Kata orang nih ya, patah hati itu
bumbu nya percintaan dan tidak sedikit dari penikmat cinta pernah
merasakan efek cinta yang satu ini.
Patah hati biasanya dialami oleh mereka yang pacaran. Padahal mudah saja, jika tak ingin patah hati, jangan pacaran! hehe…
Dalam agama islam, sebenarnya tidak ada istilah pacaran yang ada adalah
ta’aruf yaitu perkenalan oleh dua orang yang memang telah berencana
untuk menikah dalam waktu dekat.
Menurut KBBI, Patah hati itu
adalah (1) hilang keberanian; (2) hilang kemauan; (3) kecewa karena
putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal.
Dari arti
kata tersebut, dapat diketahui bahwa patah hati bisa terjadi pada
pasangan yang masih pacaran dan yang telah menikah meskipun telah
melalui jenjang yang mereka sebut pacaran, sebab jangan harap bahwa
setelah pacaran bertahun-tahun maka sepasang kekasih bisa lebih mengenal
satu sama lain dalam segala hal, terkadang ada sifat pasangan yang baru
kita ketahui setelah pernikahan.
Mereka yang masih pacaran
cenderung menampakkan sisi positif dan menutup-nutupi hal jelek dari
dirinya Sehingga yang terlihat hanya kebaikan saja, setelah pernikahan
barulah semuanya ketahuan, yang menyebabkan patah hati kembali rentan
terjadi. So… pacaran itu kadang menipu banget ya, guys?
Baiklah, kembali ke pembahasan utama, dari artinya dapat juga difahami
bahwa patah hati itu lebih bermakna kepada suatu perasaan atau keadaan
yang negatif, lalu bagaimana mengubah kondisi negatif itu menjadi hal
yang positif dan menyenangkan? Let’s Cekidot Guys…
Ini pengalaman pribadi saya ketika mengalami hati yang patah dan bagaimana mengubahnya menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Sebelum menikah saya pernah simpati kepada seorang teman kuliah yang
juga aktivis kampus, ketika akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata dia
malah naksir pada cewek lain, dan yang membuat semakin tengsin, karena
cowok itu tahu kalau saya pun suka sama dia, OuEmJi.. Betapa hancurnya
perasaan saya waktu itu.
Lalu bagaimana mengolah perasaan itu
menjadi sesuatu yang menyenangkan? Waktu itu ada sebuah event kompetisi
yang kebetulan diikuti juga oleh cowok yang saya maksud dan cewek
gebetannya itu, maka saya berfikir sekarang saatnya menunjukkan
kemampuan, bahwa saya bisa lebih baik dari mereka dan bahwa dengan
penolakan cinta ini tidak lantas membuat saya down. Walhasil, Semua
usaha tidak sia-sia peringkat pertama berhasil saya sabet dengan
memanfaatkan emosi karena patah hati, keadaan negatif setelah patah hati
saya ubah menjadi energi yang positif dan hasilnya luar biasa, patah
hati seketika berubah menjadi perasaan senang. Bunda Asma Nadia menyebut
hal ini dengan ‘Dendam Positif’ yaitu perasaan dendam yang diarahkan
kepada sesuatu yang positif.
Setahun setelah peristiwa itu, lelaki Sang aktivis kampus melamar saya dan kita pun menikah.
Tapi bukan berarti bahwa setelah pernikahan saya telah terbebas dari
patah hati, ada saja hal yang menyebabkan munculnya perasaan itu lagi,
misalnya ketika berharap bahwa telah ada seseorang yang bisa mengantar
kesana kemari, ke sekolah (waktu itu saya bekerja sebagai guru sukarela
pada sebuah SD), ke pasar, ke rumah ibu, ke taklim, atau sekedar
kunjungan silaturrahim ke rumah keluarga padahal Sang suami pun sangat
sibuk dengan kerjaannya yang bejibun sehingga tidak setiap saat bisa
mengantar saya.
Keadaan ini benar-benar di luar harapan
(baca:patah hati) jika ingin bepergian harus sibuk dulu mencari tukang
ojek, ini saatnya ‘dendam positif’ harus segera diberdayakan, saya lalu
ke kantor polisi mengurus SIM padahal waktu itu sama sekali saya belum
bisa mengendarai motor tapi kemudian berusaha untuk menaklukkan ‘kuda
besi’ milik kami.
Walau sempat terjatuh beberapa kali dan
hampir mengalami cacat di bagian wajah tapi saya tak menyerah dan
alhamdulillah kali ini hasilnya pun luar biasa.
Beberapa bulan
setelahnya, saya lulus PNS dan di tempatkan pada desa terpencil di
daerah pegunungan yang jaraknya 3 setengah jam perjalanan dari rumah
saya.
Untuk sampai ke wilayah tersebut, harus melalui tempat
yang tidak ada penduduknya, jalannya terjal, berliku dan beberapa jurang
disisi jalan. Jika tidak memiliki kendaraan sendiri, beberapa tukang
ojek siap mengantarkan sampai ke tujuan dan itu tidak mungkin saya
lakukan. Saya fikir lebih baik saya naik motor sendiri melalui medan itu
daripada diantar oleh tukang ojek yang sama sekali belum saya kenal.
Akhirnya rute itu lebih sering saya tempuh sendirian ketika suami tidak
bisa mengantar. Saya lalu berfikir, mungkin ini hikmah dari patah hati
yang saya alami.
Intinya adalah… suka atau tidak suka, patah
hati sewaktu-waktu akan menghampiri hidup kita tapi jika bisa mengolah
perasaan itu menjadi energi positif, maka insyaallah Allah SWT. dan
hukum alam akan menghadiahkan perasaan bahagia sesudahnya.
Wallahu a’lam bisshowab
Subhanaka Allohumma Wabihamdik Asyhaduanla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaik.
Galesong, 31012014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar