Ini prosa[?]
Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.
Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!
Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.
Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .
Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.
Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.
Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.
Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.
Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.
Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.
Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!
*curhatan tengah malam, toeweweng....
Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.
Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!
Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.
Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .
Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.
Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.
Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.
Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.
Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.
Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.
Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!
*curhatan tengah malam, toeweweng....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar