Penulis: Ummu Zakiyah
"Dik Ais!”
Aisyah, nama perempuan ayu itu terkejut saat mendengar seseorang
memanggilnya kala asik memilih cemilan di sudut sebuah supermarket.
“Kak Rama..? benar ya ini Kak rama? Ais gak mimpi kan?” pertanyaan Aisyah memberondong dengan mimik serius
“Iya benar dik Ais, ini aku. Gimana kabarmu dik?” ujar Rama tenang
Alih-alih menjawab pertanyaan pemuda bernama Rama itu, Aisyah malah
menghambur memeluk Rama erat, seakan tak ingin lagi melepaskan lelaki
yang berparas tampan dengan sedikit jenggot di dagunya.
“Kak
Rama kemana aja? kenapa membiarkan Ais tanpamu… tau nggak sih kalau Ais
kangen banget sama kamu Kak” serbunya seakan ingin meluapkan segala
beban yang tengah menghimpit sukmanya.
“Dik Ais… nggak enak tuh dilihat sama orang” ucap Rama pelan seraya melepaskan tangan Aisyah yang masih melingkar di tubuhnya
Perempuan berpostur mungil itu akhirnya celingukan sendiri, dan
perlahan melepaskan pelukan tapi bola mata hitam miliknya tak jua lepas
menghunjam tepat ke manik mata Rama, sepertinya masih ingin meluapkan
rasa yang tertahan sejak kepergian Rama setahun yang lalu.
Sejenak, pemuda berusia 28 tahun itu dibuat limbung oleh tatapan mata
Aisyah, tatapan sejuta makna yang tak mampu dia tafsirkan tapi segera
Rama terjaga dari hayalnya, ah.. pemilik mata indah itu kini telah jadi
milik orang lain, Rama membatin perih.
“Kak Rama kapan datang dari Bandung?”
“Aku datang semalam Dik Ais, karena ditugaskan lagi di kota ini.”
“Kak Rama, Maafin Dik Ais ya, atas kejadian setahun yang lalu” Aisyah berujar lirih dengan raut sedih.
“Nggak ada yang perlu di maafkan Dik Ais, ini semua sudah menjadi
ketentuan dari Allah SWT bahwa kita ditakdirkan untuk tidak sejodoh”
jelas Rama dengan bijak.
“Kak Rama nggak berubah ya, malah sekarang semakin alim.”
Rama hanya bisa tersenyum mendengar perkataan mantan kekasih nya itu.
“Sepertinya kamu juga nggak berubah Dik Ais, masih tetap cerewet seperti dulu.”
“Dih… Persepsimu tentang aku masih saja seperti itu ya Kak” cecar Aisyah sambil tersipu malu.
“Gimana kabar keluargamu Dik.”
“Alhamdulillah, semua sehat Kak. tapi ayah udah ninggalin Ais dan Ibu,” seketika mata Aisyah berkaca-kaca.
Rama tersentak kaget “Inna lillah wainna ilaihi rojiun, kakak ikut
berduka cita… Dik Ais yang sabar ya, semoga beliau mendapat tempat yang
layak disisi Allah, Amin ya Rabb” tapi seketika itu juga bayangan masa
lalu kembali terngiang dalam benaknya saat ayah Aisyah menolak
lamarannya dan lebih memilih Indra, anak sahabatnya.
“Amin Ya Allah, Trimakasih banyak ya Kak atas doanya.”
“Sama-sama Dik, o ya… aku pamit dulu Dik, masih ada kerjaan nih yang
harus diselesaikan, Kakak nitip salam ke Ibu dan Suami Dik Ais.”
“Suami Ais ditugaskan ke Timika 3 bulan setelah ayah meninggal.”
“lho..kok Dik Ais nggak ikut suami?”
“Ais kasihan sama Ibu, Kak. rasanya nggak tega ninggalin ibu sendirian.
mau ngajak Ibu ke Timika tapi beliau sudah gak kuat bepergian, akhirnya
suami Ais yang ngalah dan kadang pulang sebulan sekali” jelas Ais.
“Mmm… Kak Rama, bisa nggak Ais minta nomer hand phone nya?” lanjutnya
“Bisa Dik” Rama segera menyebutkan deretan angka yang dicatat oleh Ais ke ponselnya.
“Udah dulu ya Dik, sampai jumpa di lain waktu.”
“Kak Rama.. Jangan lupa sms atau telpon Ais ya.”
“Insyaallah Dik” jawab Rama dengan senyum khas nya, senyum yang hingga
saat ini mampu luluhkan hati perempuan berparas manis itu.
Setelah itu mereka berpisah dengan kecamuk perasaan yang tidak mampu di terjemahkan ke dalam untaian kalimat.
***
Pertemuan Aisyah dan Rama tempo hari membuat perempuan ber-postur
mungil itu kadang-kadang terlihat merenung seperti sore ini di teras
rumahnya, Angannya menjelajah ke setahun silam saat ayahnya memutuskan
untuk menjodohkan dia dengan Indra.
Betapa frustasinya Aisyah kala
itu, padahal ayah nya tahu kalau ia mempunyai teman dekat, pemuda asal
Bandung yang terpelajar dan sopan.
Hampir semua orang tua
mungkin menginginkan anak nya mendapat jodoh seperti Rama, pemuda yang
agamis dan kehidupan yang sudah mapan dengan posisi penting pada sebuah
perusahaan asuransi ternama.
Tapi tidak demikian dengan ayah
Aisyah, dia tetap ngotot menjodohkan putri semata wayangnya dengan
Indra, alasannya satu.. bahwa dia dan ayah indra telah berjanji untuk
menikahkan anak mereka.
Pernikahan itu pun tak terelakkan, dan
orang yang paling menderita setelah Aisyah adalah Rama, pemuda itu
seakan terhempas dalam kubangan kesedihan yang teramat dalam, tak
terperikan lagi betapa perasaannya remuk redam saat lamarannya di tolak
mentah-mentah oleh ayah kekasihnya, perempuan yang sejak lama telah di
idam-idamkan menjadi permaisuri hidup
dan akan melahirkan anak-anak nya kelak.
Tapi semuanya hanya mimpi yang telah usai, sirna bersama keputusan ayah
Aisyah yang terlalu jahat menurut Rama. Dinasti kebahagiaan bersama
Aisyah yang telah tertata rapi dalam benaknya akhirnya runtuh tanpa
ampun, Rama terjerembab dalam ketidakpastian asa, rasa dan cinta.
Setelah kejadian itu, Rama berusaha tegar kembali dan mencoba menata puing-puing hati yang tengah bercerai.
“Lelaki sejati yang beriman tak bisa terus-terusan berada dalam
kegamangan hati yang tak pasti, aku harus kuat dan melanjutkan
mimpi-mimpi indah yang menanti untuk diwujudkan, rasa sakit ini tak bisa
mengalahkanku”
Rama berfikir demikian semata untuk menghibur kegelisahan jiwanya dan mencoba memulihkan Kekuatan batinnya.
Untuk menghapus jejak kelam cintanya, Rama pindah ke Bandung dengan
satu harapan agar bisa melupakan dan meninggalkan semua kenangan indah
bersama Aisyah pujaan hatinya.
***
Pukul 12.20 wita, Rama baru saja selesai sholat dhuhur.
Buru-buru dia mengambil kunci mobil lalu pamit ke temannya akan Mencari makan di luar.
Siang ini cuaca kota Makassar lagi bersahabat, hujan tidak lagi
mengguyur bumi, mentari pun masih enggan memunculkan dirinya, Rama
mengarahkan mobil menuju resto yang tepat berhadapan dengan pantai
losari.
Pantai yang paling terkenal di kota ini dan banyak
diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Dan kini terkenal pula
dengan Masjid terapung “Amirul Mukminin”, yang dibangun diatas laut
dengan tiang pancang yang sangat kokoh.
Tidak berselang beberapa lama, Rama telah memarkir mobilnya dengan mudah karena sepertinya resto ini lagi sepi pengunjung.
Dengan langkah santai Rama menuju lantai 2, tempat favorit dia dan
Aisyah ketika menikmati makanan, dari sini… Hembusan angin laut terasa
menyejukkan sambil menikmati suguhan panorama pantai yang membuat setiap
mata tiada jemu memandang.
Tiba-tiba langkah Rama terhenti,
dia terhenyak sesaat ketika melihat bahwa di tempat duduk itu ada Aisyah
yang tengah asyik menyeruput 'avocado juice' kesukaannya, sungguh ia
tak menyangka jika di tempat ini ada Aisyah juga. Sekuat tenaga ia
berusaha menetralkan rasa hati yang sejenak bergemuruh tatkala melihat
sosok perempuan yang baru saja menari-nari di benaknya.
“Astagfirullah, aku harus melawan rasa ini, Aisyah sudah jadi milik
orang lain…kalaupun aku sayang sama dia, maka sayangku ini tak lebih
dari kasih sayang seorang kakak kepada adiknya” Rama membatin
Sengaja dia berjalan dari arah depan agar kehadirannya tidak mengejutkan perempuan yang kadang masih manja itu
“Kak Ramaa… rupanya kakak ada di resto ini juga ya” Aisyah terlihat
sangat girang melihat kedatangan Rama lalu sejurus kemudian binar-binar
senyum segera menghias wajahnya, saat melihat Rama berjalan kearahnya
“Tadi aku lewat di jalan ini, karena kebetulan belum makan jadi sekalian mampir deh” jawab Rama sekenanya
“Ah..Kak Rama bohongin Ais, kakak pasti kangen ya sama Ais..makanya kak
Rama sengaja kesini. Ais tahu kok, karena Ais juga kangen sama kakak
makanya Ais kemari” sergah Aisyah dengan gaya centilnya
“Sok tahu kamu dik” jawab Rama sambil tersenyum setelah duduk nyaman tepat di depan Aisyah
“Ya udah kalau nggak mau ngaku, Dik Ais pulang aja nih…” Aisyah merajuk
dengan mulut yang sengaja di buat monyong hingga terlihat lucu
“Ya udah, pulang sana!” ucap Rama tak bisa menahan senyumnya
Aisyah malah makin manyun, lalu beranjak dari tempat duduknya tapi tidak berlalu, dia malah pindah dan duduk di dekat Rama
Spontan Rama menjauh dan menjaga jarak dengan Aisyah
“Dik… Ais, ingat lho… Dik Ais udah nikah, kita harus jaga sikap jangan
sampai syetan merasuki lalu menguasai fikiran kita, naudzubillahi min
zaalik. Ujar Rama pelan tapi dengan nada yang tegas!
“Tapi Ais belum sepenuhnya bisa cinta sama Bang Indra, Kak.”
Kedatangan seorang waitres sejenak membuat keduanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Silahkan mau pesan apa Mbak, Mas” pertanyaan itu membuyarkan suasana
“Dik Ais mau pesan apa?”
“Seperti biasa Kak”
Rama lalu menulis pesanannya dan pesanan Aisyah yang sudah sangat dihafalnya.
Setelah pelayan itu berlalu dari hadapan mereka, Rama melanjutkan perkataannya dengan mimik yang serius
“Dik Ais, kalau kamu terus-terusan seperti ini, Kak Rama akan menjauhi
kamu lagi. Kak Rama nggak mau di anggap merusak keluarga orang lain”
“Kak Rama jahatin Ais, Kak Rama nggak sayang lagi sama Ais” mata gadis itu sudah mulai berkaca-kaca
Seketika badan Rama dihadapkan ke Aisyah lalu berujar serius
“Dik Ais… Dengerin Kakak ya, Selamanya aku akan sayang sama kamu, tapi
sayang sebagai seorang kakak kepada adik nya, jadi gak mungkin kakak
tega jahatin kamu. Sekarang posisi kita sudah beda, kamu sudah jadi
istri orang, maka sebisa mungkin kamu harus berusaha mencintainya dik
Ais dan menjadi istri yang baik buat dia” jelas Rama panjang lebar
“Udah Pak Ustadz ceramahnya?” lanjut Aisyah
“Kamu masih bandel ya dik seperti dulu”
“Biarin”
“Dasar anak manja” timpal rama serius lalu geleng-geleng kepala melihat perempuan yang terpaut 6 tahun itu di bawah nya.
Saat menikmati makanan, tak banyak kata lagi yang terucap… Mereka asik
dengan pikiran masing-masing. Hanya sekali terdengar Aisyah menyeletuk
ringan
“Kalau udah punya calon istri, jangan lupa kenalin ke Ais ya kak”
“Itu Sudah pasti Dik Ais, tenang aja” jawab Rama ringan.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Rama segera membayar ke kasir dan mengajak Aisyah meninggalkan restoran.
“Kakak anterin kamu pulang ya dik”
“Iya bisa Kak, asalkan Dik Ais yang bawa mobilnya ya”
“Kamu gak bakalan kuat Dik”
“Kenapa Kak?”
“Ya iyalah, mobil itu nggak di bawa lho Dik tapi dikendarai”
“Nah, itu maksud Ais”
Bersamaan dengan itu mereka tertawa lepas, bahagia.. saat berjalan menuju CR-V putih milik Rama.
Aisyah menyetir Mobil dengan tenang tanpa banyak bicara, begitu pula hal nya dengan Rama.
Tepat di depan rumahnya, Aisyah menepikan mobil yang di kendarai nya lalu segera turun dan mengucapkan terima kasih ke Rama
“See you kakak Rama, thanks so much ya traktirannya”
“Sama-sama Dik Ais” lalu mereka berpisah dengan senyuman penuh misteri, hanya mereka yang tahu artinya.
***
Di depan pintu, Ibu menyambut Aisyah dengan kuatir
"Assalamualaikum, Bu"
“Wa'alaikumsalam, Siapa yang ngantar kamu Nak Ais?”
“Kak Rama, bu. Ibu masih ingat dia kan?”
“Anak Bandung itu ya, Nak?”
“nilai 100 deh buat Ibu”
Sambil mengatakan itu Aisyah sudah berjalan riang menuju kamarnya, meninggalkan Ibunya yang masih bingung.
Sang Ibu hanya bisa terduduk diam di kursi tamu, jika menyebut kata
Bandung tiba-tiba di pikiran nya menyeruak ingatan tentang kisah yang
pernah di ceritakan oleh ayah Aisyah, 28 tahun silam sebelum menikah
dengannya, Ayah Aisyah pernah tinggal bersama bibinya di Bandung tapi
karena kesalahan yang diperbuat menyebabkan ia terpaksa meninggalkan
Bandung hingga akhirnya masing-masing telah hilang kontak.
***
Pukul 20.00 wita.
Setelah sholat isya dan mengulang beberapa hafalan surah, Rama
merebahkan badan nya di atas springbed hendak melepas kepenatan,
tiba-tiba saja mata nya tertumbuk pada dompet coklat tua yang di ambil
dari mobilnya. Diraihnya benda itu lalu meniliknya beberapa saat
“Dompet ini milik siapa ya, kalau bukan punya Dik Ais boleh jadi ini
milik Bu Indah sebab tadi sore mobil juga dipinjam oleh beliau” tebak
Rama dalam hatinya
“Di dalam nya pasti ada tanda pengenal, mungkin sebaiknya aku liat dulu biar besok bisa langsung mengembalikan ke orangnya”
Pelan dibukanya dompet itu, pada sisi kiri terdapat KTP atas nama
'Aisyah Humairoh' dan sisi lain nya terdapat foto pasangan suami istri
beserta seorang anak perempuan kecil, sudah agak buram tapi masih nampak
jelas gambar orang yang ada di dalamnya, Rama seketika terkesima....
sebab di dompetnya juga ada foto yang nyaris mirip dengan foto yang
tengah berada di tangannya ini.
Segera dia mengambil dompet
nya, lalu mengeluarkan foto ibu dan ayahnya, foto itu di letakkan
berdekatan dengan foto Aisyah, dan ”Masyaallah…. “ ucapnya tertahan
dengan ekspresi kaget yang luar biasa...
“Dik Ais, ternyata kita saudara, ayahmu dan ayahku adalah orang yang sama”
Rama terkulai lemas, nafasnya terasa tercekat ditenggorokan, hanya bibirnya yang bergumam lirih...
"Subhanallah!"
*The End
#Sejak
zaman 'baheulah'.. Permasalahan yang dihadapi oleh manusia kebanyakan
berasal dari kesalahannya sendiri, lalu kenapa manusia tak menjadikan
sejarah dan kisah-kisah masa lalu sebagai pembelajaran agar tak terjadi
lagi permasalahan karena kesalahan serupa? (Ummu Zakiyah)