Kekuatiran Anis benar-benar terjadi ketika malam ini terdengar suara ketukan dari pintu depan. Suaminya Danu, buru-buru membuka pintu lalu sejurus kemudian percakapan akrab dan tawa renyah antara Danu dan seorang temannya terdengar dari ruang tamu.
Seperti biasa, ritual wajib untuk menghormati tamu segera berlangsung di dapur. Dari sinilah, awal cerita ini terjadi!
Setelah menjamu tamunya dengan secangkir kopi, Anis segera berlalu, tapi tak lama setelah itu, suaminya memanggil.
"Umi, kemari sebentar Mi"
"Iya, kenapa Bi?"
"Umi, kopinya kok nggak manis ya?"
"Masa sih, Bi" Nisa pura-pura melongo.
"Iya Mi, bener! Tolong tambahin gula ya."
Anis mengambil kembali kedua cangkir kopi yang ada di meja tamu. Sambil meletakkan kopi-kopi itu ke nampan, Anis ngedumel dalam hati, bukan karena tidak suka disuruh sama suaminya, tapi karena gulanya sudah habis sejak kemarin dan juga warung yang tak jauh dari rumahnya pasti telah tutup setelah sholat Isya tadi.
Dan satu hal yang membuat Anis sebal sesebal-sebalnya karena dari kemarin dia minta duit buat beli gula, tapi suaminya malah ngeyel menyuruh balik untuk memakai garam saja sebagai ganti gula. Betapa Anis semakin gondok karena ulah suaminya itu, awas saja kalo ada protes karena suguhan kopi asin!
Bibir Anis jadi manyun lima senti, saking manyunnya wajan saja bisa disampirkan ke bibir yang makin doer itu. Tiba-tiba Anis jadi sedih kenapa tinggal di desa yang sepi, coba kalau dia terima tawaran mengajar dari teman SMA-nya yang ada di kota, mungkin hidupnya tidak akan menderita seperti ini. Pikirannya jadi ngelantur kesana kemari.
Dari tadi toples gula sudah dikerok sampai dasar-dasarnya tapi hanya cukup untuk satu cangkir, terpaksa kopi suaminya yang dibiarkan tanpa gula, semoga Abi mengerti, Anis membatin.
Tapi, eits! Tunggu dulu, apa sebaiknya dikasih garam saja ya? Alisnya mengernyit, menunjukkan dia tengah merencanakan sesuatu, hmm .... *Tiiitt! Sensor!
Ini kedua kalinya Cangkir kopi, bolak-balik dari ruang tamu ke dapur, tapi tetap saja Danu belum mengerti.
Anis sengaja mengaduk kopi dengan keras. Karena dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu, maka tidak cukup meredam suara sendok yang beradu dengan cangkir.
Ting! Ting Ting!!!
Danu mendengar suara itu sontak menjadi sumringah.
Sementara Danu lagi asik bercengkrama dengan temannya, Anis kembali membawa nampan berisi dua cangkir kopi ke ruang tamu.
"Ini kopinya, Silakan di Minum Kang" katanya mempersilahkan tamunya. Sekilas matanya berkedip-kedip ke suaminya tapi Danu malah menyangka istrinya lagi kelilipan.
"Trima kasih Bu" jawab Fadhil, teman Danu.
Anis membawa nampannya masuk, tapi tidak langsung menuju dapur melainkan berlindung di balik gorden dan mengintip ke arah suami dan tamunya.
"Mari Silahkan diminum kopinya, Kang Fadil"
"Trimakasih Dan"
"Sruupptt!!"
Danu meraih cangkir dan menyeruputnya.
Sejenak ia berdiam. Lidahnya ia goyang-goyangkan di sela bibir.
"Ada apa Dan?" tanya Fadil penasaran atas tingkah dan raut Danu.
"A—anu, kok rasa kopiku seperti ini, ya!?" Kembali Danu mengecap-ngecap lidahnya sembari berkernyit.
Melihat itu, Anis yang mengintip kian geregetan.
Fadil yang diliputi penasaran, serta merta ikut meminum kopi yang ada di hadapannya.
"Heemmm ... nikmat! Kopiku manis, kok!" ujar Fadil.
"Masak iya, sih! Kenapa punyaku nggak manis, ya.
Cobain deh kopiku, Kang Fadil!"
Atas permintaan tuan rumah, Fadil pun terpaksa meminum sedikit kopi Danu, pembaca!
“Iya ya, kopinya beneran pahit” Keningnya mengkerut. lalu tertawa lebar dan seketika pecahlah tawa diantara mereka.
Glek! Dari balik gorden Anis menelan ludah, melihat aksi TELMI suaminya.
Hampir saja tamunya ikut mencicipi kopi asin, untung niat isengnya tadi tidak diteruskan.
*The End