Tampilkan postingan dengan label FLASH FICTION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLASH FICTION. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Februari 2014
°°°TIKET GRATIS°°°
"Sob, tadi aku baru aja apelin Si Alysia." Dengan wajah sumringah bin bahagia Adit laporan ke sahabatnya, Jodi.
Tak kalah antusiasnya Jodi menimpali. "Wow! terus tadi main kemana dengan pacarmu?"
Seketika ... kedua belah tangan Adit dirapatkan di dada, pandangannya menerawang ke langit-langit seperti lagi membayangkan hal yang paling indah dalam hidupnya, lalu berujar pelan.
"Ke tempat paling romantis di dunia."
"Di mana tuh?" Jawaban Adit lumayan membuat Jodi terperangah, matanya melotot bagai hendak mencelat keluar.
"Reaksinya nggak gitu juga keles" tawa Adit renyah melihat tingkah sahabatnya, Si Jodi.
"Habis omonganmu, lebay banget sih."
"Nyantai Sob kayak di pantai, rileks kayak di kompleks" terangnya sambil mengerling dan masih saja dengan tawanya.
"Emangnya, tadi kamu bawa kemana Si Alysia." Jodi menyelidik dengan memicingkan mata tepat di hadapan Adit.
"Ke Pantai Salju Sob, pantai dengan kelembutan pasir putihnya nomor dua di dunia, suasana sepi banget!" Adit menyampaikan kalimatnya dengan pelan dan penuh penghayatan hingga tak sadar Jodi terhanyut dalam perkataan Adit.
"Tadi ... Suasana pantai romantis banget, lalu kami melanjutkan petualangan ke tempat yang lebih asyik lagi," Adit masih asik dengan penghayatannya, bak pujangga yang tengah merapal syair-syairnya.
"Wow banget!" Jodi takjub pada cerita sahabatnya.
"Sob Jodi, Jatuh cinta itu enggak dosa kan?"
"Sama sekali enggak dosa Sob Adit, bahkan kamu akan dapetin tiket gratis."
"Tiket apaan?"
Diam sejenak, sepersekian detik, lalu kembali melanjutkan ucapannya,
"Tiket masuk neraka,
jika kamu menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan dosa"
Lalu Jodi melengos pergi, meninggalkan Adit yang masih syahdu dalam kebingungannya. ^^
*The End
Selasa, 18 Februari 2014
Ini prosa[?]
Ini prosa[?]
Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.
Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!
Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.
Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .
Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.
Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.
Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.
Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.
Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.
Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.
Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!
*curhatan tengah malam, toeweweng....
Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.
Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!
Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.
Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .
Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.
Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.
Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.
Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.
Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.
Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.
Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!
*curhatan tengah malam, toeweweng....
Kamis, 13 Februari 2014
Gagang Sapu Ajaib
Deg.... Seketika, detak jantungku berasa terhenti ketika lamat-lamat aku mendengar suara yang tak lazim itu dari luar rumah, kulirik sudut kanan bawah di layar laptop, waktu menunjukkan pukul 01.30 WITA tanggung bila harus meninggalkan tugas kantor yang sebentar lagi selesai.
Pada jam-jam seperti ini suasana desaku sudah sangat sunyi apalagi rumahku yang masih terbilang bangunan baru, letaknya di tepi desa dan berbatasan langsung dengan areal persawahan yang masih cukup luas, hanya ada sedikit semak yang menghalangi jika ingin menikmati pemandangan persawahan dari teras samping.
Aku mendengar suara itu lagi, sesaat kuhentikan tarian jemariku diatas keyboard, bola mata dan telingaku seakan janjian untuk awas secara bersamaan, hingga bisa menangkap suara aneh itu dari luar. Aku segera beranjak dari tempat duduk dengan sangat pelan dan nyaris tak bersuara, menuju ke kamar tidur yang pintunya sedikit terkuak.
"Ayah, bangun dulu, saya denger diluar ada suara aneh.” bisik ku pada suamiku sambil memegangi lengan nya.
"Suara kucing kali bun," jawab suamiku ogah-ogahan karena baru saja tidur jam 12 tadi.
"Benar yah, coba deh di dengar baik-baik."
"Tidur saja bun, besok kamu harus kerja lho." gumam nya masih dengan mata yang terpejam rapat
Sepertinya sia-sia saja membangunkan suamiku, aku masih tertegun di dekat pintu kamar dan kembali menajamkan indra untuk menangkap semua suara aneh yang datangnya dari luar rumah, sebenarnya aku begitu takut, debaran jantungku semakin tak beraturan bagai dentuman drum yang menceracau.
Dengan keberanian yang tersisa perlahan aku mendekati pintu samping, dan benar saja suara-suara itu semakin jelas, sekuat tenaga kutenangkan diri dan berusaha mengatur nafas yang sudah tidak beraturan, sekarang aku benar-benar yakin kalau diluar sana ada seseorang atau mungkin lebih yang berniat melakukan aksi ilegalnya, aku sengaja untuk tidak mengintip, takutnya mata kami bersirobok saat melihatnya lewat jendela, sehingga 'surprising plan’ yang tiba-tiba terformat secara otomatis di otak ku jadi gagal sebelum di eksekusi.
Sebentar lagi usaha si maling untuk membuka jendela rumah yang tanpa pengaman itu akan berhasil, aku harus menggagalkan usahanya, dia tak boleh berhasil memasuki rumahku, atau akan terjadi duel yang tidak berimbang antara maling yang mungkin bertubuh kekar melawan seorang perempuan, aku masih berlidung dibalik tembok diantara ruang tengah dan dapur.
Dengan posisi sigap yang bebas mengawasi pintu samping, mematung dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara secuil pun, usaha ‘tamu tak diundang’ itu untuk membuka jendela samping semakin gencar saja.
Saatnya menjalankan rencana…… segera kuraih sapu ijuk yang tergantung di dinding, dan mengendap-endap mendekati jendela samping, lalu... "prak...!" sekuat tenaga kuhantam pintu samping dengan gagang sapu yang disertai teriakan lantang “naintu pantarang..!!!"
Hampir bersamaan dengan teriakan ku yang cetar membahana, Si maling mengambil langkah seribu, suara kakinya begitu ramai beradu dengan bambu-bambu kering yang teronggok rapi di samping rumah, bersamaan itu pula suamiku terbangun
“Bunda kenapa sih, kucing aja diladenin, tidur aja lah Bun”
Kurasakan jantungku masih berdebar hebat tapi aku cekikikan sendiri, membayangkan si maling lari pontang panting karena terkejut setengah mati.
Keesokan pagi harinya… saat adik ku berkunjung kerumah, aku ceritakan kejadian semalam, lalu mengajaknya melihat ‘hasil karya’ si maling semalam, dia sempat sangat was-was tapi sekaligus cekikan mendengar ceritaku,
Tiba-tiba, “Kak, ini apa sih yang bergerak-gerak” aku melongok kearah yang ditunjuk oleh adikku
“MasyaAlloh….” Hampir bersamaan kita bergumam
Rupanya kain sarung lusuh yang dilihat oleh adik berisi 3 ekor ayam. Seekor ayam jantan dan 2 ekor ayam betina. Ujung kain sarung terikat kuat, lalu diatas nya dionggokkan secara rapat sehingga ayam-ayamnya masih tetap berada disana. Pasti malingnya ngedumel karena semalam sudah mendapat shock terapi gratis yang menyebabkan hasil curian nya ketinggalan,
“Kakak halangin orang cari nafkah aja deh” seloroh adikku sambil cengar cengir.
“Cari nafkah sih cari nafkah tapi gak di rumah orang juga kali” timpal ku sambil cekikikan yang diikuti oleh adik.
Segera aku memanggil tetangga yang kebetulan akan berangkat ke sawahnya, siapa tahu saja salah satu atau bahkan semua ayam-ayam itu adalah miliknya.
Suamiku baru percaya, saat melihat ada seekor ayam jago dan 2 ekor ayam betina yang lagi asik nangkring di samping rumah.
*Galesong Utara, 171103
°Tas Ummi°
"Ummi ... Ummi ... beliin Zakiyah tas baru ya Mi" anak perempuan 9 tahun itu merajuk manja sambil memeluk ibunya.
"Tasnya kan masih bagus, Sayang."
"Iya sih Mi, tapi teman kelas aku pada beli tas baru Mi"
"Ya kali aja tas mereka emang udh harus ganti Sayang"
"Nggak ah Mi, tas sekolah Zakiyah aja
masih lebih duluan dari punya Sofi, tapi kemarin dia udah pake tas baru lagi lho." ucapnya dengan bibir manyun.
Sambil memeluk anaknya, Sang ibu berkata dengan lembut "sini sayang, Ummi kasih tau .... orang yang beli tas baru, padahal masih memiliki yang layak pakai namanya berlebih-lebihan, dan itu sama aja dengan mubazzir, nah kata Allah nih ya, orang yang mubazzir itu berteman dengan syetan. Kakak Zakiyah mau nggak berteman dengan syetan?" ibunya menatap dengan senyuman
"Iih.. Takut ah Mi, kalau gitu Kakak nggak jadi minta dibeliin tas baru ah"
"Anak Ummi emang pintar deh." ucapan terakhir itu disertai dengan ciuman lembut di pipi anaknya
"Tapi tunggu dulu Mi ..." ucapnya terhenti
"Kenapa sayang?"
"Tapi ... tas Ummi kok banyak ya, ada warna hijau, coklat, hitam, hmm... Warna apalagi ya?" mimik serius mulai tampak di wajah imutnya.
"Berarti Ummi ini, orang yang berlebih-lebihan ya ...?"
Glek!
Perkataan terakhir ini, sempat membuat ibunya terdiam tapi setelah itu ibunya berujar dengan tenang. "Sayang, uang jajan Kak Fira yang udah SMA sama nggak dengan jajannya Zakiyah?"
"Jelas nggak sama dong, Ummi"
"Sama halnya dengan tas Ummi, kebutuhan tas Ummi nggak bisa disamain dengan kebutuhan tasnya Zakiyah, Tas Ummi banyak karena ada fungsinya masing-masing sayang, misalnya yang agak gede ini kalau umi lagi bawa laptop dan buku yang agak gede" sambil nunjukin tas ransel yang warna hitam.
"terus yang agak kecil kalau kebetulan Ummi nggak bawa laptop dan buku besar dan beda lagi kalau Ummi ke pesta, gitu Kakak Sayang" lanjut ibu dengan senyum mengembang, membuat Sang anak ikut tersenyum disertai anggukan setuju mendengar penjelasan ibunya.
-UZ,
"Tasnya kan masih bagus, Sayang."
"Iya sih Mi, tapi teman kelas aku pada beli tas baru Mi"
"Ya kali aja tas mereka emang udh harus ganti Sayang"
"Nggak ah Mi, tas sekolah Zakiyah aja
masih lebih duluan dari punya Sofi, tapi kemarin dia udah pake tas baru lagi lho." ucapnya dengan bibir manyun.
Sambil memeluk anaknya, Sang ibu berkata dengan lembut "sini sayang, Ummi kasih tau .... orang yang beli tas baru, padahal masih memiliki yang layak pakai namanya berlebih-lebihan, dan itu sama aja dengan mubazzir, nah kata Allah nih ya, orang yang mubazzir itu berteman dengan syetan. Kakak Zakiyah mau nggak berteman dengan syetan?" ibunya menatap dengan senyuman
"Iih.. Takut ah Mi, kalau gitu Kakak nggak jadi minta dibeliin tas baru ah"
"Anak Ummi emang pintar deh." ucapan terakhir itu disertai dengan ciuman lembut di pipi anaknya
"Tapi tunggu dulu Mi ..." ucapnya terhenti
"Kenapa sayang?"
"Tapi ... tas Ummi kok banyak ya, ada warna hijau, coklat, hitam, hmm... Warna apalagi ya?" mimik serius mulai tampak di wajah imutnya.
"Berarti Ummi ini, orang yang berlebih-lebihan ya ...?"
Glek!
Perkataan terakhir ini, sempat membuat ibunya terdiam tapi setelah itu ibunya berujar dengan tenang. "Sayang, uang jajan Kak Fira yang udah SMA sama nggak dengan jajannya Zakiyah?"
"Jelas nggak sama dong, Ummi"
"Sama halnya dengan tas Ummi, kebutuhan tas Ummi nggak bisa disamain dengan kebutuhan tasnya Zakiyah, Tas Ummi banyak karena ada fungsinya masing-masing sayang, misalnya yang agak gede ini kalau umi lagi bawa laptop dan buku yang agak gede" sambil nunjukin tas ransel yang warna hitam.
"terus yang agak kecil kalau kebetulan Ummi nggak bawa laptop dan buku besar dan beda lagi kalau Ummi ke pesta, gitu Kakak Sayang" lanjut ibu dengan senyum mengembang, membuat Sang anak ikut tersenyum disertai anggukan setuju mendengar penjelasan ibunya.
-UZ,
°Patah Hati Membuatku Kuat°
Kata orang nih ya, patah hati itu
bumbu nya percintaan dan tidak sedikit dari penikmat cinta pernah
merasakan efek cinta yang satu ini.
Patah hati biasanya dialami oleh mereka yang pacaran. Padahal mudah saja, jika tak ingin patah hati, jangan pacaran! hehe…
Dalam agama islam, sebenarnya tidak ada istilah pacaran yang ada adalah ta’aruf yaitu perkenalan oleh dua orang yang memang telah berencana untuk menikah dalam waktu dekat.
Menurut KBBI, Patah hati itu adalah (1) hilang keberanian; (2) hilang kemauan; (3) kecewa karena putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal.
Dari arti kata tersebut, dapat diketahui bahwa patah hati bisa terjadi pada pasangan yang masih pacaran dan yang telah menikah meskipun telah melalui jenjang yang mereka sebut pacaran, sebab jangan harap bahwa setelah pacaran bertahun-tahun maka sepasang kekasih bisa lebih mengenal satu sama lain dalam segala hal, terkadang ada sifat pasangan yang baru kita ketahui setelah pernikahan.
Mereka yang masih pacaran cenderung menampakkan sisi positif dan menutup-nutupi hal jelek dari dirinya Sehingga yang terlihat hanya kebaikan saja, setelah pernikahan barulah semuanya ketahuan, yang menyebabkan patah hati kembali rentan terjadi. So… pacaran itu kadang menipu banget ya, guys?
Baiklah, kembali ke pembahasan utama, dari artinya dapat juga difahami bahwa patah hati itu lebih bermakna kepada suatu perasaan atau keadaan yang negatif, lalu bagaimana mengubah kondisi negatif itu menjadi hal yang positif dan menyenangkan? Let’s Cekidot Guys…
Ini pengalaman pribadi saya ketika mengalami hati yang patah dan bagaimana mengubahnya menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Sebelum menikah saya pernah simpati kepada seorang teman kuliah yang juga aktivis kampus, ketika akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata dia malah naksir pada cewek lain, dan yang membuat semakin tengsin, karena cowok itu tahu kalau saya pun suka sama dia, OuEmJi.. Betapa hancurnya perasaan saya waktu itu.
Lalu bagaimana mengolah perasaan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan? Waktu itu ada sebuah event kompetisi yang kebetulan diikuti juga oleh cowok yang saya maksud dan cewek gebetannya itu, maka saya berfikir sekarang saatnya menunjukkan kemampuan, bahwa saya bisa lebih baik dari mereka dan bahwa dengan penolakan cinta ini tidak lantas membuat saya down. Walhasil, Semua usaha tidak sia-sia peringkat pertama berhasil saya sabet dengan memanfaatkan emosi karena patah hati, keadaan negatif setelah patah hati saya ubah menjadi energi yang positif dan hasilnya luar biasa, patah hati seketika berubah menjadi perasaan senang. Bunda Asma Nadia menyebut hal ini dengan ‘Dendam Positif’ yaitu perasaan dendam yang diarahkan kepada sesuatu yang positif.
Setahun setelah peristiwa itu, lelaki Sang aktivis kampus melamar saya dan kita pun menikah.
Tapi bukan berarti bahwa setelah pernikahan saya telah terbebas dari patah hati, ada saja hal yang menyebabkan munculnya perasaan itu lagi, misalnya ketika berharap bahwa telah ada seseorang yang bisa mengantar kesana kemari, ke sekolah (waktu itu saya bekerja sebagai guru sukarela pada sebuah SD), ke pasar, ke rumah ibu, ke taklim, atau sekedar kunjungan silaturrahim ke rumah keluarga padahal Sang suami pun sangat sibuk dengan kerjaannya yang bejibun sehingga tidak setiap saat bisa mengantar saya.
Keadaan ini benar-benar di luar harapan (baca:patah hati) jika ingin bepergian harus sibuk dulu mencari tukang ojek, ini saatnya ‘dendam positif’ harus segera diberdayakan, saya lalu ke kantor polisi mengurus SIM padahal waktu itu sama sekali saya belum bisa mengendarai motor tapi kemudian berusaha untuk menaklukkan ‘kuda besi’ milik kami.
Walau sempat terjatuh beberapa kali dan hampir mengalami cacat di bagian wajah tapi saya tak menyerah dan alhamdulillah kali ini hasilnya pun luar biasa.
Beberapa bulan setelahnya, saya lulus PNS dan di tempatkan pada desa terpencil di daerah pegunungan yang jaraknya 3 setengah jam perjalanan dari rumah saya.
Untuk sampai ke wilayah tersebut, harus melalui tempat yang tidak ada penduduknya, jalannya terjal, berliku dan beberapa jurang disisi jalan. Jika tidak memiliki kendaraan sendiri, beberapa tukang ojek siap mengantarkan sampai ke tujuan dan itu tidak mungkin saya lakukan. Saya fikir lebih baik saya naik motor sendiri melalui medan itu daripada diantar oleh tukang ojek yang sama sekali belum saya kenal. Akhirnya rute itu lebih sering saya tempuh sendirian ketika suami tidak bisa mengantar. Saya lalu berfikir, mungkin ini hikmah dari patah hati yang saya alami.
Intinya adalah… suka atau tidak suka, patah hati sewaktu-waktu akan menghampiri hidup kita tapi jika bisa mengolah perasaan itu menjadi energi positif, maka insyaallah Allah SWT. dan hukum alam akan menghadiahkan perasaan bahagia sesudahnya.
Wallahu a’lam bisshowab
Subhanaka Allohumma Wabihamdik Asyhaduanla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaik.
Galesong, 31012014
Patah hati biasanya dialami oleh mereka yang pacaran. Padahal mudah saja, jika tak ingin patah hati, jangan pacaran! hehe…
Dalam agama islam, sebenarnya tidak ada istilah pacaran yang ada adalah ta’aruf yaitu perkenalan oleh dua orang yang memang telah berencana untuk menikah dalam waktu dekat.
Menurut KBBI, Patah hati itu adalah (1) hilang keberanian; (2) hilang kemauan; (3) kecewa karena putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal.
Dari arti kata tersebut, dapat diketahui bahwa patah hati bisa terjadi pada pasangan yang masih pacaran dan yang telah menikah meskipun telah melalui jenjang yang mereka sebut pacaran, sebab jangan harap bahwa setelah pacaran bertahun-tahun maka sepasang kekasih bisa lebih mengenal satu sama lain dalam segala hal, terkadang ada sifat pasangan yang baru kita ketahui setelah pernikahan.
Mereka yang masih pacaran cenderung menampakkan sisi positif dan menutup-nutupi hal jelek dari dirinya Sehingga yang terlihat hanya kebaikan saja, setelah pernikahan barulah semuanya ketahuan, yang menyebabkan patah hati kembali rentan terjadi. So… pacaran itu kadang menipu banget ya, guys?
Baiklah, kembali ke pembahasan utama, dari artinya dapat juga difahami bahwa patah hati itu lebih bermakna kepada suatu perasaan atau keadaan yang negatif, lalu bagaimana mengubah kondisi negatif itu menjadi hal yang positif dan menyenangkan? Let’s Cekidot Guys…
Ini pengalaman pribadi saya ketika mengalami hati yang patah dan bagaimana mengubahnya menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Sebelum menikah saya pernah simpati kepada seorang teman kuliah yang juga aktivis kampus, ketika akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata dia malah naksir pada cewek lain, dan yang membuat semakin tengsin, karena cowok itu tahu kalau saya pun suka sama dia, OuEmJi.. Betapa hancurnya perasaan saya waktu itu.
Lalu bagaimana mengolah perasaan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan? Waktu itu ada sebuah event kompetisi yang kebetulan diikuti juga oleh cowok yang saya maksud dan cewek gebetannya itu, maka saya berfikir sekarang saatnya menunjukkan kemampuan, bahwa saya bisa lebih baik dari mereka dan bahwa dengan penolakan cinta ini tidak lantas membuat saya down. Walhasil, Semua usaha tidak sia-sia peringkat pertama berhasil saya sabet dengan memanfaatkan emosi karena patah hati, keadaan negatif setelah patah hati saya ubah menjadi energi yang positif dan hasilnya luar biasa, patah hati seketika berubah menjadi perasaan senang. Bunda Asma Nadia menyebut hal ini dengan ‘Dendam Positif’ yaitu perasaan dendam yang diarahkan kepada sesuatu yang positif.
Setahun setelah peristiwa itu, lelaki Sang aktivis kampus melamar saya dan kita pun menikah.
Tapi bukan berarti bahwa setelah pernikahan saya telah terbebas dari patah hati, ada saja hal yang menyebabkan munculnya perasaan itu lagi, misalnya ketika berharap bahwa telah ada seseorang yang bisa mengantar kesana kemari, ke sekolah (waktu itu saya bekerja sebagai guru sukarela pada sebuah SD), ke pasar, ke rumah ibu, ke taklim, atau sekedar kunjungan silaturrahim ke rumah keluarga padahal Sang suami pun sangat sibuk dengan kerjaannya yang bejibun sehingga tidak setiap saat bisa mengantar saya.
Keadaan ini benar-benar di luar harapan (baca:patah hati) jika ingin bepergian harus sibuk dulu mencari tukang ojek, ini saatnya ‘dendam positif’ harus segera diberdayakan, saya lalu ke kantor polisi mengurus SIM padahal waktu itu sama sekali saya belum bisa mengendarai motor tapi kemudian berusaha untuk menaklukkan ‘kuda besi’ milik kami.
Walau sempat terjatuh beberapa kali dan hampir mengalami cacat di bagian wajah tapi saya tak menyerah dan alhamdulillah kali ini hasilnya pun luar biasa.
Beberapa bulan setelahnya, saya lulus PNS dan di tempatkan pada desa terpencil di daerah pegunungan yang jaraknya 3 setengah jam perjalanan dari rumah saya.
Untuk sampai ke wilayah tersebut, harus melalui tempat yang tidak ada penduduknya, jalannya terjal, berliku dan beberapa jurang disisi jalan. Jika tidak memiliki kendaraan sendiri, beberapa tukang ojek siap mengantarkan sampai ke tujuan dan itu tidak mungkin saya lakukan. Saya fikir lebih baik saya naik motor sendiri melalui medan itu daripada diantar oleh tukang ojek yang sama sekali belum saya kenal. Akhirnya rute itu lebih sering saya tempuh sendirian ketika suami tidak bisa mengantar. Saya lalu berfikir, mungkin ini hikmah dari patah hati yang saya alami.
Intinya adalah… suka atau tidak suka, patah hati sewaktu-waktu akan menghampiri hidup kita tapi jika bisa mengolah perasaan itu menjadi energi positif, maka insyaallah Allah SWT. dan hukum alam akan menghadiahkan perasaan bahagia sesudahnya.
Wallahu a’lam bisshowab
Subhanaka Allohumma Wabihamdik Asyhaduanla Ilaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaik.
Galesong, 31012014
Langganan:
Postingan (Atom)
