Sabtu, 29 Maret 2014

Dicium pemabuk


Dhuarr. ... motorku terpental, akibat tabrakan hebat dari arah belakang, tubuhku terguling-guling, muka mencium aspal, sekuat tenaga aku berusaha menahan agar badan ini segera terhenti dari lajunya. 

Beban berat di punggung yang berisi laptop 14" untuk merampungkan tugas academi KBM dan beberapa buku tebal ANPH lumayan membantu. Karena berat badanku bertumpu di punggung, maka cangklongku itulah yang pertama kali menghantam bumi, bagian depannya hancur, isinya berserakan termasuk modem yang kini tak ketahuan lagi rimbanya. 

Tubuhku terhenti tepat di tengah aspal jalur propinsi Takalar-Jeneponto, beberapa mobil terlihat dari kedua arah, pelan-pelan aku beringsut ke tepi jalan, takutnya ada kendaraan lain yang ikut menyeruduk. 

Sekilas aku melihat laki-laki yang menabrakku dengan motornya tergeletak tak bergerak di seberang jalan, semoga dia tidak mati, begitu doaku dalam hati. 

Orang-orang berdatangan dan menolong, tak berselang lama seorang polisi datang dan melaporkan bahwa yang menabrakku tadi dalam keaadaan mabuk, dari mulutnya yang berbau minuman keras, terlihat beberapa gigi copot dan menyisakan banyak darah. Kmarin sore itu, rupanya motorku dicium pemabuk.

Mungkin aku harus istirahat, ampunkan hamba ya Allah.

Pagi, pekan terakhir di bulan Maret 2014