Selasa, 18 Februari 2014

PANDUAN INI SAYA BUAT KARENA ADA ANGGOTA KBM YANG MENULIS NON FIKSI ASAL-ASALAN

CARA MENULIS NON FIKSI KONVENSIONAL UNTUK MEDIA MASSA

OLEH: AGUNG PRIBADI

-Judul yang menarik atau provokatif tapi tidak membocorkan isinya

-LEAD (OPENING)  ATAU PARAGRAF PERTAMA: PERISTIWA YANG AKTUAL DAN MENARIK SEBAGAI NEWSPEG (CANTELAN BERITA)

PARAGRAF KEDUA: KALIMAT PERTAMA PREMIS (STATEMEN/PERNYATAAN), KALIMAT KEDUA DAN SETERUSNYA ARGUMENTASI YANG MEMPERKUAT PReMIS INI BISA BERUPA WAWANCARA TOKOH ATAU KUTIPAN BUKU.

PARAGRAF KETIGA DAN SETERUSNYA SAMA PERSIS DENGAN PARAGRAF KEDUA
PARAGRAF KEEMPAT DAN SETERUSNYA SAMA PERSIS DENGAN PARAGRAF KEDUA SAMPAI SATU PARAGRAF SEBELUM CLOSING (PENUTUP)

PARAGRAF TERAKHIR PENUTUP BISA BERUPA KESIMPULAN BISA BERUPA PERTANYAAN YANG MEMBUTUHKAN RISET SELANJUTNYA.

Dalam menulis buku Gara-Gara Indonesia saya berimprovisasi tidak terlalu berpegangan pada cara konvensional ini. Tapi buat penulis pemula sebelum berimprovisasi bagusnya mengetahui dulu ilmu yang baku supaya jangan asal tulis atau asbun (asal bunyi). Seperti musisi Jazz yang berimprovisasi sebelumnya mereka menguasai dulu music klasik. Atau pemusik Rock seperti Yngwie Malmsteen, sebelum dia bermain rock, dia menguasai dulu musik klasik.


Wallau A’lam Bish Shawab.

Teman Bulan

Bulan separuh...
Embun disini sayang
Hanya malam yang bisa persuakan
Pandangimu dari altar kasih
Menikmati bentuk indahmu

Merindumu
Di kejauhan asa
Tapi sia-sia
Waktu menepis
Jarak menahan

Tetap nggak bisa menyapamu
Meski hanya sekedar berteman
Gemintang selalu cemburu
Saat embun menyapa

Aih .. Bintang jahat!
Padahal embun nggak seburuk fikirannya
Ya sudah, kalau nggak bisa ketemu di dunia
tunggu embun ya di surga 

Ini prosa[?]

Ini prosa[?]

Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.

Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!

Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.

Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .

Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.

Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.

Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.

Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.

Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.

Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.

Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!

*curhatan tengah malam, toeweweng....