Kamis, 13 Februari 2014

°Patah Hati Membuatku Kuat°

Kata orang nih ya, patah hati itu bumbu nya percintaan dan tidak sedikit dari penikmat cinta pernah merasakan efek cinta yang satu ini.

Patah hati biasanya dialami oleh mereka yang pacaran. Padahal mudah saja, jika tak ingin patah hati, jangan pacaran! hehe…

Dalam agama islam, sebenarnya tidak ada istilah pacaran yang ada adalah ta’aruf yaitu perkenalan oleh dua orang yang memang telah berencana untuk menikah dalam waktu dekat.

Menurut KBBI, Patah hati itu adalah (1) hilang keberanian; (2) hilang kemauan; (3) kecewa karena putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal.

Dari arti kata tersebut, dapat diketahui bahwa patah hati bisa terjadi pada pasangan yang masih pacaran dan yang telah menikah meskipun telah melalui jenjang yang mereka sebut pacaran, sebab jangan harap bahwa setelah pacaran bertahun-tahun maka sepasang kekasih bisa lebih mengenal satu sama lain dalam segala hal, terkadang ada sifat pasangan yang baru kita ketahui setelah pernikahan.

Mereka yang masih pacaran cenderung menampakkan sisi positif dan menutup-nutupi hal jelek dari dirinya Sehingga yang terlihat hanya kebaikan saja, setelah pernikahan barulah semuanya ketahuan, yang menyebabkan patah hati kembali rentan terjadi. So… pacaran itu kadang menipu banget ya, guys?

Baiklah, kembali ke pembahasan utama, dari artinya dapat juga difahami bahwa patah hati itu lebih bermakna kepada suatu perasaan atau keadaan yang negatif, lalu bagaimana mengubah kondisi negatif itu menjadi hal yang positif dan menyenangkan? Let’s Cekidot Guys…

Ini pengalaman pribadi saya ketika mengalami hati yang patah dan bagaimana mengubahnya menjadi suatu hal yang menyenangkan.

Sebelum menikah saya pernah simpati kepada seorang teman kuliah yang juga aktivis kampus, ketika akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata dia malah naksir pada cewek lain, dan yang membuat semakin tengsin, karena cowok itu tahu kalau saya pun suka sama dia, OuEmJi.. Betapa hancurnya perasaan saya waktu itu.

Lalu bagaimana mengolah perasaan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan? Waktu itu ada sebuah event kompetisi yang kebetulan diikuti juga oleh cowok yang saya maksud dan cewek gebetannya itu, maka saya berfikir sekarang saatnya menunjukkan kemampuan, bahwa saya bisa lebih baik dari mereka dan bahwa dengan penolakan cinta ini tidak lantas membuat saya down. Walhasil, Semua usaha tidak sia-sia peringkat pertama berhasil saya sabet dengan memanfaatkan emosi karena patah hati, keadaan negatif setelah patah hati saya ubah menjadi energi yang positif dan hasilnya luar biasa, patah hati seketika berubah menjadi perasaan senang. Bunda Asma Nadia menyebut hal ini dengan ‘Dendam Positif’ yaitu perasaan dendam yang diarahkan kepada sesuatu yang positif.

Setahun setelah peristiwa itu, lelaki Sang aktivis kampus melamar saya dan kita pun menikah.
Tapi bukan berarti bahwa setelah pernikahan saya telah terbebas dari patah hati, ada saja hal yang menyebabkan munculnya perasaan itu lagi, misalnya ketika berharap bahwa telah ada seseorang yang bisa mengantar kesana kemari, ke sekolah (waktu itu saya bekerja sebagai guru sukarela pada sebuah SD), ke pasar, ke rumah ibu, ke taklim, atau sekedar kunjungan silaturrahim ke rumah keluarga padahal Sang suami pun sangat sibuk dengan kerjaannya yang bejibun sehingga tidak setiap saat bisa mengantar saya.

Keadaan ini benar-benar di luar harapan (baca:patah hati) jika ingin bepergian harus sibuk dulu mencari tukang ojek, ini saatnya ‘dendam positif’ harus segera diberdayakan, saya lalu ke kantor polisi mengurus SIM padahal waktu itu sama sekali saya belum bisa mengendarai motor tapi kemudian berusaha untuk menaklukkan ‘kuda besi’ milik kami.

Walau sempat terjatuh beberapa kali dan hampir mengalami cacat di bagian wajah tapi saya tak menyerah dan alhamdulillah kali ini hasilnya pun luar biasa.

Beberapa bulan setelahnya, saya lulus PNS dan di tempatkan pada desa terpencil di daerah pegunungan yang jaraknya 3 setengah jam perjalanan dari rumah saya.

Untuk sampai ke wilayah tersebut, harus melalui tempat yang tidak ada penduduknya, jalannya terjal, berliku dan beberapa jurang disisi jalan. Jika tidak memiliki kendaraan sendiri, beberapa tukang ojek siap mengantarkan sampai ke tujuan dan itu tidak mungkin saya lakukan. Saya fikir lebih baik saya naik motor sendiri melalui medan itu daripada diantar oleh tukang ojek yang sama sekali belum saya kenal. Akhirnya rute itu lebih sering saya tempuh sendirian ketika suami tidak bisa mengantar. Saya lalu berfikir, mungkin ini hikmah dari patah hati yang saya alami.

Intinya adalah… suka atau tidak suka, patah hati sewaktu-waktu akan menghampiri hidup kita tapi jika bisa mengolah perasaan itu menjadi energi positif, maka insyaallah Allah SWT. dan hukum alam akan menghadiahkan perasaan bahagia sesudahnya.

Wallahu a’lam bisshowab

Subhanaka Allohumma Wabihamdik Asyhaduanla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaik.

Galesong, 31012014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar