Senin, 31 Maret 2014

WEIRD BEARD


Jenggot Aneh.

perkenalkan, saya ibu rumah tangga dengan dua anak. Dua hari terakhir ini saya mempunyai kebiasaan baru yaitu ngelus-ngelus jenggot. O ya... jenggot itu kan biasanya hanya dimiliki oleh para pria? adanya di dagu, berbulu dan berwarna hitam bukan? yup benar, semua ciri-ciri itu ada pada saya kecuali satu bahwa saya ini ibu-ibu dan seorang ibu itu pastilah perempuan dan suatu keanehan jika ada perempuan yang punya jenggot, bukan? :D

Tapi ini beneran lho, makanya keanehan itulah yang jadi inspirasi tulisan ini (ceile... bahasanya :D ) dan inilah  yang tidak lazim dari jenggot saya, yaitu bulunya yang berupa  kulit kering berwarna hitam yang berasal dari luka  tapi enak banget jika dielus-elus, dipreteli dan dicabuti, nah lho :D

Tulisan ini nggak penting banget ya :D tapi penting nggak penting, yang penting kita masih bisa tersenyum... ihihihi...

Salam Peace, Smile and Love....

Sabtu, 29 Maret 2014

Dicium pemabuk


Dhuarr. ... motorku terpental, akibat tabrakan hebat dari arah belakang, tubuhku terguling-guling, muka mencium aspal, sekuat tenaga aku berusaha menahan agar badan ini segera terhenti dari lajunya. 

Beban berat di punggung yang berisi laptop 14" untuk merampungkan tugas academi KBM dan beberapa buku tebal ANPH lumayan membantu. Karena berat badanku bertumpu di punggung, maka cangklongku itulah yang pertama kali menghantam bumi, bagian depannya hancur, isinya berserakan termasuk modem yang kini tak ketahuan lagi rimbanya. 

Tubuhku terhenti tepat di tengah aspal jalur propinsi Takalar-Jeneponto, beberapa mobil terlihat dari kedua arah, pelan-pelan aku beringsut ke tepi jalan, takutnya ada kendaraan lain yang ikut menyeruduk. 

Sekilas aku melihat laki-laki yang menabrakku dengan motornya tergeletak tak bergerak di seberang jalan, semoga dia tidak mati, begitu doaku dalam hati. 

Orang-orang berdatangan dan menolong, tak berselang lama seorang polisi datang dan melaporkan bahwa yang menabrakku tadi dalam keaadaan mabuk, dari mulutnya yang berbau minuman keras, terlihat beberapa gigi copot dan menyisakan banyak darah. Kmarin sore itu, rupanya motorku dicium pemabuk.

Mungkin aku harus istirahat, ampunkan hamba ya Allah.

Pagi, pekan terakhir di bulan Maret 2014

Senin, 24 Maret 2014

Prinsip-Prinsip Menulis Fiksi


Minggu, 22 Agustus 2010

Oleh Denny Prabowo


Duduk dan lakukan! Begitu nasihat Josip Novakovich dalam bukunya, Berguru kepada Sastrawan Dunia. Masalahnya apa yang harus dilakukan kalau tidak ada ide untuk dituliskan? Mungkin itu pertanyaan yang segera muncul di kepala kamu. Suatu kali teman saya, penulis cerpen di majalah remaja, bertanya seperti ini, “Apakah kamu pernah merasa takut kehabisan ide?” Hmm … rasanya saya lebih takut kehabisan waktu dan motivasi untuk menulis daripada takut kehilangan ide. Bahkan seringkali saya kesulitan menulis, justru karena begitu banyak ide yang berebut minta dituangkan menjadi sebuah cerita. Yup, ide itu ada di sekitar kita. Terkadang ada di dalam diri kita sendiri. Hanya saja, kita sering lebih suka mencari-cari semut di seberang lautan, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Lalu bagaimanakah caranya agar gajah di pelupuk mata itu dapat terlihat? Apa yang harus dilakukan, agar kita tak perlu mencari-cari semut di seberang lautan, dan membuat semut-semut itu merubungi kita? Berikut ini prinsip-prinsip yang dapat kamu terapkan dalam mengelola ide menjadi sebuah fiksi.

Prinsip #1: Penulis yang baik adalah pengamat yang baik Seorang penulis sudah semestinya adalah seorang pengamat. Penulis yang baik adalah pengamat yang baik. Pengamat yang baik haruslah memiliki kepekaan dan ketertarikan pada segala hal. Ketertarikan seorang penulis pada objek yang dianggap remeh dan biasa oleh sebagian orang, membuatnya tak akan pernah kehabisan cerita. Seperti menimbun ide di lumbung imaji. Seorang teman di FLP pernah mengatakan pada saya, kalau dia tidak suka menulis tentang terminal dan pasar karena menganggap tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan. Bagaimana kita dapat menjadi pengamat yang memiliki kepekaan jika kita membatasi ketertarikan pada sesuatu? Padahal, menjadi pengamat yang baik adalah kunci menjadi penulis yang baik, yang dengannya kita tak akan pernah kehabisan ide cerita untuk dituliskan. Mulai sekarang buka mata dan telinga. Perhatikan sekitar kamu. Apakah ada yang bisa kamu tuliskan? Jangan melakukan pemilahan berdasarkan kemenarikan. Karena yang kamu anggap tidak menarik, bisa jadi sangat menarik bagi orang lain. Cobalah belajar untuk mencari hal menarik dari sesuatu yang selama ini kamu anggap tidak menarik. Jika prinsip pertama ini kamu jalankan, kamu tak akan pernah kehabisan bahan cerita untuk dituliskan.

Prinsip #2:
Realitas sebagai bahan mentah Setelah novel remaja pertama saya, Pemuda dalam Mimpi Edelweiss (Lingkar Pena Publishing House, 2006) diterbitkan, banyak pembaca yang bertanya pada saya melalui email atau ponsel: “Apakah karya itu berdasarkan kisah nyata?” Novel itu bercerita tentang seorang gadis pendaki bernama Edelweiss. Bukan kebetulan jika saya juga sering naik gunung. Maka banyak pembaca mengira, tokoh Fajar (kakaknya Edelweiss) dalam novel itu tak lain adalah diri saya sendiri. Dan Edelweiss adalah penjelmaan dari adik saya. Kebetulan memang saya dua bersaudara. Dan kebetulan pula adik saya perempuan. Hanya saja, adik saya bukan seorang pendaki, bahkan seumur hidupnya belum pernah mendaki gunung. Kehidupan adik saya jauh dari dunia pendakian. Kalau begitu, bagaimana tokoh Edelweiss itu bisa hadir? Kalau Plato beranggapan bahwa sastra dan seni hanya peniruan, peneladanan, atau pencerminan dari kenyataan, Aristoteles di pihak lain, beranggapan bahwa dalam proses penciptaan, sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan, tetapi sekaligus menciptakan sebuah “dunia” dengan kekuatan kreativitasnya. Dunia yang diciptakan pengarang adalah sebuah dunia yang baru, dunia yang diidealkan, dunia yang mungkin dan dapat terjadi walau sebenarnya tidak pernah terjadi. Pendapat Aristoteles ini menjelaskan pada kita, mengapa novel fiksi yang saya tulis, membuat pembaca menduga kalau karya itu ditulis berdasarkan kisah nyata saya. Realitas di dalam dunia fiksi hanyalah bahan mentah untuk mengkreasi “dunia baru”, yaitu dunia fiksi. Prinsip yang kedua ini, realitas atau kenyataan hidup yang kita alami bukanlah cerita yang sudah jadi, tetapi bahan mentah. Kita perlu mengolah bahan itu agar menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dinikmati.

Prinsip #3:
Buku kecil seorang penulis Berapa usiamu sekarang? 13 tahun? 17 tahun? Atau 21 tahun? Sepanjang kehidupan kamu, sejak dari dalam kandungan sampai pada usiamu yang sekarang adalah kenyataan hidup. Apa saja yang kamu ingat dari perjalanan panjang kehidupanmu itu? Mungkin tidak banyak. Ingatan seringkali melakukan proses seleksi terhadap pengalaman atau realitas yang dialami oleh seseorang. Akibatnya, tak banyak yang kita ingat. Padahal, seandainya kamu mampu mengingat atau mengetahui keseluruhan perjalanan hidupmu, betapa kamu telah menimbun ide di lumbung imaji. Kamu akan memiliki bahan mentah untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita. Oleh sebab itu, diperlukan sarana yang dapat menampung pengalaman kamu (baik itu pengalaman empiris, pengalaman membaca, atau pengalaman menonton). Semacam buku catatan untuk menampung segala yang pernah kamu lihat, kamu dengar, atau kamu pikirkan. Tuliskan saja semua yang muncul tanpa mencemaskan apakah hal itu merupakan ide yang baik atau buruk. Tuliskan saja semuanya tanpa melakukan proses seleksi seperti yang dilakukan oleh ingatan kita. Jika kamu malas mencatatnya atau malas membawa-bawa buku catatan, mengapa kamu tidak mencobanya dengan alat perekam? Prinsip yang ketiga ini, mulailah melakukan pengamatan dan catatlah!

Prinsip #4:
Bagaimana jika…? Setelah kamu memiliki banyak bahan mentah, apakah kamu masih kesulitan untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita fiksi? Apa yang membuat kamu kesulitan? Apakah karena pengalaman-pengalaman yang berhasil kamu catatkan dalam buku catatanmu itu tidak cukup menarik? Apabila masalah itu yang kamu hadapi, maka prinsip keempat ini akan membantumu untuk mengembangkan cerita dari pengalaman yang kamu anggap kurang menarik. Mungkin kamu terlalu membatasi idemu pada kehidupan nyata. Kamu hanya menuliskannya sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ingat, kita akan menulis fiksi, bukan sebuah reportase. Apakah pengalaman melihat seekor anjing mengorek-ngorek sampah cukup menarik? Jika jawabanmu “tidak”, maka yang perlu kamu lakukan adalah mencoba untuk mengajukan pertanyaan sederhana ini: bagaimana jika saat mengorek-ngorek sampah, anjing itu menemukan seorang bayi menangis dalam kardus? Lihat, bagaimana pertanyaan sederhana itu mampu membuat peristiwa yang tidak menarik menjadi memiliki nilai konflik atau permasalahan yang cukup besar. Setiap jawaban yang kamu pilih dari pertanyaan sederhana itu, akan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Dan jika keseluruhan pertanyaan itu telah kamu jawab, sebuah cerita siap kamu tuliskan. Menulis fiksi adalah proses menemukan sebuah kemungkinan. Prinsip yang keempat adalah kamu perlu memperbesar kemungkinan dengan mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana jika…?

Prinsip #5:
Mari berimajinasi Prinsip ini merupakan prinsip terpenting yang mutlak harus dimiliki oleh seorang penulis fiksi. Suatu kali dalam milis kepenulisan, mengemuka wacana: apakah menjadi penulis itu merupakan bakat? Pendapat dalam milis itu terbagi tiga kelompok. Kelompok pertama memercayai bahwa bakat mutlak diperlukan. Kelompok kedua menganggap proses latihan yang akan menentukan seseorang menjadi penulis. Kelompok terakhir, mereka yang memilih berada di tengah-tengah: bakat dan latihan diperlukan. Saya tidak akan meminta kamu memilih mana pendapat yang paling tepat. Yang ingin saya katakan adalah tidak satu pun dari ketiga kelompok itu, yang memperhitungkan imajinasi sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki seorang penulis. Yup! Imajinasi. Meski kamu memiliki bakat dan rajin berlatih menulis fiksi, tanpa imajinasi kamu hanya mungkin menulis sebuah reportase—bahkan penulisan sebuah reportase pun membutuhkan imajinasi. Seorang penyair bernama Cecep Syamsul Hari, dalam “Puisi dan Yang Lain” (Majalah Horison Tahun XLII, No.8/ Agustus 2007: 5) mengatakan, “Imajinasi bukanlah mimpi atau fantasi. Ia adalah kualitas untuk menghadirkan realitas yang dialami (experienced-reality) dan realitas yang ditafsirkan (interpreted-reality) yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Dalam bahasa sederhananya, imajinasi merupakan kemampuan menghadirkan realitas dalam citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecapan, perabaan, dan citraan kinestetik atau gerak. Kamu mungkin telah berhasil menyusun plot melalui prinsip kelima (baca: bagaimana jika…?). Namun, untuk membuat gambaran utuh, kamu membutuhkan imajinasi. Imajinasi yang akan membentuk plot itu menjadi rangkaian peristiwa yang mewujud dalam latar, tokoh, dan adegan yang dapat diasosiasi pembaca.

Prinsip #6: Ayo membaca! Suatu ketika dalam talkshow kepenulisan, saya pernah ditanya oleh peserta yang hadir, “Bagaimana cara mengatasi kemacetan dalam menulis?” Katanya lagi, “Saya suka menulis, tapi tidak suka membaca.” Penanya itu sudah menjawab sendiri pertanyaannya. Kemacetannya dalam menulis atau mengembangkan ide cerita karena ia tidak suka membaca. Ada penulis yang tidak mau membaca karya fiksi penulis lain karena menurutnya, hal itu akan membuat karyanya jadi terpengaruh oleh karya orang. Akibatnya, karyanya jadi tidak orisinal. Kalau ia tak pernah membaca karya orang, bagaimana dia berani menjamin bahwa karya yang ditulisnya itu orisinal, alias belum pernah ditulis oleh orang lain? Penulis yang berpendapat seperti itu, sesungguhnya tengah mengurung dirinya dalam sebuah kotak. Lagipula, apa sih yang bisa dikatakan orisinal di dunia yang renta ini, kalau untuk menguburkan jasad Habil, Qabil harus meniru seekor burung? Tidak ada ide yang benar-benar orisinal, yang ada hanyalah cara menceritakan yang berbeda. Dan untuk menemukan cara menceritakan yang berbeda, kamu harus membaca. Hanya dengan membaca, kamu bisa menemukan perbedaan yang dapat kamu kembangkan menjadi ciri khas kamu! Menulis merupakan saudara kembar membaca. Tanpa membaca, kamu akan kesulitan mengembangkan ceritamu. Sebagai contoh, kamu ingin menulis cerita tentang pendakian, padahal kamu sendiri belum pernah melakukan pendakian. Jika kamu tidak membaca buku-buku tentang pendakian, bagaimana cara kamu menceritakannya? Atau kamu ingin menulis cerita dengan tokoh seorang dokter. Sementara kamu tidak mengetahui kehidupan seorang dokter. Lalu bagaimana cara kamu menceritakannya? Mungkin kamu bisa mengatakan, “Kita kan cukup mengkhayal menjadi seorang dokter!” Nah, karya fiksi semacam inilah yang bisa disebut sebagai kebohongan. Apa yang bisa diceritakan tentang seorang dokter oleh penulis yang tidak mengetahui dunia kedokteran, jika bukan kebohongan? Sebagai penulis, kamu tidak perlu menunggu menjadi ahli di bidang kedokteran untuk menulis cerita tentang dokter. Kamu hanya perlu menerapkan prinsip keenam ini: ayo membaca!

Prinsip #7:
Mulai menulis Menulis, menulis, dan menulis! Begitu nasihat tiap pengarang yang ditanya bagaimana cara menulis sebuah fiksi. Semua prinsip-prinsip yang telah dipaparkan di atas, hanya akan menjadi omong kosong, jika kita tidak memulai untuk menulis. Kamu tidak mungkin dapat berenang, walau semua teori tentang renang sudah kamu pelajari dan pahami, jika kamu tidak pernah nyebur ke dalam kolam renang! Namun, apabila dalam proses penulisan kamu mengalami kemacetan imajinasi, alias tidak mampu menghadirkan gambaran atau citraan dari peristiwa-peristiwa yang ingin kamu rangkai menjadi cerita, kembalilah pada prinsip nomor tiga. Buka catatan atau rekaman pengalaman kamu. Apakah ada yang bisa kamu ambil untuk menggambarkan peristiwa yang kamu inginkan? Jika cara itu juga tidak mendatangkan hasil, maka gunakan prinsip keenam: ayo membaca. Boleh jadi, kemacetan kamu disebabkan minimnya kosakata kamu untuk menampilkan citraan dalam latar, tokoh, dan adegan. Atau kamu belum memahami tema yang ingin kamu tulis.

Prinsip #8:
Berdiskusi, yuk! Kamu sudah berhasil menulis cerita? Apakah kamu merasa puas dengan hasil karyamu? Tunggu dulu! Jangan terburu-buru mengirimkannya ke majalah atau koran. Apalagi mengirimkannya ke editor penerbitan. Cobalah untuk menunjukkannya ke teman-temanmu. Mintalah mereka membaca karyamu. Bagaimana pendapat mereka setelah membacanya? Apakah mereka tertarik? Atau mereka mengkritik? Bagian mana yang mereka tidak suka? Mana yang menurut mereka bagus untuk dikembangkan? Diskusikan, yuk! Jangan dulu buang karyamu ke tong sampah jika lebih banyak kritik yang kamu terima dari pada pujian. Minta masukan dari teman-temanmu. Kamu bisa mencoba merevisi karyamu sesuai masukan dari temanmu. Namun, jika hasilnya belum juga memuaskan, simpan karyamu. Suatu saat nanti, karya itu akan jadi harta yang tak ternilai. Saya selalu menyimpan karya-karya yang saya anggap “gagal”. Jika jam terbang menulis kamu sudah cukup tinggi, coba tengok kembali karya-karya itu. Boleh jadi bukan karena idenya tidak menarik, melainkan karena kemampuan kita yang belum matang. Prinsip ini tidak selalu berhasil jika kamu tidak memiliki teman-teman yang tertarik dengan dunia fiksi. Untuk itu kamu perlu bergabung dalam satu komunitas menulis. Kamu perlu memiliki teman-teman yang punya ketertarikan yang sama denganmu. Saat ini, komunitas menulis sudah sangat banyak dibanding ketika saya pertama kali belajar menulis fiksi. Selain sebagai kebutuhan untuk diskusi, komunitas juga sangat berguna untuk memotivasi kamu.
***
Duduk dan lakukan! Apakah nasihat Novakovich itu masih terdengar bombastis bagi diri kamu? Sekarang kamu sudah tahu prinsip-prinsipnya. Itu merupakan modal awal bagi kamu untuk masuk ke dunia fiksi. Sebuah dunia yang menawarkan banyak kemungkinan. Dunia rekaan yang bermuasal dari tiruan realitas yang telah mengalami proses pengendapan dalam diri penulis, sebelum melakukan proses pengimajinasian dan melahirkan dunia dalam kata. Selamat memasukinya!

Sumber: www.flpdepok.org
KBM ACADEMY LEVEL 5
Dua Kata Ajaib
Baru saja kuraih ujung slang, hendak menyiram tanaman pagi ini, tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangisan seorang Ibu, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Sambil pura-pura asik menyiram tanaman, aku menguping kalimat-kalimat yang mengalir diantara tangisnya. Ternyata anaknya, telah di-Drop Out dari kampus lantaran kuliahnya tidak selesai, sampai batas waktu yang ditentukan. Nalarku spontan teringat dua kata ajaib, yang bila saja diaplikasikan oleh si anak, boleh jadi perkuliahannya tidak mandek di tengah jalan.
Membaca judul tulisan ini, mungkin akan muncul pertanyaan di benak pembaca, mengenai seajaib apakah kedua kata tersebut? Dan seberapa besar pengaruhnya dalam pencapaian kesuksesan di setiap urusan?
Layaknya pertunjukan sulap yang menggunakan media untuk menampilkan kejadian-kejadian ajaib dan kadang sulit dipercayai oleh penglihatan, maka seperti itu pula keberadaan kedua kata ini, akan nampak ajaib jika dimanfaatkan oleh seseorang yang paham makna serta bagaimana memberdayakannya dalam kehidupan.
Disiplin adalah kata ajaib yang pertama, berasal dari bahasa Latin dari kata “discipline” yang berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan tabiat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada tiga makna: (1) tata tertib (di sekolah, kemiliteran dst); (2) ketaatan kepada peraturan (tata tertib dst); (3) bidang study yang memiliki objek sistem dan metode tertentu.
Dari beberapa pengertian disiplin, maka penulis bisa menyimpulkan bahwa disiplin adalah suatu sikap yang di tunjukkan oleh seseorang dalam menaati segala peraturan yang diyakininya dan dilakukan secara sadar serta senang hati, sehingga perasaannya tidak nyaman jika tidak melakukan hal itu.
Kata ajaib yang kedua adalah 'fokus.'
Setelah berhasil mendisiplinkan diri, ada satu lagi kata ajaib yang butuh pembuktian agar pencapaian kesuksesan bisa semakin terarah.
Fokus diartikan sebagai konsentrasi penuh terhadap satu tujuan, maka tujuan dari setiap perbuatan menjadi hal pertama yang harus ditentukan, kemudian arahkan potensi diri untuk tujuan tersebut.
Lebih gamblangnya, fokus merupakan kemampuan berkonsentrasi pada sebuah obyek tanpa menambahkan hal-hal lain yang akan mengurangi bahkan menghilangkan kepekatan konsentrasi. Intinya, fokus yang baik, dihasilkan dari semangat atau daya juang yang kuat serta obyek yang tertarget, apapun rintangannya.
Keajaiban kedua kata ini akan nampak ketika seseorang telah lihai mengamalkannya, mematri kuat dalam hati, lalu mampu menerapkan dalam aktifitasnya.
Contoh kasus kecil diatas bisa mencerminkan, seandainya si anak menanamkan sikap disiplin dalam keseharian, menaati tata tertib atau peraturan dikampus secara tepat serta fokus pada tujuan yang hendak diraih, maka tentu saja surat DO tidak akan didapatkannya.
Dapat dipastikan seorang yang telah sukses mencapai cita-citanya, karena telah mengamalkan kombinasi kedua kata ajaib dengan cara yang tepat.
wallahua'lam.
Sumber:

www.wikipedia.com, diunggah tanggal 20 Maret 2014
www.kbbi.com, diunggah tanggal 23 Maret 2014

Kamis, 13 Maret 2014

°Nestapa Cinta°


Ingatkah? 
Ketika asa bersambut, hantarkan persuaan kasih
Pun tiada aral yang menyanggah
Untuk menghalau rasa itu membaur di satu titik
Aku, kamu ... lalu kita terbuai dalam pasrah!

Selaksa kisah luapkan cinta dengan piawai
tanpa ragu telah menyemai kalbu
Indah laksana puspa bermekar di taman hati
Tatkala asa rela menyulam rindu

Lalu jagad bertasbih khusyuk
Ikrarkan pertautan raga dalam saksi
Hadirkan rinai yang begitu syahdu
Bahkan cakrawala pun takzim tiada sangsi

Itu awal pengembaraan rasa berkawan mimpi
Lalui badai hidup berkalang dalam jasad
Tiada jeda lagi untuk menuai kasih
Hanyalah kalut pias menghempas

Mana … mana janji yang pernah kau semai?
Mana cinta yang usai kau tulis?
Dalam kitab hati yang dulu terpatri rapi
Semua kini berbalut selimut sedih

Serangkai hikayat lebur dalam ketakpastian
Hadirkan bebilur rasa yang hebat
Menikam, menohok kuat dalam lara
Mencekam rasa tiada jera

Bahkan pekat malam tak menafikan
Hadirkan jua deraian air mata pilu
Merembes hebat dalam sepinya hati di tepian
Tapi engkau tetap dalam angkuhmu

Kini kau sisakan luka cinta tiada terperih
Dalam kalbu yang masih mendamba
Pada janjijanji suci
Yang tertuang dalam kisah usang

Aduhai derita hati tak terwakilkan dalam kata
Bahkan dalam ejaan sajak
Baitbaitnya luruh tiada daya
Terhempas kuat mencengkram duka

Oh, cinta mengerang jua menuai luka
Kelam mengemas remas airmata
Lalu akan kemana hendak menambatkan
Nestapa cinta tak bertahta.

Rabu Sore, 050314

=YOU ARE MY EVERYTHING=

Selaksa tanya tiba-tiba menyeruak memenuhi ruang nalarku, duh Gusti Allah... Kenapa pertanyaan aneh ini menyerbu, ketika memandang wanita yang tengah terbaring lemah dalam tidur, kerutan mulai menggaris di wajahnya, tapi bias kecantikan masih saja terlukis dalam rupa yang kini menirus. Perlahan kubelai lembut rambutnya.

"Mama, cepat sembuh ya," gumamku perlahan nyaris tanpa suara. Mataku menghangat hingga tak terasa, menetes buliran bening. Kelopak mata mama membuka sedikit, lalu pelan menoleh kearahku.

"Mama, maafin kakak udah gangguin tidurnya mama."

"Enggak Kak. Mama emang udah pengen bangun. Eh, Kakak nangis ya sayang?" Tanya mama karena melihat mataku memerah.

"Enggak kok, Ma." Sambil tersenyum, buru-buru kuseka pipi dengan kedua punggung tangan.

"Mama, nggak apa-apa, Kak. Mama hanya kelelahan saja, hingga nge-drop kayak gini."

"Mama cepat sembuh dong."

"Pasti, sayang."

"Kak, Adik mana ya?"

"Adik baru saja pulang, Ma. Katanya ntar sore dia kesini lagi."

"Adikmu sudah makan, Nak?"
"Sudah Ma, tadi kakak bawa makanan dari rumah."
"Syukurlah, trimakasih ya Kak. Kakak sudah bantu mama."

"Mama kan lagi sakit, jadi urusan rumah tanggung jawab Kak Rini dong."

"Ah kakak sekarang sudah dewasa, mama bangga sama kakak." Senyum bahagia tersungging di bibir kami.

Sejak kematian papa empat tahun yang lalu, Setiap hari, mama lebih sering naik motor sendiri ke sekolah tempatnya mengajar. kadang-kadang hati ini terenyuh melihat perjuangan mama sebagai single parent. Akhir-akhir ini, ada beberapa pria yang berniat melamar mama, tapi ketika mama memberitahukan hal itu, aku selalu diam dan biasanya beralasan mau belajar agar bisa segera berlalu dari hadapannya. Padahal wajar saja jika mama masih ingin menikah di usianya yang masih 37 tahun. Untuk membantu mama memenuhi kebutuhan aku dan adik Reza, maka kuputuskan untuk mengelola warung kecil-kecilan di depan rumah. Meski tak jarang, mama yang membuka warung jika lebih dahulu sampai ke rumah, setelah mengajar di Sekolah Dasar Budi Mulia yang terletak empat kilometer dari rumah kami. 

***

"Mbak Rini, ini resep yang harus mbak tebus," jelas seorang suster ketika aku sengaja ke ruang jaga mereka untuk mengambil resep obat untuk mama.

"Makasih ya, Suster" imbuhku, lalu segera berlalu dari tempat mereka. Belum beberapa meter aku melangkah tiba-tiba seorang suster memanggil.

"Mbak Rini," panggilan itu memaksa aku segera menoleh ke arah suster yang memanggil.

"Iya, Suster"

"Mbak Rini, dipanggil ke ruangan dokter Richie," lanjutnya.

Deg..., dadaku langsung berdesir, seketika aku mengingat mama. Dokter pasti akan membicarakan perihal penyakit mama.

Tok tok tok, perlahan aku mengetuk ruangan bernuansa putih itu.

"Permisi, Dok."

"Iya silahkan masuk." seorang asisten pria, membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.

"Anaknya Bu Rara ya? Mari silahkan duduk Mbak."Ajakan yang ramah itu, tak cukup menenangkan pacu jantungku.

"Makasih, Dok" jawabku dengan senyum hambar, lalu segera duduk dihadapan meja dokter.

"Begini mbak, ibu mbak sepertinya kecapaian, yang menyebabkan kondisi badan beliau melemah," dokter Richie menjelaskan dengan hati-hati.

"Mm… bisa saya tanya sesuatu ke mbak?" lanjutnya.

"Bisa, Dok" jawabku segera.

"Tapi saya mohon, mbak tidak terkejut sebab semua penyakit insyaallah ada obatnya" kalimat dokter itu semakin membuat aku penasaran.

“Memangnya ibu saya sakit apa ya, Dok?”

"Apakah selama ini, ibu mbak sering mengeluh sakit di perut bagian bawah?"

“Pernah beberapa kali, Dok.”

Setelah kami melakukan pemeriksaan, kami menemukan bahwa ibu Mbak, terkena gejala kanker mulut rahim, atau dalam istilah kedokteran sering juga disebut dengan kanker serviks."

"A-apa Dok?" aku tersentak kaget, bagai tidak yakin dengan pendengaranku sendiri.

"Kanker mulut rahim, Mbak. Tapi mbak nggak perlu kuatir, insyaallah ibunya masih bisa sembuh, yang penting bu Rara bisa menghindari makanan pantangan, tetap menjaga kebersihan dan meminum obat yang dianjurkan.”

Suara dokter lamat-lamat menjelaskan, tapi konsentrasiku buyar, perhatianku tidak tertuju pada kalimat dokter, yang aku pikirkan kenapa mama sampai mengidap penyakit aneh itu. Ingatanku lalu berhenti disatu titik, pada pikiran yang entah benar atau salah, tiba-tiba aku menghubungkan penyakit mama dengan lelaki yang belakangan ini sering kirim pesan ke akun FB yang dulu aku buatkan untuknya. Aku marah, sangat marah. Berbagai penjelasan dokter tak banyak yang singgah di benakku, emosiku kian menjadi!
Aku berjalan lunglai ke ruangan, dimana mama sedang tertidur. Hatiku sungguh lelah!

Hari keempat di rumah sakit, kondisi mama telah membaik. kata dokter pukul 10.00 pagi ini, mama sudah bisa kembali ke rumah. Aku mengemasi barang-barang, ketika mama yang duduk di tepi ranjang menyapa.

"Kakak kelihatannya lemes banget, kakak sakit ya?"

"Enggak kok Ma, kakak nggak sakit. Mungkin karena tidurnya aja yang kurang nyenyak selama di rumah sakit ini," aku mencoba menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada mama.

"Kakak minum madu, biar nggak loyo." tatapan mama yang sendu, membuat aku bangkit dan segera mengikuti anjurannya. 

"Iya, Ma." ujarku sambil mengambil sesendok madu.

***

Hari ini mama mulai mengajar lagi, setelah beristirat selama dua hari sekeluarnya dari rumah sakit. Tepat jam 07.00 WIB mama dan dik Reza, sudah meninggalkan rumah.
Aku juga sudah siap hendak berangkat ke kampus, kubaca sekali lagi surat ringkas yang baru saja kutulis.

Mama,
Kakak nginap di rumah teman, beberapa hari untuk menenangkan hati. 
Kak Rini.

Kusimpan lembaran itu di meja kerja mama, sambil menarik napas panjang. pikiran-pikiran buruk tentang mama masih saja bergelayut di otakku. Net book dan beberapa potong baju sudah siap di tas cangklong yang agak besar, aku ingin nginap di rumah Gita untuk beberapa hari. 
Di kampus, sahabatku Gita sampai menyelidiki bawaanku yang tidak biasanya sebanyak itu.

"Mau minggat ya, Rin?" serta merta Gita memegangi dan menilik tas yang tergeletak pasrah di kursi yang ada di dekatku.

"Enggak kok, aku pamit sama mama."

"Jangan-jangan kamu mau kawin lari nih? Sama siapa? Beritahu dong,” cerocos Gita gencar bagai kendaraan yang remnya lagi blong.

"Ha... kawin lari? Apaan tuh?"

"Itu lho, kawin tapi sambil lari-larian." Terdengar tawa renyahnya memenuhi ruangan perkuliahan.

"Hadeuh, ngawur kamu Git, aku hanya pengen menjauh aja dari rumah, beberapa saat."

"Lho... Ada apa? Kamu marahan sama mamamu?"

"Enggak kok, hubungan aku dan mama baik-baik saja, ntar aja aku ceritain asal ijinkan aku nginap beberapa hari di rumahmu."

"Okey Cah ayu, lagian tumben-tumbenan kamu pamitan mau nginap di rumah, biasanya juga, langsung datang, iya kan?"

"Tapi kali ini aku nginapnya beberapa hari, bisa ya?"

"Iya... Iya, asal kamu nggak ngompol aja, aku siap menerima kamu kapanpun" Gita mengucapkan itu disertai gelak tawa khasnya.

"Asem kamu, Git! masa cewek manis dan wangi gini, ngompol sih. Amit-amit deh."

"Huu... kepedean kamu Rin." Kita berdua tertawa, tapi kemudian diredakan oleh kehadiran dosen killer pada jam pertama.

Setelah perkuliahan usai, aku dan Gita beriringan ke tempat parkir, akan menuju ke rumahnya.

***

Baru saja, aku hempaskan badan ke kasur empuk di kamar Gita, tiba-tiba hape-ku berdering, segera kuambil HP dari saku jeans, ternyata telepon dari mama, aku tidak menjawab panggilan itu, melainkan aku biarkan benda itu terus bergetar dan melantunkan reff lagu 'trouble', hingga akhirnya berhenti sendiri. Aku belum siap berbicara dengan mama, sungguh... rasanya saat ini, aku kehilangan kata untuk menjelaskan kenapa jadi sangat marah ke mama. Pelan-pelan kelopak mataku menutup hendak menjemput mimpi-mimpi indah yang hanya ada dalam bunga tidur.

Setelah makan malam, aku iseng membuka akun facebook. Ada pesan dari mama, segera aku klik ikon amplop yang ada di sudut atas layar handphone.

‘Dear Kak Rini,
Mama mohon maaf, sekiranya ada sikap mama yang tidak kakak sukai, hanya saja mama benar-benar nggak paham kenapa Kakak jadi marah seperti ini, padahal mama nggak tahu apa kesalahan yang sudah mama lakukan ke kamu, Nak! 
Plis beri penjelasan, biar mama bisa memperbaiki diri, dan tidak bingung seperti ini. Mama sayang banget sama kakak, hanya kepadamu Mama tumpukan segala harapan, Nak. 
Kakak, pulang ya... Kasihan Dik Reza nggak ada teman main. 
Mama sayang banget sama Kakak'

Deg…. Entah knapa, tiba-tiba kesedihan menyeruak di relung hatiku. Notifikasi dari FB aku buka tanpa bersemangat merespon balik, malah jempolku tergerak membuka tab baru lalu mengetik kata 'kanker serviks' dari kolom pencarian di google. Ada banyak informasi yang aku dapatkan, salah satunya aku tahu bahwa kanker serviks itu tidak selamanya disebabkan oleh hubungan sex yang tidak dibenarkan. aku juga baru ingat kalau nenek meninggal karena kanker. dan boleh jadi, itu salah satu penyebab kenapa mama mengidap penyakit yang sama. Sungguh, aku jadi merasa bersalah, telah berpikiran buruk kepada mama, dan menelpon mama pada jam-jam seperti ini pasti hanya akan mengganggu tidurnya.

Ah, mendadak aku menjadi cengeng, tak terasa ada airmata yang mengalir di pipi. Maafkan Kak Rini ya Ma. Rini janji setelah ini akan menjaga mama dengan baik dan akan rutin menjerang daun sirsak untuk mengobati penyakit mama.
Besok pagi aku harus menemui mama dan minta maaf kepada beliau, tekadku dalam hati. Malam yang kian larut, mengantarku lelap dalam tidur dengan mata yang sembab.

***

Tepat pukul 07.15 Wib, aku dan Gita sudah siap berangkat, ketika tiba-tiba handphone-ku berdering.

"Telepon dari siapa Rin?" Tanya Gita menyelidik.

"Dari mama," aku tersenyum senang dan menatap Gita.

"Cepetan diangkat Rin," tak kurespon lagi ucapan Gita, karena perhatianku segera tertuju ke HP dan segera mengangkat telepon dari mama.

"Halo, mbak bener anaknya ibu yang punya nomer HP ini?"

"Iya bener Pak, mana mama saya, Pak? Kenapa bukan mama yang langsung bicara dengan saya?" cecarku.

"Sabar ya Mbak, ibu mbak kecelakaan di perempatan menuju SD Budi Mulia." Ucapan itu membuat jiwa dan tubuhku limbung. Aku terhenyak!

"A-apa? Jadi gimana keadaan mama saya, Pak? mama dimana sekarang?"

"Ibunya telah dibawa ke Rumah Sakit Umum."

"Saya segera kesana, Pak." Tak dapat kutahan airmata yang bercucuran, hatiku menangis pilu. Kulafazkan maaf dalam derai kesedihan dari hatiku.

"Maafkan anakmu ini, Ma!"

*The End

Senin, 03 Maret 2014

ACADEMY AWARD OF KOMUNITAS BISA MENULIS

Entah inspirasi dari mana yang mengilhami Eyang Wiro mengadakan akademi award ini. Heran aja dari 51.000 anggota KBM tiba-tiba terpilih 100 nama lalu mengerucut menjadi 14. Dan aku salah satunya. Tantangan pertama adalah membuat cerita sedih yang lucu... duh bingung banget melihat genre cerita ini, akhirnya jadi satu cerita yang entah lucu, sedih, atau hambar... entahlah. :D

tapi karena academy award itu, mau tidak mau, daripada harus gugur sia-sia, terpaksa aku bela-belain untuk buat ceritanya.
tantangan berikutnya nggak kalah kocaknya, peserta diminta untuk membuat cerpen yang temanya mengenai Tarzan.

tapi yg lebih sableng lagi, setelah cerita Tarzan selesai, setiap peserta akan dikolaborasikan dengan peserta lain lalu menggabungkan dua cerita dengan tema Tarzan menjadi satu cerita. ah ribet banget ya persyaratannya... tapi akhirnya ceritanya jadi juga. tinggal tunggu apa masih lolos lagi atau sudah di depak dari dunia per-tarzanan.. :D

sebenarnya ada banyak unek-unek tentang Academy award ini, tapi dilanjutkan besok ya, sudah ngantuk banget ini... :D 

Minggu, 02 Maret 2014

10 KRITIKAN BALIK PADA KARYA-KARYA OPIK OMAN

  Si Penulis Fiksi Yang Songong Itu

1. OPENING ceritamu gak menarik sama sekali. Gak menggebrak meja. Ibarat aku lagi tidur, awal ceritamu gak bikin bangun. Alarmnya terlalu lemah.

Tips: Awali ceritamu dengan sesuatu yang bisa langsung bikin pembaca penasaran dengan keseluruhan cerita. Fokus pada konflik!

2. SUSPENSE (ketegangan) yang coba kamu bangun sama sekali gak ngefek padaku. Boro-boro terpikat. Malah bikin bosan setengah maut.

Tips: Tarik ulur penyelesaian konfliknya, jangan dipermudah. Buat situasi yang gak jelas biar pembaca deg-degan.

3. SETTING yang kamu tampilkan sangat basi dan gak unik. Malas bacanya. Iya sih, detail. Tapi buat apa? Aku gak butuh kamu kasih tahu hal gak penting begitu.

Tips: Ukuran setting bagus bukan masalah detail atau gak-nya. Tapi masalah, apakah settingnya mampu membuat pembaca masuk ke dalam dunia cerita. Jadi bijaksanalah dalam menuliskannya.

4. DIALOG gak hidup. Ini kamu yang bicara atau tokohmu yang bicara? Kayak denger suara robot aja. Gak ada jiwanya. Mereka seakan bicara di ruang hampa.

Tips: Bikin dialog sesuai karakter tokohnya. Harus ada dimensinya. Dimana dan kapan juga suasana hati tokoh saat dia berbicara. Jadi ada konteksnya.

5. PENOKOHAN gak konsisten. Mudah sekali berubah pendirian tanpa alasan yang masuk akal. Kesannya mereka cuma pion-pionmu saja.

Tips: Pakai dialog batin untuk mengeksploitasi perasaan paling halus dari tokohmu. Jangan sembarangan merubah karakter tokoh hanya karena dapat nasehat.

6. RESOLUSI KONFLIK sangat mengecewakan. Masak kamu buat sebuah kebetulan untuk menyelesaikan dilema utama. Apalagi ini kebetulan yang di luar konteks.

Tips: Jadilah kreatif! Cara tokoh utama menyelesaikan masalahnya harus megah dan mengesankan. Jangan pakai kebetulan, apalagi yang di luar konteks cerita.

7. SURPRISE di dalam ceritamu nihil. Endingnya ketebak. Blas, sama sekali gak kreatif.

Tips: Paling gak, kamu buat satu twist atau surprise dalam ceritamu biar plot sama alurnya gak ketebak.

8. ACTION kurang banyak. Cuma flashback saja yang diurusin. Ya bener sih, latar belakang tokohnya makin kaya. Tapi aku jadi ngantuk.

Tips: Buat adegan pada 'saat ini, disini' yang cukup biar pembaca terhibur. Bukankah itu yang ditunggu-tunggu oleh mereka? Action!

9. PESAN yang ingin kamu sampaikan jelas sangat kentara. Ini cerita atau khotbah? Enek banget bacanya. Masak dialog tokohnya kamu pakai sebagai corong untuk menyampaikan pesan.

Tips: Pesan boleh kuat. Tapi biarkan pembaca memahaminya lewat ceritanya saja. Jangan tergoda menuliskan pesanmu ke dalam bagian cerita.
Pembaca harus manggut-manggut paham setelah menangkap hal yang tersirat dalam ceritamu, bukan yang tersurat.

10. TEKNIS PENULISAN sangat buruk. EYD, penggunaan tanda baca, dan lain sebagainya banyak yang salah. Kalimat serta paragrafnya juga ruwet dan njlimet. Kesannya kotor dan berantakan.
Kalau ada editor, pasti sudah dilempar ke tong sampah.

Tips: Bersihkan dan rapikan ceritamu. Perbaiki Teknis Penulisannya. Belajar lagi cara menulis yang benar. Biar pembaca, apalagi editor, gak males duluan liat naskahmu.

***
Nah, itu kritikanku.
Makanya jangan songong.
Banyak baca lagi karya-karya dari penulis yang sudah mapan.
Mau jadi penulis kok gak mau baca.

TTD

Seorang Penulis Novel Bestseller

(Copas From Opik Oman, biar pada tau buku2nya seperti apa, let's chek it out from this link... http://opikoman1.blogspot.co.id/?m=1 )

TARJAN; MADE IN INDONESIA

KBM ACADEMY AWARD PART II
Penulis: Ummu Zakiyah

Tarjan kecil semakin akrab dengan Gogo gorilla sahabatnya, sejak kematian kedua orang tuanya, setiap hari tempat yang paling asik baginya adalah di hutan. Dia akrab dengan penghuni hutan Ciremai, bahkan mempunyai kemampuan istimewa yang bisa berkomunikasi dengan semua binatang.

Mentari cerah saat Tarjan tengan bermain dengan teman-temannya. Tiba-tiba, “Huwaaahh ….” Jerit tangis dari seorang anak perempuan kecil, membuyarkan perhatian Pak Bambang, seorang professor yang tengah melakukan penelitian di tepi hutan Ciremai.
“Kenapa, Nak?” Bapak itu segera mendekati anaknya.
“Bola Banowati diambil sama anak gorilla itu Yah, Huwaahh …,” tangisannya semakin keras.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki muncul dengan bergelantungan dari juntaian akar pohon, lalu segera membujuk teman kecilnya, untuk mengembalikan bola gadis kecil itu. Lalu dengan mudahnya Si anak gorilla menurut.
“Ini bolanya” uluran tangan kecilnya beriringan dengan senyuman, gadis kecil itu menerima bolanya penuh suka cita.
“Siapa kamu?” Pak Bambang bertanya menyelidik.
“Saya Tarjan, Pak! Rumah saya di tepi hutan ini, di sebelah selatan sana” tangannya menunjuk ke arah selatan.
“hmm ... ini anak saya, namanya Banowati, kamu bisa bermain dengannya” ujar Pak Bambang sambil tersenyum.

Sejak saat itu Tarjan punya teman akrab, lambat laun perasaan suka kepada anak professor Susilo mulai merambat dalam hatinya lalu akhirnya saat mereka sudah sama-sama dewasa, Benih cinta tumbuh di hati keduanya dan berjanji untuk hidup bersama.

Setelah menikah, mereka tinggal di rumah pohon yang ditata sedemikian rupa, ada 3 pohon besar yang dihubungkan dengan beberapa cabang dan papan hingga layaknya seperti rumah yang disekat menjadi beberapa bagian. Rumah pohon itu terletak di tepi hutan agak berjauhan dari pemukiman penduduk hingga setiap hari hanya binatang yang sering jadi teman hidup mereka.

Tahun berikutnya, Banowati melahirkan seorang anak laki-laki. Bayi mungil itu diberi nama Jaka. Jaka tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat seperti Bapaknya, Tarjan.

Setiap saat ibunya, Banowati mengajarkan banyak hal kepada Jaka, termasuk membaca dan menulis, tapi anak berusia 6 tahun seperti Jaka tetap lebih senang bermain, termasuk bermain dengan Gogo gorilla, Ulil Ular, Matul si Macan tutul, Gagah gajah dan banyak lagi teman yang lain. Tapi hari ini emaknya terlihat senewen karena lagi-lagi Jaka bandel saat diajar membaca oleh ibunya.

“Jaka, kemari, Nak. Kita belajar membaca dan menulis lagi ya!”
“Baik, Mak”
“Anak pintar!” Emak mengambil perlengkapan menulisnya, lalu menunjukkan beberapa tulisan ke Jaka. Lalu Jaka menulis dituntun oleh emaknya. Ulil Ular yang sebelumnya asik melingkarkan badan dekat Jaka, perlahan merambat ke bahu Jaka.

“Lil, entar kita main rumah pohon yang baru ya?”

“sshhss…” Si Ulil mendesis lirih.

“Dengan si Gogo, tenang aja dia nggak akan ngusilin kamu lagi kok.”
“Ulil, mainnya sebentar ya, Jaka mau belajar. Sana main sendiri aja dulu” Banowati memandang Ulil Ular lalu mengisyaratkan dengan tangan agar Ulil menjauh dulu, Ulil paham lalu merambat keluar ke beranda rumah pohon.

“Ulil, tunggu.” Jaka secepat kilat beranjak dan berlari menyusul Ulil. Sontak emaknya memanggil “Jaka, sini belajar dulu, mainnya nanti kalau sudan selesai belajarnya” emak berusaha meraih lengan Jaka tapi tidak berhasil!

“Entar aja ya Mak belajarnya, Jaka mau main dulu” Jaka berteriak lalu segera menyusul Ulil, Emaknya hanya bisa mendengus kesal.

“Jakaa… tiap emak mau ngajarin, kamu selalu berasalan. Padahal Mak ingin kamu bisa membaca dan menulis, jangan seperti Bapakmu yang malas belajar membaca.

“A U O O O …” seiring teriakan itu Jaka menjuntai dan melejit lincah ke pohon lain, dan Emak hanya berbicara dengan angin!

***

Banowati Sudah seringkali menghadapi kebandelan Jaka jika sedang diajar, tapi sebagai Emak dia selalu mencari cara agar anaknya, Jaka bisa pintar.
Merlihat Tarjan memanggul setandan Pisang dan membawa berbagai buah-buahan di kedua tangannya. Banowati segera menumpahkan kekesalannya.

“Pak, itu anakmu si Jaka bandel banget” Tarjan yang baru saja datang menjadi pelampiasan.
“Banowati, aku juga waktu masih kecil seperti Jaka, paling senang bermain dengan binatang”
“Tapi itu kamu Jan, jangan di samakan dengan Jaka” Suara istrinya mulai meninggi.
“Ya, anak-anak sebaiknya jangan di paksa, dipaksa belajar juga nggak akan mempan” Tarjan berujar tenang.
“pokoknya nggak bisa dibiarkan terus seperti ini, aku akan panggil Pak Susilo sepupuku biar bisa ngajarin Jaka, siapa tahu aja dia mau nurut jika yang ngajarin laki-laki juga.” Banowati masih berapi-api dengan semangatnya.
“Iya, panggil aja Pak Susilo, semoga dia betah ngajarin Jaka” sambil berkata itu Tarjan membopong Banowati dari belakang, banowati sesaat terkejut tapi seketika terhenti dari pembicaraannya, segera dia melingkarkan lengannya ke leher Tarjan, kalau ingin merasa aman dalam gendongan Tarjan,
“Mumpung Jaka lagi main dengan temannya” Tatapan mesra Tarjan tepat ke manik mata istrinya.
“Ah, Tarjan suka gitu deh” terdengar nada grogi tapi manja dari suara Banowati.
Sejurus kemudian, tiada lagi percakapan, sekat kecil rumah pohonlah yang jadi saksi. Diam!

***

Esok harinya, Banowati terlihat kasak kusuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Pak Susilo, sepupunya.

“Jan, hari ini Pak Susilo akan datang mengajar Jaka membaca, Tolong si Jaka jangan diajak main dulu ya.”

Tarjan yang diajak berbicara terlihat asik mengusap punggung Si Gagah gajah.

“Jaan!! Kamu denger aku nggak sih,” Banowati nampak kesal merasa di cuekin oleh Tarjan.

“iya dengar kok”

“Jan, sadar nggak, kamu tuh ya lebih sering asik dengan binatang-binatang itu ketimbang berbicara serius dengan aku” Banowati merajuk.

Tarjan berhenti dari keasikannya, menoleh kebelakang, menghadap ke istrinya lalu tersenyum manis.

“sebentar Pak Susilo akan kemari kan?”

”iya benar.”

“Tuh kan, aku tahu kamu bicara apa tadi, berarti aku perhatiin pembicaraanmu dong” Tarjan masih dengan senyumnya.

“huh, nyebelin kamu Jan” Banowati bersungut-sungut memasuki rumah pohonnya seraya berseru, “Jaan, suruh Si Jaka pulang, sebentar lagi Pak Susilo datang”

Entahlah Tarjan mendengar perkataan istrinya barusan atau enggak,tahu-tahu “A U O O O …!” Wuuussshh … Tarjan sudah berpindah pohon dengan mudah yang disusul oleh beberapa pengikutnya.

“Jaka a …!” dari kejauhan Tarjan memanggil anaknya
“Iya, Paak!” Jaka balas berteriak.
“Kata Makmu, sebentar sepupunya Pak Susilo akan datang ngajarin kamu membaca, padahal sebentar Bapak mau main ke tengah hutan dengan Cantul Si Macan tutul.
“Jaka ikut ya, Pak!” Jaka merajuk.
“Jaka, kamu balik dulu kalau nggak mau dapat omelan Emak”
“ Jaka malas banget belajar membaca di rumah, Mendingan main sama si Gogo.”
Dan benar saja, Jaka ikut kedalam hutan.

Di rumah, Sang Emak sudah gelisah setengah mati karena Jaka belum juga kelihatan batang hidungnya, padahal Pak Susilo sudah datang.

“Pak, aku cari Jaka dulu ya”
“Iya Banowati, Silahkan!”ujar Pak Susilo
“aku tinggal dulu, Pak”
“Iya, Nggak apa-apa” Pak susilo mengangguk tersenyum.
Banowati berjalan ke tengah hutan.
“kancil, temani aku cari Jaka, Yuk” Tangannya melambai ke arah kancil yang segera mengikut di belakangnya.
“Jaka a, dimana kamu, Nak!?” teriakannya memecah hutan.

***

Sementara di tengah hutan, suasana sangat tegang, suara tembakan terdengar dua kali yang menyebabkan para binatang berlarian, dan sayang tembakan itu mengenai kaki adik Si Gagah gajah.
Tarjan begitu marah, segera dia mengayun sambil berteriak lantang “A U O OO …!”
Cantul Si Macan tutul dan beberapa binatang segera menyusul Tarjan, dan siap menunggu instruksi Tarjan berikutnya.
Sejurus kemudian, terdengar lagi dentuman peluru. Suasana mencekam, Jaka terlihat mendekam bersembunyi di gua rahasia bersama gajah yang terluka.
Di luar gua, Tarjan mengambil peluru besar yang berupa batu, dipasangkannya dengan tali pelontar yang telah dia buat, Si Bubu burung terlihat hinggap di bahunya sepertinya memberitahukan kepada Tarjan dimana posisi kedua pemburu itu berada. Tarjan Manggut-manggut. Diarahkan tali pelontar itu kepada sasarannya, lalu sekuat tenaga dilontarkannya tali itu mengarah ke sasaran.
“Dhuaarr… Bruk”
Lontaran pertama tepat mengenai kepala pemburu yang tengah membidik, temannya terperanjat tapi belum hilang rasa kagetnya, sebuah batu besar menghantam tepat dihidungnya, tubuhnya limbung tapi dia tidak pingsan hanya saja dia merasa ada banyak bintang di atas kepalanya. Keduanya bergegas berdiri dan kembali mengarahkan senapan kearah lawan.
Tapi…
“A U O O …!!” teriakan itu lagi bagai komando segerombolan macan tutul yang siap mencabik-cabik tubuh kedua pemburu, mereka lari tunggang langgang, menuju ke mobilnya di tepi hutan.

Tarjan menyusul, kedua pemburu itu kaget bukan kepalang.
“Jangan coba-coba berburu di tempat ini lagi, atau teman-temanku akan mencabik-cabik tubuh kalian” Tarjan berseru keras!!
keduanya mengkerut karena ketakutan “Baik, Pak Tarjan!!” ujar mereka gemetaran.
“Awas ya, kalau aku melihat kalian lagi disini”
Wuuusshh…. Selesai mengatakan itu, Tarjan berlalu meninggalkan kedua pemburu yang hanya bisa tergugu dalam diam.

***

Di tengah hutan,
“Jaka, bagaimana kaki adik Si Gagah?”
“Sudah, agak mendingan, Pak. Tadi pelurunya mengenai tulang betis jadi pelurunya mental dan hanya ada sedikit luka”
“Kamu obatin pakai apa, Nak?”
“Pakai ramuan daun yang pernah bapak ajarkan” Jaka tersenyum.
“Anak pintar” ujar Tarjan sembari mengelus kepala anaknya. Pelukan erat Jaka ke badan Bapaknya, membuat Tarjan mengangkat badan Jaka lalu membuainya ke udara sambil berputar. Mereka tertawa lepas, bahagia!
“Pak, Emak pasti marah-marah nih karena hari ini Jaka nggak belajar” Jaka berkata itu sambil berlari menuju taman mungil nan teduh di tengah hutan. Tempat itu baru dua hari ditemukan oleh Jaka. Tarjan menyusul anaknya.
“Paak, kita belajar di sini saja ya” seruan Jaka begitu girang.
Tarjan menyusul ikut duduk di dekat Jaka.
“Pak, Jaka udah tahu beberapa huruf, lho”
“Coba tunjukkan ke Bapak”
Jaka lalu menuliskan beberapa huruf, satu persatu huruf itu dia lafalkan dan menyuruh Bapaknya mengikuti ucapannya, seperti yang sering dilakukan oleh ibunya.
Awalnya Tarjan kesulitan, terutama saat diminta oleh Jaka mengucapkan gabungan lima huruf yang diajarkan oleh Jaka.
“Ahaaa … Jaka ada akal, biar Bapak mudah menyebut gabungan kelima huruf itu”
“Akal apaan Jaka?” selidik Bapaknya penasaran
“Selama ini, Bapak kan manggil teman-teman dengan seruan A U O O …, mulai sekarang biar Bapak terbiasa seruan itu diganti, Pak”
“Diganti bagaimana, Jaka?” Bapak penasaran juga dengan pernyataan Jaka barusan.
“Biar Bapak mudah menghafal, seruannya ganti menjadi A I U E O O O …, biar lengkap, Pak!”
Jaka berdiri tegak, meletakkan kedua belah tangannya secara terbuka di dekat mulut lalu berseru lantang. “A I U E O O O …” dan serta merta beberapa binatang berhamburan kedekat Jaka. Bapaknya terbahak-bahak melihat aksi anaknya.
“sekarang, Bapak yang berteriak”
“A I U E O O O…”
“A I U E OOO …” teriakan ini terdengar lebih lantang, menyebabkan binatang-binatang lain makin berdatangan, karena telah terbiasa mendengar teriakan Tarjan.

Tapi tiba-tiba …
“Tarja a an, Jaka a a …” rupanya ada teriakan yang lebih lantang!
TARJAN dan JAKA: Ooh ada Emak …!?! Mereka hanya bisa berpandangan!!!

Jika para binatang bisa takluk oleh suara Tarjan dan Jaka, Maka Suara Emak adalah penakluk keduanya. Dan Emak, adalah raja yang sesungguhnya.

Tarjan dan Jaka, mengkerut tersihir oleh pelototan Emak.

Sabtu, 01 Maret 2014

=KOPIKU TAK SEPAHIT SENYUMMU=

Kekuatiran Anis benar-benar terjadi ketika malam ini terdengar suara ketukan dari pintu depan. Suaminya Danu, buru-buru membuka pintu lalu sejurus kemudian percakapan akrab dan tawa renyah antara Danu dan seorang temannya terdengar dari ruang tamu. 

Seperti biasa, ritual wajib untuk menghormati tamu segera berlangsung di dapur. Dari sinilah, awal cerita ini terjadi!

Setelah menjamu tamunya dengan secangkir kopi, Anis segera berlalu, tapi tak lama setelah itu, suaminya memanggil.

"Umi, kemari sebentar Mi"
"Iya, kenapa Bi?"
"Umi, kopinya kok nggak manis ya?"
"Masa sih, Bi" Nisa pura-pura melongo.
"Iya Mi, bener! Tolong tambahin gula ya."
Anis mengambil kembali kedua cangkir kopi yang ada di meja tamu. Sambil meletakkan kopi-kopi itu ke nampan, Anis ngedumel dalam hati, bukan karena tidak suka disuruh sama suaminya, tapi karena gulanya sudah habis sejak kemarin dan juga warung yang tak jauh dari rumahnya pasti telah tutup setelah sholat Isya tadi. 

Dan satu hal yang membuat Anis sebal sesebal-sebalnya karena dari kemarin dia minta duit buat beli gula, tapi suaminya malah ngeyel menyuruh balik untuk memakai garam saja sebagai ganti gula. Betapa Anis semakin gondok karena ulah suaminya itu, awas saja kalo ada protes karena suguhan kopi asin!

Bibir Anis jadi manyun lima senti, saking manyunnya wajan saja bisa disampirkan ke bibir yang makin doer itu. Tiba-tiba Anis jadi sedih kenapa tinggal di desa yang sepi, coba kalau dia terima tawaran mengajar dari teman SMA-nya yang ada di kota, mungkin hidupnya tidak akan menderita seperti ini. Pikirannya jadi ngelantur kesana kemari. 

Dari tadi toples gula sudah dikerok sampai dasar-dasarnya tapi hanya cukup untuk satu cangkir, terpaksa kopi suaminya yang dibiarkan tanpa gula, semoga Abi mengerti, Anis membatin. 
Tapi, eits! Tunggu dulu, apa sebaiknya dikasih garam saja ya? Alisnya mengernyit, menunjukkan dia tengah merencanakan sesuatu, hmm .... *Tiiitt! Sensor! 

Ini kedua kalinya Cangkir kopi, bolak-balik dari ruang tamu ke dapur, tapi tetap saja Danu belum mengerti. 

Anis sengaja mengaduk kopi dengan keras. Karena dinding penyekat terbuat dari anyaman bambu, maka tidak cukup meredam suara sendok yang beradu dengan cangkir.

Ting! Ting Ting!!!
Danu mendengar suara itu sontak menjadi sumringah.

Sementara Danu lagi asik bercengkrama dengan temannya, Anis kembali membawa nampan berisi dua cangkir kopi ke ruang tamu. 

"Ini kopinya, Silakan di Minum Kang" katanya mempersilahkan tamunya. Sekilas matanya berkedip-kedip ke suaminya tapi Danu malah menyangka istrinya lagi kelilipan.
"Trima kasih Bu" jawab Fadhil, teman Danu.
Anis membawa nampannya masuk, tapi tidak langsung menuju dapur melainkan berlindung di balik gorden dan mengintip ke arah suami dan tamunya.

"Mari Silahkan diminum kopinya, Kang Fadil"

"Trimakasih Dan"

"Sruupptt!!" 

Danu meraih cangkir dan menyeruputnya. 

Sejenak ia berdiam. Lidahnya ia goyang-goyangkan di sela bibir. 

"Ada apa Dan?" tanya Fadil penasaran atas tingkah dan raut Danu.

"A—anu, kok rasa kopiku seperti ini, ya!?" Kembali Danu mengecap-ngecap lidahnya sembari berkernyit. 

Melihat itu, Anis yang mengintip kian geregetan. 

Fadil yang diliputi penasaran, serta merta ikut meminum kopi yang ada di hadapannya.

"Heemmm ... nikmat! Kopiku manis, kok!" ujar Fadil.

"Masak iya, sih! Kenapa punyaku nggak manis, ya.
Cobain deh kopiku, Kang Fadil!" 
Atas permintaan tuan rumah, Fadil pun terpaksa meminum sedikit kopi Danu, pembaca!

“Iya ya, kopinya beneran pahit” Keningnya mengkerut. lalu tertawa lebar dan seketika pecahlah tawa diantara mereka.

Glek! Dari balik gorden Anis menelan ludah, melihat aksi TELMI suaminya. 
Hampir saja tamunya ikut mencicipi kopi asin, untung niat isengnya tadi tidak diteruskan.

*The End