Kamis, 13 Februari 2014

Sepi!


Beku, hening!
Salju berbisik pelan
;Jiwa Merinding
Tanpa dekapan
Dingin menyusupi
Menohok hingga belulang
;Tiada selimut hati
Selain kelebat bayang
Bayang pilu kehidupan
Nan meraja dalam hampa
O, cinta tak bertuan!
Puas berkawan nestapa
Kasih purba pun jemawa
Sepi dalam sendiri
Wahai Engkau Penguasa raya
Hamba rindu, dekaplah jiwa ini!

Balada Dara-Aden


Balada Dara-Aden
;Semekar kuncup nirwana
Bermesra tapaki jagad
Indah mendulang renjana
Selaku intan zabarjad
Cita cinta Dara-Aden
Insaninsan khusyuk berkasihan
Mendulang rinai asmara
Menuai rindu membara
;Aduhai Cinta
Terpaut amarah
Tatkala Cita
Terpasung bencana
O, Dara; Dara Sayang
Sukma hinggap bercenayang
Sertakan luluh lantak jiwa merana
Pada amor nan membuana entah dimana
O, Cinta; Cinta Sayang
Bunga kamboja menyeringai
Meranggas kerana kasih tak tergapai
Sisakan sukma menggersang
Aduhai,
Tatkala damba Menjerit parau, Meraih impian yang membelit
Asa pun entah raib dalam dimensi noktah tak terperih
;Kasih, Cinta, siasia!
-UZ,

Gagang Sapu Ajaib



Deg.... Seketika, detak jantungku berasa terhenti ketika lamat-lamat aku mendengar suara yang tak lazim itu dari luar rumah, kulirik sudut kanan bawah di layar laptop, waktu menunjukkan pukul 01.30 WITA tanggung bila harus meninggalkan tugas kantor yang sebentar lagi selesai.

Pada jam-jam seperti ini suasana desaku sudah sangat sunyi apalagi rumahku yang masih terbilang bangunan baru, letaknya di tepi desa dan berbatasan langsung dengan areal persawahan yang masih cukup luas, hanya ada sedikit semak yang menghalangi jika ingin menikmati pemandangan persawahan dari teras samping.

Aku mendengar suara itu lagi, sesaat kuhentikan tarian jemariku diatas keyboard, bola mata dan telingaku seakan janjian untuk awas secara bersamaan, hingga bisa menangkap suara aneh itu dari luar. Aku segera beranjak dari tempat duduk dengan sangat pelan dan nyaris tak bersuara, menuju ke kamar tidur yang pintunya sedikit terkuak.

"Ayah, bangun dulu, saya denger diluar ada suara aneh.” bisik ku pada suamiku sambil memegangi lengan nya.
"Suara kucing kali bun," jawab suamiku ogah-ogahan karena baru saja tidur jam 12 tadi.
"Benar yah, coba deh di dengar baik-baik."
"Tidur saja bun, besok kamu harus kerja lho." gumam nya masih dengan mata yang terpejam rapat

Sepertinya sia-sia saja membangunkan suamiku, aku masih tertegun di dekat pintu kamar dan kembali menajamkan indra untuk menangkap semua suara aneh yang datangnya dari luar rumah, sebenarnya aku begitu takut, debaran jantungku semakin tak beraturan bagai dentuman drum yang menceracau.

Dengan keberanian yang tersisa perlahan aku mendekati pintu samping, dan benar saja suara-suara itu semakin jelas, sekuat tenaga kutenangkan diri dan berusaha mengatur nafas yang sudah tidak beraturan, sekarang aku benar-benar yakin kalau diluar sana ada seseorang atau mungkin lebih yang berniat melakukan aksi ilegalnya, aku sengaja untuk tidak mengintip, takutnya mata kami bersirobok saat melihatnya lewat jendela, sehingga 'surprising plan’ yang tiba-tiba terformat secara otomatis di otak ku jadi gagal sebelum di eksekusi.

Sebentar lagi usaha si maling untuk membuka jendela rumah yang tanpa pengaman itu akan berhasil, aku harus menggagalkan usahanya, dia tak boleh berhasil memasuki rumahku, atau akan terjadi duel yang tidak berimbang antara maling yang mungkin bertubuh kekar melawan seorang perempuan, aku masih berlidung dibalik tembok diantara ruang tengah dan dapur.

Dengan posisi sigap yang bebas mengawasi pintu samping, mematung dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara secuil pun, usaha ‘tamu tak diundang’ itu untuk membuka jendela samping semakin gencar saja.

Saatnya menjalankan rencana…… segera kuraih sapu ijuk yang tergantung di dinding, dan mengendap-endap mendekati jendela samping, lalu... "prak...!" sekuat tenaga kuhantam pintu samping dengan gagang sapu yang disertai teriakan lantang “naintu pantarang..!!!"

Hampir bersamaan dengan teriakan ku yang cetar membahana, Si maling mengambil langkah seribu, suara kakinya begitu ramai beradu dengan bambu-bambu kering yang teronggok rapi di samping rumah, bersamaan itu pula suamiku terbangun

“Bunda kenapa sih, kucing aja diladenin, tidur aja lah Bun”

Kurasakan jantungku masih berdebar hebat tapi aku cekikikan sendiri, membayangkan si maling lari pontang panting karena terkejut setengah mati.

Keesokan pagi harinya… saat adik ku berkunjung kerumah, aku ceritakan kejadian semalam, lalu mengajaknya melihat ‘hasil karya’ si maling semalam, dia sempat sangat was-was tapi sekaligus cekikan mendengar ceritaku,

Tiba-tiba, “Kak, ini apa sih yang bergerak-gerak” aku melongok kearah yang ditunjuk oleh adikku
“MasyaAlloh….” Hampir bersamaan kita bergumam
Rupanya kain sarung lusuh yang dilihat oleh adik berisi 3 ekor ayam. Seekor ayam jantan dan 2 ekor ayam betina. Ujung kain sarung terikat kuat, lalu diatas nya dionggokkan secara rapat sehingga ayam-ayamnya masih tetap berada disana. Pasti malingnya ngedumel karena semalam sudah mendapat shock terapi gratis yang menyebabkan hasil curian nya ketinggalan,

“Kakak halangin orang cari nafkah aja deh” seloroh adikku sambil cengar cengir.
“Cari nafkah sih cari nafkah tapi gak di rumah orang juga kali” timpal ku sambil cekikikan yang diikuti oleh adik.

Segera aku memanggil tetangga yang kebetulan akan berangkat ke sawahnya, siapa tahu saja salah satu atau bahkan semua ayam-ayam itu adalah miliknya.

Suamiku baru percaya, saat melihat ada seekor ayam jago dan 2 ekor ayam betina yang lagi asik nangkring di samping rumah.

*Galesong Utara, 171103

Dimensi Rasa Tak Bertepi

Penulis: Ummu Zakiyah

"Dik Ais!”

Aisyah, nama perempuan ayu itu terkejut saat mendengar seseorang memanggilnya kala asik memilih cemilan di sudut sebuah supermarket.

“Kak Rama..? benar ya ini Kak rama? Ais gak mimpi kan?” pertanyaan Aisyah memberondong dengan mimik serius

“Iya benar dik Ais, ini aku. Gimana kabarmu dik?” ujar Rama tenang

Alih-alih menjawab pertanyaan pemuda bernama Rama itu, Aisyah malah menghambur memeluk Rama erat, seakan tak ingin lagi melepaskan lelaki yang berparas tampan dengan sedikit jenggot di dagunya.

“Kak Rama kemana aja? kenapa membiarkan Ais tanpamu… tau nggak sih kalau Ais kangen banget sama kamu Kak” serbunya seakan ingin meluapkan segala beban yang tengah menghimpit sukmanya.

“Dik Ais… nggak enak tuh dilihat sama orang” ucap Rama pelan seraya melepaskan tangan Aisyah yang masih melingkar di tubuhnya

Perempuan berpostur mungil itu akhirnya celingukan sendiri, dan perlahan melepaskan pelukan tapi bola mata hitam miliknya tak jua lepas menghunjam tepat ke manik mata Rama, sepertinya masih ingin meluapkan rasa yang tertahan sejak kepergian Rama setahun yang lalu.

Sejenak, pemuda berusia 28 tahun itu dibuat limbung oleh tatapan mata Aisyah, tatapan sejuta makna yang tak mampu dia tafsirkan tapi segera Rama terjaga dari hayalnya, ah.. pemilik mata indah itu kini telah jadi milik orang lain, Rama membatin perih.

“Kak Rama kapan datang dari Bandung?”

“Aku datang semalam Dik Ais, karena ditugaskan lagi di kota ini.”

“Kak Rama, Maafin Dik Ais ya, atas kejadian setahun yang lalu” Aisyah berujar lirih dengan raut sedih.

“Nggak ada yang perlu di maafkan Dik Ais, ini semua sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT bahwa kita ditakdirkan untuk tidak sejodoh” jelas Rama dengan bijak.

“Kak Rama nggak berubah ya, malah sekarang semakin alim.”
Rama hanya bisa tersenyum mendengar perkataan mantan kekasih nya itu.

“Sepertinya kamu juga nggak berubah Dik Ais, masih tetap cerewet seperti dulu.”

“Dih… Persepsimu tentang aku masih saja seperti itu ya Kak” cecar Aisyah sambil tersipu malu.

“Gimana kabar keluargamu Dik.”

“Alhamdulillah, semua sehat Kak. tapi ayah udah ninggalin Ais dan Ibu,” seketika mata Aisyah berkaca-kaca.

Rama tersentak kaget “Inna lillah wainna ilaihi rojiun, kakak ikut berduka cita… Dik Ais yang sabar ya, semoga beliau mendapat tempat yang layak disisi Allah, Amin ya Rabb” tapi seketika itu juga bayangan masa lalu kembali terngiang dalam benaknya saat ayah Aisyah menolak lamarannya dan lebih memilih Indra, anak sahabatnya.

“Amin Ya Allah, Trimakasih banyak ya Kak atas doanya.”

“Sama-sama Dik, o ya… aku pamit dulu Dik, masih ada kerjaan nih yang harus diselesaikan, Kakak nitip salam ke Ibu dan Suami Dik Ais.”

“Suami Ais ditugaskan ke Timika 3 bulan setelah ayah meninggal.”

“lho..kok Dik Ais nggak ikut suami?”

“Ais kasihan sama Ibu, Kak. rasanya nggak tega ninggalin ibu sendirian. mau ngajak Ibu ke Timika tapi beliau sudah gak kuat bepergian, akhirnya suami Ais yang ngalah dan kadang pulang sebulan sekali” jelas Ais.

“Mmm… Kak Rama, bisa nggak Ais minta nomer hand phone nya?” lanjutnya

“Bisa Dik” Rama segera menyebutkan deretan angka yang dicatat oleh Ais ke ponselnya.

“Udah dulu ya Dik, sampai jumpa di lain waktu.”

“Kak Rama.. Jangan lupa sms atau telpon Ais ya.”

“Insyaallah Dik” jawab Rama dengan senyum khas nya, senyum yang hingga saat ini mampu luluhkan hati perempuan berparas manis itu.

Setelah itu mereka berpisah dengan kecamuk perasaan yang tidak mampu di terjemahkan ke dalam untaian kalimat.

***

Pertemuan Aisyah dan Rama tempo hari membuat perempuan ber-postur mungil itu kadang-kadang terlihat merenung seperti sore ini di teras rumahnya, Angannya menjelajah ke setahun silam saat ayahnya memutuskan untuk menjodohkan dia dengan Indra.
Betapa frustasinya Aisyah kala itu, padahal ayah nya tahu kalau ia mempunyai teman dekat, pemuda asal Bandung yang terpelajar dan sopan.

Hampir semua orang tua mungkin menginginkan anak nya mendapat jodoh seperti Rama, pemuda yang agamis dan kehidupan yang sudah mapan dengan posisi penting pada sebuah perusahaan asuransi ternama.

Tapi tidak demikian dengan ayah Aisyah, dia tetap ngotot menjodohkan putri semata wayangnya dengan Indra, alasannya satu.. bahwa dia dan ayah indra telah berjanji untuk menikahkan anak mereka.

Pernikahan itu pun tak terelakkan, dan orang yang paling menderita setelah Aisyah adalah Rama, pemuda itu seakan terhempas dalam kubangan kesedihan yang teramat dalam, tak terperikan lagi betapa perasaannya remuk redam saat lamarannya di tolak mentah-mentah oleh ayah kekasihnya, perempuan yang sejak lama telah di idam-idamkan menjadi permaisuri hidup
dan akan melahirkan anak-anak nya kelak.

Tapi semuanya hanya mimpi yang telah usai, sirna bersama keputusan ayah Aisyah yang terlalu jahat menurut Rama. Dinasti kebahagiaan bersama Aisyah yang telah tertata rapi dalam benaknya akhirnya runtuh tanpa ampun, Rama terjerembab dalam ketidakpastian asa, rasa dan cinta.

Setelah kejadian itu, Rama berusaha tegar kembali dan mencoba menata puing-puing hati yang tengah bercerai.

“Lelaki sejati yang beriman tak bisa terus-terusan berada dalam kegamangan hati yang tak pasti, aku harus kuat dan melanjutkan mimpi-mimpi indah yang menanti untuk diwujudkan, rasa sakit ini tak bisa mengalahkanku”

Rama berfikir demikian semata untuk menghibur kegelisahan jiwanya dan mencoba memulihkan Kekuatan batinnya.

Untuk menghapus jejak kelam cintanya, Rama pindah ke Bandung dengan satu harapan agar bisa melupakan dan meninggalkan semua kenangan indah bersama Aisyah pujaan hatinya.

***

Pukul 12.20 wita, Rama baru saja selesai sholat dhuhur.
Buru-buru dia mengambil kunci mobil lalu pamit ke temannya akan Mencari makan di luar.
Siang ini cuaca kota Makassar lagi bersahabat, hujan tidak lagi mengguyur bumi, mentari pun masih enggan memunculkan dirinya, Rama mengarahkan mobil menuju resto yang tepat berhadapan dengan pantai losari.

Pantai yang paling terkenal di kota ini dan banyak diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Dan kini terkenal pula dengan Masjid terapung “Amirul Mukminin”, yang dibangun diatas laut dengan tiang pancang yang sangat kokoh.

Tidak berselang beberapa lama, Rama telah memarkir mobilnya dengan mudah karena sepertinya resto ini lagi sepi pengunjung.

Dengan langkah santai Rama menuju lantai 2, tempat favorit dia dan Aisyah ketika menikmati makanan, dari sini… Hembusan angin laut terasa menyejukkan sambil menikmati suguhan panorama pantai yang membuat setiap mata tiada jemu memandang.

Tiba-tiba langkah Rama terhenti, dia terhenyak sesaat ketika melihat bahwa di tempat duduk itu ada Aisyah yang tengah asyik menyeruput 'avocado juice' kesukaannya, sungguh ia tak menyangka jika di tempat ini ada Aisyah juga. Sekuat tenaga ia berusaha menetralkan rasa hati yang sejenak bergemuruh tatkala melihat sosok perempuan yang baru saja menari-nari di benaknya.

“Astagfirullah, aku harus melawan rasa ini, Aisyah sudah jadi milik orang lain…kalaupun aku sayang sama dia, maka sayangku ini tak lebih dari kasih sayang seorang kakak kepada adiknya” Rama membatin

Sengaja dia berjalan dari arah depan agar kehadirannya tidak mengejutkan perempuan yang kadang masih manja itu

“Kak Ramaa… rupanya kakak ada di resto ini juga ya” Aisyah terlihat sangat girang melihat kedatangan Rama lalu sejurus kemudian binar-binar senyum segera menghias wajahnya, saat melihat Rama berjalan kearahnya

“Tadi aku lewat di jalan ini, karena kebetulan belum makan jadi sekalian mampir deh” jawab Rama sekenanya

“Ah..Kak Rama bohongin Ais, kakak pasti kangen ya sama Ais..makanya kak Rama sengaja kesini. Ais tahu kok, karena Ais juga kangen sama kakak makanya Ais kemari” sergah Aisyah dengan gaya centilnya

“Sok tahu kamu dik” jawab Rama sambil tersenyum setelah duduk nyaman tepat di depan Aisyah

“Ya udah kalau nggak mau ngaku, Dik Ais pulang aja nih…” Aisyah merajuk dengan mulut yang sengaja di buat monyong hingga terlihat lucu

“Ya udah, pulang sana!” ucap Rama tak bisa menahan senyumnya

Aisyah malah makin manyun, lalu beranjak dari tempat duduknya tapi tidak berlalu, dia malah pindah dan duduk di dekat Rama

Spontan Rama menjauh dan menjaga jarak dengan Aisyah

“Dik… Ais, ingat lho… Dik Ais udah nikah, kita harus jaga sikap jangan sampai syetan merasuki lalu menguasai fikiran kita, naudzubillahi min zaalik. Ujar Rama pelan tapi dengan nada yang tegas!

“Tapi Ais belum sepenuhnya bisa cinta sama Bang Indra, Kak.”

Kedatangan seorang waitres sejenak membuat keduanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Silahkan mau pesan apa Mbak, Mas” pertanyaan itu membuyarkan suasana

“Dik Ais mau pesan apa?”

“Seperti biasa Kak”

Rama lalu menulis pesanannya dan pesanan Aisyah yang sudah sangat dihafalnya.

Setelah pelayan itu berlalu dari hadapan mereka, Rama melanjutkan perkataannya dengan mimik yang serius

“Dik Ais, kalau kamu terus-terusan seperti ini, Kak Rama akan menjauhi kamu lagi. Kak Rama nggak mau di anggap merusak keluarga orang lain”

“Kak Rama jahatin Ais, Kak Rama nggak sayang lagi sama Ais” mata gadis itu sudah mulai berkaca-kaca

Seketika badan Rama dihadapkan ke Aisyah lalu berujar serius

“Dik Ais… Dengerin Kakak ya, Selamanya aku akan sayang sama kamu, tapi sayang sebagai seorang kakak kepada adik nya, jadi gak mungkin kakak tega jahatin kamu. Sekarang posisi kita sudah beda, kamu sudah jadi istri orang, maka sebisa mungkin kamu harus berusaha mencintainya dik Ais dan menjadi istri yang baik buat dia” jelas Rama panjang lebar

“Udah Pak Ustadz ceramahnya?” lanjut Aisyah

“Kamu masih bandel ya dik seperti dulu”

“Biarin”

“Dasar anak manja” timpal rama serius lalu geleng-geleng kepala melihat perempuan yang terpaut 6 tahun itu di bawah nya.

Saat menikmati makanan, tak banyak kata lagi yang terucap… Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Hanya sekali terdengar Aisyah menyeletuk ringan

“Kalau udah punya calon istri, jangan lupa kenalin ke Ais ya kak”

“Itu Sudah pasti Dik Ais, tenang aja” jawab Rama ringan.

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Rama segera membayar ke kasir dan mengajak Aisyah meninggalkan restoran.

“Kakak anterin kamu pulang ya dik”

“Iya bisa Kak, asalkan Dik Ais yang bawa mobilnya ya”

“Kamu gak bakalan kuat Dik”

“Kenapa Kak?”

“Ya iyalah, mobil itu nggak di bawa lho Dik tapi dikendarai”

“Nah, itu maksud Ais”

Bersamaan dengan itu mereka tertawa lepas, bahagia.. saat berjalan menuju CR-V putih milik Rama.

Aisyah menyetir Mobil dengan tenang tanpa banyak bicara, begitu pula hal nya dengan Rama.

Tepat di depan rumahnya, Aisyah menepikan mobil yang di kendarai nya lalu segera turun dan mengucapkan terima kasih ke Rama

“See you kakak Rama, thanks so much ya traktirannya”

“Sama-sama Dik Ais” lalu mereka berpisah dengan senyuman penuh misteri, hanya mereka yang tahu artinya.

***

Di depan pintu, Ibu menyambut Aisyah dengan kuatir

"Assalamualaikum, Bu"

“Wa'alaikumsalam, Siapa yang ngantar kamu Nak Ais?”

“Kak Rama, bu. Ibu masih ingat dia kan?”

“Anak Bandung itu ya, Nak?”

“nilai 100 deh buat Ibu”

Sambil mengatakan itu Aisyah sudah berjalan riang menuju kamarnya, meninggalkan Ibunya yang masih bingung.

Sang Ibu hanya bisa terduduk diam di kursi tamu, jika menyebut kata Bandung tiba-tiba di pikiran nya menyeruak ingatan tentang kisah yang pernah di ceritakan oleh ayah Aisyah, 28 tahun silam sebelum menikah dengannya, Ayah Aisyah pernah tinggal bersama bibinya di Bandung tapi karena kesalahan yang diperbuat menyebabkan ia terpaksa meninggalkan Bandung hingga akhirnya masing-masing telah hilang kontak.

***

Pukul 20.00 wita.
Setelah sholat isya dan mengulang beberapa hafalan surah, Rama merebahkan badan nya di atas springbed hendak melepas kepenatan, tiba-tiba saja mata nya tertumbuk pada dompet coklat tua yang di ambil dari mobilnya. Diraihnya benda itu lalu meniliknya beberapa saat

“Dompet ini milik siapa ya, kalau bukan punya Dik Ais boleh jadi ini milik Bu Indah sebab tadi sore mobil juga dipinjam oleh beliau” tebak Rama dalam hatinya

“Di dalam nya pasti ada tanda pengenal, mungkin sebaiknya aku liat dulu biar besok bisa langsung mengembalikan ke orangnya”

Pelan dibukanya dompet itu, pada sisi kiri terdapat KTP atas nama 'Aisyah Humairoh' dan sisi lain nya terdapat foto pasangan suami istri beserta seorang anak perempuan kecil, sudah agak buram tapi masih nampak jelas gambar orang yang ada di dalamnya, Rama seketika terkesima.... sebab di dompetnya juga ada foto yang nyaris mirip dengan foto yang tengah berada di tangannya ini.

Segera dia mengambil dompet nya, lalu mengeluarkan foto ibu dan ayahnya, foto itu di letakkan berdekatan dengan foto Aisyah, dan ”Masyaallah…. “ ucapnya tertahan dengan ekspresi kaget yang luar biasa...

“Dik Ais, ternyata kita saudara, ayahmu dan ayahku adalah orang yang sama”

Rama terkulai lemas, nafasnya terasa tercekat ditenggorokan, hanya bibirnya yang bergumam lirih...

"Subhanallah!"

*The End

‪#‎Sejak‬ zaman 'baheulah'.. Permasalahan yang dihadapi oleh manusia kebanyakan berasal dari kesalahannya sendiri, lalu kenapa manusia tak menjadikan sejarah dan kisah-kisah masa lalu sebagai pembelajaran agar tak terjadi lagi permasalahan karena kesalahan serupa? (Ummu Zakiyah)

=Zuhud=

Oleh: Ummu Zakiyah

Nuansa pagi, lirih menjamah jumawa
Belai lembut pintupintu cakrawala
Hangat menyentuh sukma
Nikmat merambah jiwa
Tamam kitari masa

Di sekeliling kilau ratna mutumanikam
Memendar membelai seluruh alam
Perhiasan bagi insan faham
Dan mereka yang waham
Kini telah khatam

Penciptanya sungguh Kuasa dan Bertuah
Hanya kepadaMu-lah diri berserah
Meluruhkan Cinta dan Pasrah
Sejuk, murni tak bernoktah
Melampau para dafnah

Izinkan hamba takzim dikala mencinta
Patutkan nurani hingga tiada terkira
Tunduk ke hadiratMU Penguasa
Trima bakti suci sujud hamba
Menjura dalam Tuma'nina

Galesong, 13 Februari 2014

Lepas!

Katakan pada karang ...
Tak sudi melihatmu lagi
Kokohmu menancap begitu angkuh

Teruslah bernyanyi dengan pongah
Suarakan keegoisan akut
Hingga lelah menjemputmu
Dan maut men-ciduk rohmu

Lakumu Menyebalkan!

Aku tidak marah
Hanya kecewa pada ketidakadilan!
Cuihh ...

Dan engkau, menguaplah bersama tangis!
Lega!

Khidmat ...

Sayup rinai tertangkap indra
Bak pepuisi indah nan mendayu
Hijau bagai hiasan tundra
Menghampari sukma kuyu

Tatkala damba amorf kian meracau
Melindap di remang malam
Kemana hati hendak menjangkau
Menghimpun ridho Penguasa alam

Aduhai di redup temaram
Menyungkur dalam khidmat sujud
Menghiba dengan wujud
Untuk menggapai cinta tamam

Ke Duli Tuhanku hamba berserah
Mengharap sejumput asa
Kabulkan pinta dalam titah
Untuk hidup nan bahagia
Amin Ya Azza Wajalla!

Galesong, Sabtu Pagi 8 Feb 2014
*Ummu Zakiyah*

°Tas Ummi°

"Ummi ... Ummi ... beliin Zakiyah tas baru ya Mi" anak perempuan 9 tahun itu merajuk manja sambil memeluk ibunya.

"Tasnya kan masih bagus, Sayang."

"Iya sih Mi, tapi teman kelas aku pada beli tas baru Mi"

"Ya kali aja tas mereka emang udh harus ganti Sayang"

"Nggak ah Mi, tas sekolah Zakiyah aja
masih lebih duluan dari punya Sofi, tapi kemarin dia udah pake tas baru lagi lho." ucapnya dengan bibir manyun.

Sambil memeluk anaknya, Sang ibu berkata dengan lembut "sini sayang, Ummi kasih tau .... orang yang beli tas baru, padahal masih memiliki yang layak pakai namanya berlebih-lebihan, dan itu sama aja dengan mubazzir, nah kata Allah nih ya, orang yang mubazzir itu berteman dengan syetan. Kakak Zakiyah mau nggak berteman dengan syetan?" ibunya menatap dengan senyuman

"Iih.. Takut ah Mi, kalau gitu Kakak nggak jadi minta dibeliin tas baru ah"

"Anak Ummi emang pintar deh." ucapan terakhir itu disertai dengan ciuman lembut di pipi anaknya

"Tapi tunggu dulu Mi ..." ucapnya terhenti

"Kenapa sayang?"

"Tapi ... tas Ummi kok banyak ya, ada warna hijau, coklat, hitam, hmm... Warna apalagi ya?" mimik serius mulai tampak di wajah imutnya.

"Berarti Ummi ini, orang yang berlebih-lebihan ya ...?"

Glek!
Perkataan terakhir ini, sempat membuat ibunya terdiam tapi setelah itu ibunya berujar dengan tenang. "Sayang, uang jajan Kak Fira yang udah SMA sama nggak dengan jajannya Zakiyah?"

"Jelas nggak sama dong, Ummi"

"Sama halnya dengan tas Ummi, kebutuhan tas Ummi nggak bisa disamain dengan kebutuhan tasnya Zakiyah, Tas Ummi banyak karena ada fungsinya masing-masing sayang, misalnya yang agak gede ini kalau umi lagi bawa laptop dan buku yang agak gede" sambil nunjukin tas ransel yang warna hitam.

"terus yang agak kecil kalau kebetulan Ummi nggak bawa laptop dan buku besar dan beda lagi kalau Ummi ke pesta, gitu Kakak Sayang" lanjut ibu dengan senyum mengembang, membuat Sang anak ikut tersenyum disertai anggukan setuju mendengar penjelasan ibunya.

-UZ,

-Isyarat Dari Tuhan-

Sepi merajai
Penat merasuki
Keperihan membersit
Saat Penyakit
Pelan menggerogoti
Tepatnya di hati
Miris!

"Apa ini isyarat, Tuhan?"
Bila saatnya
Menuju keabadian
Sadarkan hamba
Dari khilaf
Dari lengah
Hamba insaf, Tuhan!

Tiada jera
Tengadahkan tangan
Dalam sholat dan do'a
Ampunkan hamba
Mudahkanlah, Tuhan!

Ketika tiada daya
Di hadapan pencabut nyawa
Hanya kepada Engkau
Hamba berserah
Bermunajat tanpa lelah
Dalam pengharapan
Kabulkanlah, Tuhan!
Amin Ya Rohman.

-uz,

Lelaki dan Eleginya

Cinta...
Sudikah memulihkan memorimu?
Pada semaian harmoni damba
Yang pernah hiasi taman kasih kita
Ketika sabana kering meranggas
Hadirmulah sanggup menyejukkan
menelisik hingga ke kalbu
Penuhi ruang batin yang merindu

Cinta ...
Lihat rasa hebat yang tak kuasa tertitahkan
dalam diksi sempurna
Tapi ini pasti dan nyata, sayang
Kuharap engkau pun bisa merasainya
Seperti rasaku kepadamu, cinta!

Lihatlah cinta...
Kini ladang itu telah rimbun
oleh mekar bebungaan
Cantik bak taman firdaus
Dengan aneka warna
Begitu menyejukkan di selayang netra
Tak satupun bisa menyangkal
Termasuk engkau.... perempuanku

Tapi kenapa?
Engkau tega Membabat habis
Lalu menyisakan ambisi
Tanpa makna nan terpatri
Dengan tepisan keangkuhanmu
Hingga terberailah asa itu
Hempaskan aku ke lembah duka
Tanpa ampun ....

Cinta ...
Mengapa tak jua engkau akui
Bahwa sayang itu masih mengakar
Terhunjam kuat dalam karsa
Menohok hingga ke sanubari
Bak pilar tak tergoyahkan
Fahamkan aku cinta!
Kalbuku begitu rapuh
Untuk bisa arungi segara logikamu

Sampai kini..
Jeruji cinta masih kuat mengungkung
Takkan lekang oleh masa
Padahal kuncup mawar kini kabur
Tertutup rimbun ilalang
Yang ada hanya nyanyian elegi cinta
Terdengar mengalun tanpa nada
Rasa ini pun tiada usai menemui muaranya
Miris... Cinta!

Semoga engkau insyaf dalam khilafmu
Lalu kembali dalam dekap mesra cintaku
Yang tak juga usai karena ketiadaanmu
Sebab lukisan sayangku tlah termaktub
tertuang apik dalam kanvas kisah syahdu
Bahkan waktu pun tak sanggup menafikannya

cinta ...
Kembali ... Kembalilah perempuan-ku
Biar engkau mafhum
Perihal Lara hati yang merajai
Hingga akhirnya Allah menentukan
Jodoh yang terbaik buat hamba-NYA

°Patah Hati Membuatku Kuat°

Kata orang nih ya, patah hati itu bumbu nya percintaan dan tidak sedikit dari penikmat cinta pernah merasakan efek cinta yang satu ini.

Patah hati biasanya dialami oleh mereka yang pacaran. Padahal mudah saja, jika tak ingin patah hati, jangan pacaran! hehe…

Dalam agama islam, sebenarnya tidak ada istilah pacaran yang ada adalah ta’aruf yaitu perkenalan oleh dua orang yang memang telah berencana untuk menikah dalam waktu dekat.

Menurut KBBI, Patah hati itu adalah (1) hilang keberanian; (2) hilang kemauan; (3) kecewa karena putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal.

Dari arti kata tersebut, dapat diketahui bahwa patah hati bisa terjadi pada pasangan yang masih pacaran dan yang telah menikah meskipun telah melalui jenjang yang mereka sebut pacaran, sebab jangan harap bahwa setelah pacaran bertahun-tahun maka sepasang kekasih bisa lebih mengenal satu sama lain dalam segala hal, terkadang ada sifat pasangan yang baru kita ketahui setelah pernikahan.

Mereka yang masih pacaran cenderung menampakkan sisi positif dan menutup-nutupi hal jelek dari dirinya Sehingga yang terlihat hanya kebaikan saja, setelah pernikahan barulah semuanya ketahuan, yang menyebabkan patah hati kembali rentan terjadi. So… pacaran itu kadang menipu banget ya, guys?

Baiklah, kembali ke pembahasan utama, dari artinya dapat juga difahami bahwa patah hati itu lebih bermakna kepada suatu perasaan atau keadaan yang negatif, lalu bagaimana mengubah kondisi negatif itu menjadi hal yang positif dan menyenangkan? Let’s Cekidot Guys…

Ini pengalaman pribadi saya ketika mengalami hati yang patah dan bagaimana mengubahnya menjadi suatu hal yang menyenangkan.

Sebelum menikah saya pernah simpati kepada seorang teman kuliah yang juga aktivis kampus, ketika akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata dia malah naksir pada cewek lain, dan yang membuat semakin tengsin, karena cowok itu tahu kalau saya pun suka sama dia, OuEmJi.. Betapa hancurnya perasaan saya waktu itu.

Lalu bagaimana mengolah perasaan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan? Waktu itu ada sebuah event kompetisi yang kebetulan diikuti juga oleh cowok yang saya maksud dan cewek gebetannya itu, maka saya berfikir sekarang saatnya menunjukkan kemampuan, bahwa saya bisa lebih baik dari mereka dan bahwa dengan penolakan cinta ini tidak lantas membuat saya down. Walhasil, Semua usaha tidak sia-sia peringkat pertama berhasil saya sabet dengan memanfaatkan emosi karena patah hati, keadaan negatif setelah patah hati saya ubah menjadi energi yang positif dan hasilnya luar biasa, patah hati seketika berubah menjadi perasaan senang. Bunda Asma Nadia menyebut hal ini dengan ‘Dendam Positif’ yaitu perasaan dendam yang diarahkan kepada sesuatu yang positif.

Setahun setelah peristiwa itu, lelaki Sang aktivis kampus melamar saya dan kita pun menikah.
Tapi bukan berarti bahwa setelah pernikahan saya telah terbebas dari patah hati, ada saja hal yang menyebabkan munculnya perasaan itu lagi, misalnya ketika berharap bahwa telah ada seseorang yang bisa mengantar kesana kemari, ke sekolah (waktu itu saya bekerja sebagai guru sukarela pada sebuah SD), ke pasar, ke rumah ibu, ke taklim, atau sekedar kunjungan silaturrahim ke rumah keluarga padahal Sang suami pun sangat sibuk dengan kerjaannya yang bejibun sehingga tidak setiap saat bisa mengantar saya.

Keadaan ini benar-benar di luar harapan (baca:patah hati) jika ingin bepergian harus sibuk dulu mencari tukang ojek, ini saatnya ‘dendam positif’ harus segera diberdayakan, saya lalu ke kantor polisi mengurus SIM padahal waktu itu sama sekali saya belum bisa mengendarai motor tapi kemudian berusaha untuk menaklukkan ‘kuda besi’ milik kami.

Walau sempat terjatuh beberapa kali dan hampir mengalami cacat di bagian wajah tapi saya tak menyerah dan alhamdulillah kali ini hasilnya pun luar biasa.

Beberapa bulan setelahnya, saya lulus PNS dan di tempatkan pada desa terpencil di daerah pegunungan yang jaraknya 3 setengah jam perjalanan dari rumah saya.

Untuk sampai ke wilayah tersebut, harus melalui tempat yang tidak ada penduduknya, jalannya terjal, berliku dan beberapa jurang disisi jalan. Jika tidak memiliki kendaraan sendiri, beberapa tukang ojek siap mengantarkan sampai ke tujuan dan itu tidak mungkin saya lakukan. Saya fikir lebih baik saya naik motor sendiri melalui medan itu daripada diantar oleh tukang ojek yang sama sekali belum saya kenal. Akhirnya rute itu lebih sering saya tempuh sendirian ketika suami tidak bisa mengantar. Saya lalu berfikir, mungkin ini hikmah dari patah hati yang saya alami.

Intinya adalah… suka atau tidak suka, patah hati sewaktu-waktu akan menghampiri hidup kita tapi jika bisa mengolah perasaan itu menjadi energi positif, maka insyaallah Allah SWT. dan hukum alam akan menghadiahkan perasaan bahagia sesudahnya.

Wallahu a’lam bisshowab

Subhanaka Allohumma Wabihamdik Asyhaduanla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaik.

Galesong, 31012014
Bias
Rona
Jingga
Sirna
Tanpa
Makna

Kelam
Dalam
Nuansa
Rasa
Hampa

Cinta
Sayang
Canda
Mesra
Sirna
Tiada
Bekas

Hambar
Bubar !!

*00:00 wita

°MIMPI°


Aduhai tuan Bestari...

Siluetmu masih saja di sini

Disini dalam sukma rapuh ini

Menguasai hati nan penuh rinai

Rinai damba yang kian Sepi

Sepi dari hadirmu lagi

Lagi-lagi aku masih lunglai

Lunglai dalam asa yang kian menepi

Aduhai engkau tuan bestari...

Mengapa tak kesini

Penuhi rasaku dalam kasih

Kasih sayang abadi

Abadi dalam hati

Aduhai tuan bestari...

Disini aku masih menanti

Menanti dalam lapik sunyi

Sesunyi kelam malam ini

Saat damba masih terpatri

Terpatri dalam rona mimpi

Mimpi dalam mimpi

mimpi yang tak pasti....

Galesong, 280114

`BEKAL PULANG`

Pulang!!
Pulanglah
Sekarang atau besok
Kamu pasti akan pulang!!!

Bekal!!
Mana bekalmu
Kemasilah dengan apik
Atau kepulanganmu minim bekal???

Celaka!!
Celaka dua belas
Na'udzubillahi min dzaalik
Tsumma Na'udzubillahi min dzaalik!!!