Kamis, 13 Maret 2014

°Nestapa Cinta°


Ingatkah? 
Ketika asa bersambut, hantarkan persuaan kasih
Pun tiada aral yang menyanggah
Untuk menghalau rasa itu membaur di satu titik
Aku, kamu ... lalu kita terbuai dalam pasrah!

Selaksa kisah luapkan cinta dengan piawai
tanpa ragu telah menyemai kalbu
Indah laksana puspa bermekar di taman hati
Tatkala asa rela menyulam rindu

Lalu jagad bertasbih khusyuk
Ikrarkan pertautan raga dalam saksi
Hadirkan rinai yang begitu syahdu
Bahkan cakrawala pun takzim tiada sangsi

Itu awal pengembaraan rasa berkawan mimpi
Lalui badai hidup berkalang dalam jasad
Tiada jeda lagi untuk menuai kasih
Hanyalah kalut pias menghempas

Mana … mana janji yang pernah kau semai?
Mana cinta yang usai kau tulis?
Dalam kitab hati yang dulu terpatri rapi
Semua kini berbalut selimut sedih

Serangkai hikayat lebur dalam ketakpastian
Hadirkan bebilur rasa yang hebat
Menikam, menohok kuat dalam lara
Mencekam rasa tiada jera

Bahkan pekat malam tak menafikan
Hadirkan jua deraian air mata pilu
Merembes hebat dalam sepinya hati di tepian
Tapi engkau tetap dalam angkuhmu

Kini kau sisakan luka cinta tiada terperih
Dalam kalbu yang masih mendamba
Pada janjijanji suci
Yang tertuang dalam kisah usang

Aduhai derita hati tak terwakilkan dalam kata
Bahkan dalam ejaan sajak
Baitbaitnya luruh tiada daya
Terhempas kuat mencengkram duka

Oh, cinta mengerang jua menuai luka
Kelam mengemas remas airmata
Lalu akan kemana hendak menambatkan
Nestapa cinta tak bertahta.

Rabu Sore, 050314

=YOU ARE MY EVERYTHING=

Selaksa tanya tiba-tiba menyeruak memenuhi ruang nalarku, duh Gusti Allah... Kenapa pertanyaan aneh ini menyerbu, ketika memandang wanita yang tengah terbaring lemah dalam tidur, kerutan mulai menggaris di wajahnya, tapi bias kecantikan masih saja terlukis dalam rupa yang kini menirus. Perlahan kubelai lembut rambutnya.

"Mama, cepat sembuh ya," gumamku perlahan nyaris tanpa suara. Mataku menghangat hingga tak terasa, menetes buliran bening. Kelopak mata mama membuka sedikit, lalu pelan menoleh kearahku.

"Mama, maafin kakak udah gangguin tidurnya mama."

"Enggak Kak. Mama emang udah pengen bangun. Eh, Kakak nangis ya sayang?" Tanya mama karena melihat mataku memerah.

"Enggak kok, Ma." Sambil tersenyum, buru-buru kuseka pipi dengan kedua punggung tangan.

"Mama, nggak apa-apa, Kak. Mama hanya kelelahan saja, hingga nge-drop kayak gini."

"Mama cepat sembuh dong."

"Pasti, sayang."

"Kak, Adik mana ya?"

"Adik baru saja pulang, Ma. Katanya ntar sore dia kesini lagi."

"Adikmu sudah makan, Nak?"
"Sudah Ma, tadi kakak bawa makanan dari rumah."
"Syukurlah, trimakasih ya Kak. Kakak sudah bantu mama."

"Mama kan lagi sakit, jadi urusan rumah tanggung jawab Kak Rini dong."

"Ah kakak sekarang sudah dewasa, mama bangga sama kakak." Senyum bahagia tersungging di bibir kami.

Sejak kematian papa empat tahun yang lalu, Setiap hari, mama lebih sering naik motor sendiri ke sekolah tempatnya mengajar. kadang-kadang hati ini terenyuh melihat perjuangan mama sebagai single parent. Akhir-akhir ini, ada beberapa pria yang berniat melamar mama, tapi ketika mama memberitahukan hal itu, aku selalu diam dan biasanya beralasan mau belajar agar bisa segera berlalu dari hadapannya. Padahal wajar saja jika mama masih ingin menikah di usianya yang masih 37 tahun. Untuk membantu mama memenuhi kebutuhan aku dan adik Reza, maka kuputuskan untuk mengelola warung kecil-kecilan di depan rumah. Meski tak jarang, mama yang membuka warung jika lebih dahulu sampai ke rumah, setelah mengajar di Sekolah Dasar Budi Mulia yang terletak empat kilometer dari rumah kami. 

***

"Mbak Rini, ini resep yang harus mbak tebus," jelas seorang suster ketika aku sengaja ke ruang jaga mereka untuk mengambil resep obat untuk mama.

"Makasih ya, Suster" imbuhku, lalu segera berlalu dari tempat mereka. Belum beberapa meter aku melangkah tiba-tiba seorang suster memanggil.

"Mbak Rini," panggilan itu memaksa aku segera menoleh ke arah suster yang memanggil.

"Iya, Suster"

"Mbak Rini, dipanggil ke ruangan dokter Richie," lanjutnya.

Deg..., dadaku langsung berdesir, seketika aku mengingat mama. Dokter pasti akan membicarakan perihal penyakit mama.

Tok tok tok, perlahan aku mengetuk ruangan bernuansa putih itu.

"Permisi, Dok."

"Iya silahkan masuk." seorang asisten pria, membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.

"Anaknya Bu Rara ya? Mari silahkan duduk Mbak."Ajakan yang ramah itu, tak cukup menenangkan pacu jantungku.

"Makasih, Dok" jawabku dengan senyum hambar, lalu segera duduk dihadapan meja dokter.

"Begini mbak, ibu mbak sepertinya kecapaian, yang menyebabkan kondisi badan beliau melemah," dokter Richie menjelaskan dengan hati-hati.

"Mm… bisa saya tanya sesuatu ke mbak?" lanjutnya.

"Bisa, Dok" jawabku segera.

"Tapi saya mohon, mbak tidak terkejut sebab semua penyakit insyaallah ada obatnya" kalimat dokter itu semakin membuat aku penasaran.

“Memangnya ibu saya sakit apa ya, Dok?”

"Apakah selama ini, ibu mbak sering mengeluh sakit di perut bagian bawah?"

“Pernah beberapa kali, Dok.”

Setelah kami melakukan pemeriksaan, kami menemukan bahwa ibu Mbak, terkena gejala kanker mulut rahim, atau dalam istilah kedokteran sering juga disebut dengan kanker serviks."

"A-apa Dok?" aku tersentak kaget, bagai tidak yakin dengan pendengaranku sendiri.

"Kanker mulut rahim, Mbak. Tapi mbak nggak perlu kuatir, insyaallah ibunya masih bisa sembuh, yang penting bu Rara bisa menghindari makanan pantangan, tetap menjaga kebersihan dan meminum obat yang dianjurkan.”

Suara dokter lamat-lamat menjelaskan, tapi konsentrasiku buyar, perhatianku tidak tertuju pada kalimat dokter, yang aku pikirkan kenapa mama sampai mengidap penyakit aneh itu. Ingatanku lalu berhenti disatu titik, pada pikiran yang entah benar atau salah, tiba-tiba aku menghubungkan penyakit mama dengan lelaki yang belakangan ini sering kirim pesan ke akun FB yang dulu aku buatkan untuknya. Aku marah, sangat marah. Berbagai penjelasan dokter tak banyak yang singgah di benakku, emosiku kian menjadi!
Aku berjalan lunglai ke ruangan, dimana mama sedang tertidur. Hatiku sungguh lelah!

Hari keempat di rumah sakit, kondisi mama telah membaik. kata dokter pukul 10.00 pagi ini, mama sudah bisa kembali ke rumah. Aku mengemasi barang-barang, ketika mama yang duduk di tepi ranjang menyapa.

"Kakak kelihatannya lemes banget, kakak sakit ya?"

"Enggak kok Ma, kakak nggak sakit. Mungkin karena tidurnya aja yang kurang nyenyak selama di rumah sakit ini," aku mencoba menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya kepada mama.

"Kakak minum madu, biar nggak loyo." tatapan mama yang sendu, membuat aku bangkit dan segera mengikuti anjurannya. 

"Iya, Ma." ujarku sambil mengambil sesendok madu.

***

Hari ini mama mulai mengajar lagi, setelah beristirat selama dua hari sekeluarnya dari rumah sakit. Tepat jam 07.00 WIB mama dan dik Reza, sudah meninggalkan rumah.
Aku juga sudah siap hendak berangkat ke kampus, kubaca sekali lagi surat ringkas yang baru saja kutulis.

Mama,
Kakak nginap di rumah teman, beberapa hari untuk menenangkan hati. 
Kak Rini.

Kusimpan lembaran itu di meja kerja mama, sambil menarik napas panjang. pikiran-pikiran buruk tentang mama masih saja bergelayut di otakku. Net book dan beberapa potong baju sudah siap di tas cangklong yang agak besar, aku ingin nginap di rumah Gita untuk beberapa hari. 
Di kampus, sahabatku Gita sampai menyelidiki bawaanku yang tidak biasanya sebanyak itu.

"Mau minggat ya, Rin?" serta merta Gita memegangi dan menilik tas yang tergeletak pasrah di kursi yang ada di dekatku.

"Enggak kok, aku pamit sama mama."

"Jangan-jangan kamu mau kawin lari nih? Sama siapa? Beritahu dong,” cerocos Gita gencar bagai kendaraan yang remnya lagi blong.

"Ha... kawin lari? Apaan tuh?"

"Itu lho, kawin tapi sambil lari-larian." Terdengar tawa renyahnya memenuhi ruangan perkuliahan.

"Hadeuh, ngawur kamu Git, aku hanya pengen menjauh aja dari rumah, beberapa saat."

"Lho... Ada apa? Kamu marahan sama mamamu?"

"Enggak kok, hubungan aku dan mama baik-baik saja, ntar aja aku ceritain asal ijinkan aku nginap beberapa hari di rumahmu."

"Okey Cah ayu, lagian tumben-tumbenan kamu pamitan mau nginap di rumah, biasanya juga, langsung datang, iya kan?"

"Tapi kali ini aku nginapnya beberapa hari, bisa ya?"

"Iya... Iya, asal kamu nggak ngompol aja, aku siap menerima kamu kapanpun" Gita mengucapkan itu disertai gelak tawa khasnya.

"Asem kamu, Git! masa cewek manis dan wangi gini, ngompol sih. Amit-amit deh."

"Huu... kepedean kamu Rin." Kita berdua tertawa, tapi kemudian diredakan oleh kehadiran dosen killer pada jam pertama.

Setelah perkuliahan usai, aku dan Gita beriringan ke tempat parkir, akan menuju ke rumahnya.

***

Baru saja, aku hempaskan badan ke kasur empuk di kamar Gita, tiba-tiba hape-ku berdering, segera kuambil HP dari saku jeans, ternyata telepon dari mama, aku tidak menjawab panggilan itu, melainkan aku biarkan benda itu terus bergetar dan melantunkan reff lagu 'trouble', hingga akhirnya berhenti sendiri. Aku belum siap berbicara dengan mama, sungguh... rasanya saat ini, aku kehilangan kata untuk menjelaskan kenapa jadi sangat marah ke mama. Pelan-pelan kelopak mataku menutup hendak menjemput mimpi-mimpi indah yang hanya ada dalam bunga tidur.

Setelah makan malam, aku iseng membuka akun facebook. Ada pesan dari mama, segera aku klik ikon amplop yang ada di sudut atas layar handphone.

‘Dear Kak Rini,
Mama mohon maaf, sekiranya ada sikap mama yang tidak kakak sukai, hanya saja mama benar-benar nggak paham kenapa Kakak jadi marah seperti ini, padahal mama nggak tahu apa kesalahan yang sudah mama lakukan ke kamu, Nak! 
Plis beri penjelasan, biar mama bisa memperbaiki diri, dan tidak bingung seperti ini. Mama sayang banget sama kakak, hanya kepadamu Mama tumpukan segala harapan, Nak. 
Kakak, pulang ya... Kasihan Dik Reza nggak ada teman main. 
Mama sayang banget sama Kakak'

Deg…. Entah knapa, tiba-tiba kesedihan menyeruak di relung hatiku. Notifikasi dari FB aku buka tanpa bersemangat merespon balik, malah jempolku tergerak membuka tab baru lalu mengetik kata 'kanker serviks' dari kolom pencarian di google. Ada banyak informasi yang aku dapatkan, salah satunya aku tahu bahwa kanker serviks itu tidak selamanya disebabkan oleh hubungan sex yang tidak dibenarkan. aku juga baru ingat kalau nenek meninggal karena kanker. dan boleh jadi, itu salah satu penyebab kenapa mama mengidap penyakit yang sama. Sungguh, aku jadi merasa bersalah, telah berpikiran buruk kepada mama, dan menelpon mama pada jam-jam seperti ini pasti hanya akan mengganggu tidurnya.

Ah, mendadak aku menjadi cengeng, tak terasa ada airmata yang mengalir di pipi. Maafkan Kak Rini ya Ma. Rini janji setelah ini akan menjaga mama dengan baik dan akan rutin menjerang daun sirsak untuk mengobati penyakit mama.
Besok pagi aku harus menemui mama dan minta maaf kepada beliau, tekadku dalam hati. Malam yang kian larut, mengantarku lelap dalam tidur dengan mata yang sembab.

***

Tepat pukul 07.15 Wib, aku dan Gita sudah siap berangkat, ketika tiba-tiba handphone-ku berdering.

"Telepon dari siapa Rin?" Tanya Gita menyelidik.

"Dari mama," aku tersenyum senang dan menatap Gita.

"Cepetan diangkat Rin," tak kurespon lagi ucapan Gita, karena perhatianku segera tertuju ke HP dan segera mengangkat telepon dari mama.

"Halo, mbak bener anaknya ibu yang punya nomer HP ini?"

"Iya bener Pak, mana mama saya, Pak? Kenapa bukan mama yang langsung bicara dengan saya?" cecarku.

"Sabar ya Mbak, ibu mbak kecelakaan di perempatan menuju SD Budi Mulia." Ucapan itu membuat jiwa dan tubuhku limbung. Aku terhenyak!

"A-apa? Jadi gimana keadaan mama saya, Pak? mama dimana sekarang?"

"Ibunya telah dibawa ke Rumah Sakit Umum."

"Saya segera kesana, Pak." Tak dapat kutahan airmata yang bercucuran, hatiku menangis pilu. Kulafazkan maaf dalam derai kesedihan dari hatiku.

"Maafkan anakmu ini, Ma!"

*The End