ramah itu, tak cukup menenangkan pacu jantungku.
"Makasih, Dok" jawabku dengan senyum hambar, lalu segera duduk dihadapan meja dokter.
"Begini mbak, ibu mbak sepertinya kecapaian, yang menyebabkan kondisi badan beliau melemah," dokter Richie menjelaskan dengan hati-hati.
"Mm… bisa saya tanya sesuatu ke mbak?" lanjutnya.
"Bisa, Dok" jawabku segera.
"Tapi saya mohon, mbak tidak terkejut sebab semua penyakit insyaallah ada obatnya" kalimat dokter itu semakin membuat aku penasaran.
“Memangnya ibu saya sakit apa ya, Dok?”
"Apakah selama ini, ibu mbak sering mengeluh sakit di perut bagian bawah?"
“Pernah beberapa kali, Dok.”
Setelah kami melakukan pemeriksaan, kami menemukan bahwa ibu Mbak, terkena gejala kanker mulut rahim, atau dalam istilah kedokteran sering juga disebut dengan kanker serviks."
"A-apa Dok?" aku tersentak kaget, bagai tidak yakin dengan pendengaranku sendiri.
"Kanker mulut rahim, Mbak. Tapi mbak nggak perlu kuatir, insyaallah ibunya masih bisa sembuh, yang penting bu Rara bisa menghindari makanan pantangan, tetap menjaga kebersihan dan meminum obat yang dianjurkan.”
Suara dokter lamat-lamat menjelaskan, tapi konsentrasiku buyar, perhatianku tidak tertuju pada kalimat dokter, yang aku pikirkan kenapa mama sampai mengidap penyakit aneh itu. Ingatanku lalu berhenti disatu titik, pada pikiran yang entah benar atau salah, tiba-tiba aku menghubungkan penyakit mama dengan lelaki yang belakangan ini sering kirim pesan ke akun FB yang dulu aku buatkan untuknya. Aku marah, sangat marah. Berbagai penjelasan dokter tak banyak yang singgah di benakku, emosiku kian menjadi!
Aku berjalan lunglai ke ruangan, dimana mama sedang tertidur. Hatiku sungguh lelah!
Hari keempat di rumah sakit, kondisi mama telah membaik. kata dokter pukul 10.00 pagi ini, mama sudah bisa kembali ke rumah. Aku mengemasi barang-barang, ketika mama yang duduk di tepi ranjang menyapa.
"Kakak kelihatannya lemes banget, kakak sakit ya?"
"Enggak kok Ma, kakak nggak sakit. Mungkin karena tidurnya aja yang kurang nyenyak selama di rumah sakit ini," aku mencoba menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada mama.
"Kakak minum madu, biar nggak loyo." tatapan mama yang sendu, membuat aku bangkit dan segera mengikuti anjurannya.
"Iya, Ma." ujarku sambil mengambil sesendok madu.
***
Hari ini mama mulai mengajar lagi, setelah beristirat selama dua hari sekeluarnya dari rumah sakit. Tepat jam 07.00 WIB mama dan dik Reza, sudah meninggalkan rumah.
Aku juga sudah siap hendak berangkat ke kampus, kubaca sekali lagi surat ringkas yang baru saja kutulis.
Mama,
Kakak nginap di rumah teman, beberapa hari untuk menenangkan hati.
Kak Rini.
Kusimpan lembaran itu di meja kerja mama, sambil menarik napas panjang. pikiran-pikiran buruk tentang mama masih saja bergelayut di otakku. Net book dan beberapa potong baju sudah siap di tas cangklong yang agak besar, aku ingin nginap di rumah Gita untuk beberapa hari.
Di kampus, sahabatku Gita sampai menyelidiki bawaanku yang tidak biasanya sebanyak itu.
"Mau minggat ya, Rin?" serta merta Gita memegangi dan menilik tas yang tergeletak pasrah di kursi yang ada di dekatku.
"Enggak kok, aku pamit sama mama."
"Jangan-jangan kamu mau kawin lari nih? Sama siapa? Beritahu dong,” cerocos Gita gencar bagai kendaraan yang remnya lagi blong.
"Ha... kawin lari? Apaan tuh?"
"Itu lho, kawin tapi sambil lari-larian." Terdengar tawa renyahnya memenuhi ruangan perkuliahan.
"Hadeuh, ngawur kamu Git, aku hanya pengen menjauh aja dari rumah, beberapa saat."
"Lho... Ada apa? Kamu marahan sama mamamu?"
"Enggak kok, hubungan aku dan mama baik-baik saja, ntar aja aku ceritain asal ijinkan aku nginap beberapa hari di rumahmu."
"Okey Cah ayu, lagian tumben-tumbenan kamu pamitan mau nginap di rumah, biasanya juga, langsung datang, iya kan?"
"Tapi kali ini aku nginapnya beberapa hari, bisa ya?"
"Iya... Iya, asal kamu nggak ngompol aja, aku siap menerima kamu kapanpun" Gita mengucapkan itu disertai gelak tawa khasnya.
"Asem kamu, Git! masa cewek manis dan wangi gini, ngompol sih. Amit-amit deh."
"Huu... kepedean kamu Rin." Kita berdua tertawa, tapi kemudian diredakan oleh kehadiran dosen killer pada jam pertama.
Setelah perkuliahan usai, aku dan Gita beriringan ke tempat parkir, akan menuju ke rumahnya.
***
Baru saja, aku hempaskan badan ke kasur empuk di kamar Gita, tiba-tiba hape-ku berdering, segera kuambil HP dari saku jeans, ternyata telepon dari mama, aku tidak menjawab panggilan itu, melainkan aku biarkan benda itu terus bergetar dan melantunkan reff lagu 'trouble', hingga akhirnya berhenti sendiri. Aku belum siap berbicara dengan mama, sungguh... rasanya saat ini, aku kehilangan kata untuk menjelaskan kenapa jadi sangat marah ke mama. Pelan-pelan kelopak mataku menutup hendak menjemput mimpi-mimpi indah yang hanya ada dalam bunga tidur.
Setelah makan malam, aku iseng membuka akun facebook. Ada pesan dari mama, segera aku klik ikon amplop yang ada di sudut atas layar handphone.
‘Dear Kak Rini,
Mama mohon maaf, sekiranya ada sikap mama yang tidak kakak sukai, hanya saja mama benar-benar nggak paham kenapa Kakak jadi marah seperti ini, padahal mama nggak tahu apa kesalahan yang sudah mama lakukan ke kamu, Nak!
Plis beri penjelasan, biar mama bisa memperbaiki diri, dan tidak bingung seperti ini. Mama sayang banget sama kakak, hanya kepadamu Mama tumpukan segala harapan, Nak.
Kakak, pulang ya... Kasihan Dik Reza nggak ada teman main.
Mama sayang banget sama Kakak'
Deg…. Entah knapa, tiba-tiba kesedihan menyeruak di relung hatiku. Notifikasi dari FB aku buka tanpa bersemangat merespon balik, malah jempolku tergerak membuka tab baru lalu mengetik kata 'kanker serviks' dari kolom pencarian di google. Ada banyak informasi yang aku dapatkan, salah satunya aku tahu bahwa kanker serviks itu tidak selamanya disebabkan oleh hubungan sex yang tidak dibenarkan. aku juga baru ingat kalau nenek meninggal karena kanker. dan boleh jadi, itu salah satu penyebab kenapa mama mengidap penyakit yang sama. Sungguh, aku jadi merasa bersalah, telah berpikiran buruk kepada mama, dan menelpon mama pada jam-jam seperti ini pasti hanya akan mengganggu tidurnya.
Ah, mendadak aku menjadi cengeng, tak terasa ada airmata yang mengalir di pipi. Maafkan Kak Rini ya Ma. Rini janji setelah ini akan menjaga mama dengan baik dan akan rutin menjerang daun sirsak untuk mengobati penyakit mama.
Besok pagi aku harus menemui mama dan minta maaf kepada beliau, tekadku dalam hati. Malam yang kian larut, mengantarku lelap dalam tidur dengan mata yang sembab.
***
Tepat pukul 07.15 Wib, aku dan Gita sudah siap berangkat, ketika tiba-tiba handphone-ku berdering.
"Telepon dari siapa Rin?" Tanya Gita menyelidik.
"Dari mama," aku tersenyum senang dan menatap Gita.
"Cepetan diangkat Rin," tak kurespon lagi ucapan Gita, karena perhatianku segera tertuju ke HP dan segera mengangkat telepon dari mama.
"Halo, mbak bener anaknya ibu yang punya nomer HP ini?"
"Iya bener Pak, mana mama saya, Pak? Kenapa bukan mama yang langsung bicara dengan saya?" cecarku.
"Sabar ya Mbak, ibu mbak kecelakaan di perempatan menuju SD Budi Mulia." Ucapan itu membuat jiwa dan tubuhku limbung. Aku terhenyak!
"A-apa? Jadi gimana keadaan mama saya, Pak? mama dimana sekarang?"
"Ibunya telah dibawa ke Rumah Sakit Umum."
"Saya segera kesana, Pak." Tak dapat kutahan airmata yang bercucuran, hatiku menangis pilu. Kulafazkan maaf dalam derai kesedihan dari hatiku.
"Maafkan anakmu ini, Ma!"
*The End
Langganan:
Komentar (Atom)