==JALAN KELUAR==
"Aku nggak gila!" teriakan perempuan malang itu menyisakan suara serak.
"Diam kataku, perempuan gila!" suaminya balas berteriak tak kalah sengitnya, anak-anak mereka hanya diam, sudah terbiasa dengan keadaan serupa.
"Kamu yang gila, tidak tahu bagaimana memperlakukan istri dengan baik!”
Tangisan perempuan itu seketika menjadi pecah seraya memelas dalam doanya, “Ampuni hamba ya Allah, ampuni suami hamba yang sudah menyiksa dan menganiaya hamba. Terima pinta hamba ya Allah" isakannya sungguh memilukan.
"Plak!" tamparan keras telak mendarat di pipi kanan perempuan yang sangat kuyu itu, tangisannya semakin menyayat hati.
"Aku akan membunuhmu," seiring ancaman itu, tiba-tiba suaminya ke dapur, mengibaskan dengan kasar semua benda yang ada di meja dan mencari pisau dapur.
Menyadari bahaya yang akan menemuinya, perempuan malang itu berlari sekuat mungkin dengan sisa tenaga, menyusuri pekatnya malam di desa yang sepi, segera terlintas di benaknya untuk mencari perlindungan ke tetangga, tapi malang tuan rumah yang dituju tidak mengijinkan dia untuk sekedar menghindar dari suaminya yang sudah kalap. entah apa alasannya.
Kembali dia berlari, mencari tempat aman agar tak ditemukan oleh suaminya. Untung saja ia segera melihat toilet samping rumah tetangga yang sudah lama tidak terpakai.
Nafasnya tersengal, sebisa mungkin diaturnya nafas yang memburu karena ketakutan, nyamuk-nyamuk yang berpesta pora di kulitnya tak dihiraukan lagi karena takut menimbulkan suara, suasana hening!
Tiba-tiba ada suara yang mendekat. Andai ia bisa, akan dihentikan sejenak detakan jantungnya agar tak kedengaran.
Hampir sejam ia mendekam dalam ketakutan, dan meninggalkan tempat sumpek itu, setelah merasa bahwa keadaan sudah benar-benar aman.
Langkah gontai membawa kemana kakinya melangkah tanpa tujuan, malam ini tak mungkin kembali ke rumahnya.
Ketika berjalan diantara rerimbun pohon mangga di kebun pak Imam, dilihatnya lampu rumah Bu Nisa masih menyala, ke sanalah langkahnya tertuju.
Tok...tok..tok… "Assalamualaikum, Bu Nisa," perlahan Ia mengetuk pintu seraya memanggil nama Bu Nisa, tapi belum ada jawaban dari dalam.
"Bu Nisa, Asaalamu alaikum" kali ini salamnya lebih dikeraskan lagi
"Waalaikumsalam, siapa ya"
"Saya Bu Marni, Bu Nisa tolong Buka pintunya dulu Bu"
Tergopoh-gopoh perempuan bernama Bu Nisa itu membuka pintu
"Lho Bu Marni ya? Mari,...silahkan masuk Bu.” Bu Nisa menutup pintu lalu berlalu ke dapur mengambil segelas air minum untuk tamu malamnya.
"Ini Bu Marni minum dulu ya" ujar Bu Nisa dengan pandangan iba.
"Makasih banyak Bu Nisa, ibu terlalu baik"
"Biasa aja Bu Marni, kebetulan saya juga lagi sendiri, suami saya ke pelelangan ikan, dan pulangnya besok pagi. Jadi Bu Marni bisa nginap di sini dulu"
"Skali lagi trimakasih banyak ya Bu, saya sudah merepotkan ibu"
"Nggak apa-apa Bu, ceritakan gimana sampai malam-malam seperti ini, Ibu pergi dari rumah," tanya Ibu Nisa dengan sangat hati-hati.
"Tadi suami mau membunuh saya Bu" suaranya terdengar lirih
"Masyaallah Bu, kok bisa ya suami Ibu seperti itu" Bu Nisa bertanya, meski sebenarnya sudah sering mendengar keributan dari rumah Bu Marni yang tak begitu jauh dari kediamannya.
"Suami saya kalau lagi mabuk suka kayak gitu Bu, seringkali pulangnya malam dan suka marah-marah, gimana saya nggak setres, Bu” Hambar ucapan Bu Marni.
“Tadi dia nyari lauk waktu mau makan padahal sudah berapa hari saya nggak diberi uang sepeser pun, kalau sudah gitu pasti saya yang kena amukannya, paling sering di pukulin Bu" ucapnya sesenggukan, rasanya tak kuat lagi dengan penderitaan yang dialaminya.
Bu Nisa menyentuh lembut bahu Bu Marni seraya berujar lirih "Astagfirullah, semoga Allah segera memberi petunjuk ke suami Ibu, Bu Marni yang sabar ya... Percayalah, disini Ibu bisa aman, Ibu makan dulu setelah itu, istirahat ya"
Bu Nisa segera berlalu dan menyiapkan makan buat tetangganya yang nampaknya tidak bertenaga lagi. Kasihan!
Ibu berusia 46 tahun itu, merebahkan badannya ke ubin yang beralaskan tikar dan perlahan memejamkan mata lelahnya.
"Bu Marni, ini makanannya sudah siap Bu" ucapannya pelan, sambil menyentuh bahu Bu Marni seakan tidak ingin mengganggu.
Kelopak matanya terbuka "Bu Nisa sangat baik, beruntung sekali saya bisa mengenal Bu Nisa."
"Biasa aja Bu, Sesama manusia kita memang dianjurkan saling tolong menolong” sambil mengatakan itu, senyum manis tak lekang dari raut wajahnya yang sangat tulus, Bu Marni bisa merasakannya.
“Mari silahkan Bu, tadi saya sudah makan sama Si Kecil” lanjut Bu Nisa, masih dengan senyumnya. Menyejukkan!
Pagi hari sebelum kejadian heboh di rumah Bu Marni.
“Mak, Indah lapar” Anak kecil berusia 7 tahun merengek pada emaknya
“Sabar ya nak, sebentar lagi Bapak pasti datang dan bawa beras untuk kita, pagi ini tempat beras Mak sudah kosong” Ibu tujuh anak itu berusaha membujuk anak bungsunya.
Gubuk bambu berukuran 4x6 M jadi saksi, perut-perut mereka yang keroncongan sejak pagi.
“tapi Indah lapar banget, Mak!”
“Emak buatin teh manis ya Ndah, biar perutnya nggak begitu berasa laparnya”
“iya deh, Mak”
Keadaan seperti itu bukan sekali dua kali terjadi di rumah Bu Marni, untuk meminta ke tetangga, rasanya sudah malu.
Sering kali Bu Marni meminta kepada mereka yang masih mau berbaik hati, tapi keadaan mereka tak jauh lebih baik dari keluarga Bu Marni belum lagi dua tetangga Bu marni yang sering membuat kerusuhan, sering mengatakan Bu marni sebagai perempuan gila, dan mengadu domba antara Bu Marni dan Suaminya.
Karena lingkungan yang tidak bersahabat itulah, menyebabkan ia seringkali mengalami depresi akut hingga pernah dirawat di sebuah rumah sakit jiwa yang ada di kota.
Dan akhirnya rumor yang menganggap bahwa Bu Marni itu gila kian merebak di lingkungannya, termasuk di keluarga Pak Imam, salah seorang keluarga terpandang di desa itu yang rumahnya tak jauh dari rumah keluarga Bu Marni.
Tapi tidak demikian dengan Bu Nisa, di mata menantu Pak Imam itu, Bu Marni adalah Ibu Malang yang harus di tolong.
Sebelum kejadian heboh di rumah Bu Marni, Perempuan berpembawaan tenang itu sudah mempunyai rencana untuk mengajak Bu Marni berbagi cerita. Hingga terjadilah peristiwa yang membuat Bu Marni menjadi semakin shock.
Mungkin ini skenario Allah yang akhirnya membuat Bu Marni dan Bu Nisa menjadi dekat seperti malam ini.
Di Rumah Bu Nisa, ibu bertubuh kurus itu terlihat makan dengan sangat lahap karena memang dari pagi lambungnya belum bertemu nasi sedikitpun. Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya Bu Marni segera membereskan piring-piringnya lalu segera dibawa ke dapur.
"Biar saya saja Bu yang beresin, ibu istirahat saja dulu"
"Nggak apa-apa Bu, ini saya udah ngerepotin ibu banget."
"Nggak usah difikirkan Bu, ayo istirahat dulu. Udah tengah malam ini."
Setelah semua peralatan makan dibereskan, ibu Nisa menyiapkan bantal, selimut dan obat nyamuk. Sejurus kemudian mereka terlelap bersama kelam malam dengan fikiran masing-masing.
Menjelang subuh Bu Nisa sudah terbangun, dia melihat Bu Marni masih lelap dalam tidurnya, tersirat lelah dari wajahnya, karena persoalan hidup yang harus ditanggungnya, termasuk menghadapi suami yang doyan mabuk dan berjudi di tambah lagi dengan tanggung jawab yang dipikulnya sebagai ibu dari anak-anaknya.
Untung saja dua orang anaknya yang hanya tamat SMP telah bekerja di kota sebagai penjaga toko, Anak pertamanya, seorang perempuan berumur 20 tahun telah menikah dan diboyong oleh suaminya ke rumah mertua. Sisanya 4 orang anak lagi yang masih kecil-kecil.
Perlahan perempuan berhati mulia itu membangunkan Bu Marni dengn lembut.
"Bu... Bu Marni, sudah subuh nih, Ayo sholat subuh berjamaah dengan saya."
Celingukan Bu Marni membalikkan badan kearah Bu Nisa dan langsung bangun "Oh...maaf Bu, Saya kesiangan ya ?" Agak kelimpungan dia berbicara ke arah Bu Nisa.
"Nggak Bu, ini masih shubuh, masjid sebelah baru aja selesai adzan. Ibu berwudhu dulu, saya tadi sudah, saya siapkan mukenanya ya Bu."
Sholat subuh kali itu dirasakan begitu memberi kedamaian yang menyusupi seluruh batin Bu Marni.
Tak terasa bulir bening perlahan mengalir dan menganak sungai di pipinya. Selama ini hidupnya telah jauh dari Allah, kehidupannya yang susah seakan telah menimbulkan perasaan marah kepada Allah, dia merasa Allah tiada memperhatikan dirinya. Tapi subuh ini, sukmanya merasakan kepiluan yang hebat tiba-tiba perasaannya tenang, damai tidak seperti hari-hari kemarin yang senantiasa diliputi oleh kekalutan. Setelah salam ke ke kanan dan ke kiri Bibirnya berucap lirih "Astagfirullahal adzim."
"Bu Marni, menangis ya?"
"Saya sudah banyak dosa pada Allah, Bu Nisa, pasti Allah tidak akan memafkan saya lagi."
"Bu, jangan berkata seperti itu, kasih sayang dan ampunan Allah tidak pernah terbatas bagi hamba yang mau bertobat."
"Tapi dosa saya selama ini sudah banyak banget Bu, sholat masih banyak bolongnya. Selama ini juga beranggapan bahwa Allah tidak sayang kepada saya, Allah memihak hanya kepada orang tertentu saja."
"Masyaallah, Bu Marni ... Allah tidak seperti itu Bu, bahkan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, hanya kadang kita yang terlalu banyak mengeluh dan mungkin tidak menyadari bahwa kondisi sehat kita ini adalah nikmat yang luar biasa Bu, ada banyak orang diluar sana yang tengah terbaring sakit sehingga hanya makanan tertentu saja yang bisa mereka makan, padahal uang mereka tidak sedikit dan bisa membeli apa saja yang diinginkan, ada juga yang cacat Bu Marni, kita harusnya bersyukur karena memiliki anggota badan yang sempurna,” tenang sekali ucapan Bu Nisa.
Lalu kemudian melanjutkan perkataannya.
“Bu, maafkan saya ya, tidak ada maksud menggurui ibu, saya hanya ingin berbagi apa yang saya ketahui."
"Sama sekali saya tidak merasa digurui, justru saya sangat senang bisa berada disini sekarang."
"Bu Marni, semua kejadian itu selalu ada hikmah atau rahasia di baliknya, hanya kita mungkin belum mengetahui apa maksud Allah menimpakan suatu kejadian dalam kehidupan kita, Kadang-kadang kita melihat bahwa kejadian itu terlalu buruk buat kita tetapi sebenarnya dalam keburukan itu ada kebaikan yang terkandung di dalamnya" Sejenak mereka terdiam dan larut dengan fikiran masing-masing.
Bu Nisa menatap lembut tetangganya yang tengah tertunduk, mungkin berusaha mencerna perkataan Bu Nisa barusan, lalu melanjutkan ucapannya,
“inilah pentingnya kita memiliki iman Bu, agar tidak mudah terombang-ambing dalam kondisi keduniaan yang beraneka macam ini. Sebab orang yang beriman itu selalu menyerahkan hidupnya kepada Allah, sehingga dalam suka maupun duka orang yang beriman tetap tunduk, patuh dan berusaha melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan larangan Allah."
"Tapi Bu Nisa.... " Bu Marni menghentikan perkataannya.
"Tapi kenapa Bu Marni?"
"Kenapa kehidupan ekonomi saya tidak bisa membaik Bu, kadangkala saya, suami dan anak-anak harus kelaparan karena tidak punya uang untuk beli beras."
“Bu Marni, percaya kan kalau kehidupan ini ada yang mengatur?”
“Percaya, Bu.”
“Kalau ibu percaya, bahwa kehidupan ini diatur oleh Allah, maka akan kemana lagi kita mengadukan semua permasalahan hidup kita selain kepada Allah, Bu?”
Bu Nisa memberi jeda pada ucapannya dan membirkan Bu Marni memikirkan apa yang diucapkannya barusan.
Lalu melanjutkan kembali kalimatnya “lalu bagaimana kita mengadukan permasalahan kita? Tentu saja dengan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah, memperbanyak dzikir kepada Allah, dengan cara berusaha menjalankan semua perintah Allah dan sebisa mungkin menjauhi larangan-Nya.”
Suasana subuh yang tenang begitu dirasakan oleh kedua perempuan itu.
“Bu Marni, jika kita ingin menjadi hamba yang istimewa di hadapan Allah maka kita pun harus melakukan ibadah-ibadah yang juga istimewa menurut Allah.”
“Ibadah istimewa ya, Bu?” Bu Marni mengerutkan keningnya.
“Iya benar, Bu.”
Bu Nisa meneruskan ucapannya dengan sabar.
“Selain ibadah wajib seperti sholat dan puasa yang sering kita lakukan, sebenarnya ada beberapa amalan sunnah yang istimewa dihadapan Allah, Bu.”
“Misalnya apa aja ya, Bu” Bu Marni menyela karena ingin segera mengetahui kelanjutannya.
“Melakukan sholat tahajud dan sholat dhuha, waktu-waktu ini adalah waktu yang sangat makbul untuk mengadukan semua unek-unek hidup kita Bu, disaat kebanyakan hamba tengah terlelap dalam mimpi malamnya maka hamba yang istimewa bersimpuh di hadapan Rabb-nya, dan pada saat hamba lain tengah sibuk mengerjakan pekerjaan di pagi hari, ada hamba yang rela meninggalkan kesibukan demi bersimpuh di hadapan Allah.”
Bu Marni terlihat menyelami ucapan Bu Nisa,
Lalu Bu Nisa melanjutkan perkataannya, “ Insyaallah kalau Bu Marni mengamalkan ini, hati Ibu akan tenang dan tidak mudah terombang-ambing, dan yakinlah bahwa Allah akan menolong semua kesulitan hidup kita Bu, cepat atau lambat” Senyum manis Bu Nisa makin membuat Bu Marni seperti terhipnotis dan manggut-manggut pertanda memahami apa yang diucapkan Bu Nisa, sahabat barunya.
“Insyaallah, saya tidak akan meninggalkan sholat lima waktu lagi Bu Nisa, dan akan berusaha menjadi hamba istimewa di mata Allah. Saya capek dengan kehidupan saya yang sekarang Bu, Doakan saya ya Bu Nisa?” terlihat kesungguhan dari kalimatnya yang terakhir.
“Pasti saya doakan Bu, kita saling mendoakan ya bu, semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk tetap istiqomah di jalan yang diridhoi-NYA.”
Semburat jingga mentari pagi mulai menampakkan cahayanya yang masih malu-malu, indah dan menyejukkan seperti sejuknya hati kedua perempuan itu yang kini tengah menikmati sarapan.
Bu Nisa menjalani rutinitasnya di pagi hari, menyapu guguran daun mangga kering yang berserakan di halaman rumahnya sementara Bu Marni membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan. Tiba-tiba suami Bu Marni datang dan mendekat, dari jauh terlihat tatapan tajam matanya diarahkan pada Bu Nisa yang seketika terhenti dari kegitannya, tapi Bu Nisa tetap tenang!
“Saya tau Emaknya Indah ada di rumah Bu Nisa”
“Iya, Benar Pak Samsul” Bu Nisa menjawab tenang
“Nggak apa-apa Bu, Saya mau memastikan saja, baguslah kalau dia ada disini, saya juga merasa tenang kalau dia bersama Ibu” Ibu Nisa tidak menyangka akan perkataan Pak Samsul baru saja, padahal dalam hati, ibu satu anak itu sudah menyiapkan amunisi untuk menghadapi Suami Bu Marni jika pagi ini dia marah-marah.
“Pak Samsul nggak marah kan kalau besok-besok, Bu Marni main ke rumah saya lagi? Katanya dia mau belajar mengaji.”
“Nggak apa-apa Bu, saya malah berterimakasih kepada ibu karena mau percaya pada istri saya disaat orang lain menganggap dia gila.”
“Istri bapak nggak gila, dia hanya depresi karena lingkungannya yang tidak bersahabat, istri bapak adalah perempuan yang baik hati,” Bu Nisa menuturkan kalimatnya dengan tenang padahal dari dalam rumah, terlihat Bu Marni yang sangat was-was dengan kedatangan suaminya.
“Baiklah, Bu. Biar dia tenang dulu sebelum pulang ke rumah.”
“Baik Pak Samsul,” Bu Marni masih menatap punggung suaminya berjalan menjauh dari rumah Bu Nisa, kemarahannya kepada suaminya berangsur-angsur berkurang.
***
Sejak kejadian itu, Bu Marni sering bertandang ke rumah Bu Nisa. Terlebih lagi karena Bu Marni ingin menenangkan perasaan dan menghindari cemoohan tetangganya yang menganggap Bu Marni gila. Mereka berdua seperti dua orang sahabat yang saling mengingatkan di Jalan Allah. Seperti hari ini Bu Nisa terlihat sedang mengajari sahabat barunya itu mengaji, dan saat azan berkumandang dari masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Bu Nisa, mereka lalu bersama-sama ke masjid.
Bu Marni terlihat lebih sering berjamah di Masjid dan Masyaallah, atas kehendak Allah, suami dan anak-anak Bu Marni jadi terpengaruh untuk sering juga berjamaah di Masjid, suaminya mulai berubah dan tak sekasar dulu.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, rumah gubuk mereka telah berganti menjadi bangunan permanen hasil dari perkongsian suami Bu Marni dan anak-anaknya yang bekerja di Kota.
Sekiranya benar Firman Allah: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (At-Thalaq ayat: 2)
*the end*
Tulisan ini saya dedikasikan untuk pesmerga dan inqilabi, trimakasih banyak ya.... Atas bantuan kalian cerpen ini bisa selesai :)