Kamis, 13 Februari 2014
Gagang Sapu Ajaib
Deg.... Seketika, detak jantungku berasa terhenti ketika lamat-lamat aku mendengar suara yang tak lazim itu dari luar rumah, kulirik sudut kanan bawah di layar laptop, waktu menunjukkan pukul 01.30 WITA tanggung bila harus meninggalkan tugas kantor yang sebentar lagi selesai.
Pada jam-jam seperti ini suasana desaku sudah sangat sunyi apalagi rumahku yang masih terbilang bangunan baru, letaknya di tepi desa dan berbatasan langsung dengan areal persawahan yang masih cukup luas, hanya ada sedikit semak yang menghalangi jika ingin menikmati pemandangan persawahan dari teras samping.
Aku mendengar suara itu lagi, sesaat kuhentikan tarian jemariku diatas keyboard, bola mata dan telingaku seakan janjian untuk awas secara bersamaan, hingga bisa menangkap suara aneh itu dari luar. Aku segera beranjak dari tempat duduk dengan sangat pelan dan nyaris tak bersuara, menuju ke kamar tidur yang pintunya sedikit terkuak.
"Ayah, bangun dulu, saya denger diluar ada suara aneh.” bisik ku pada suamiku sambil memegangi lengan nya.
"Suara kucing kali bun," jawab suamiku ogah-ogahan karena baru saja tidur jam 12 tadi.
"Benar yah, coba deh di dengar baik-baik."
"Tidur saja bun, besok kamu harus kerja lho." gumam nya masih dengan mata yang terpejam rapat
Sepertinya sia-sia saja membangunkan suamiku, aku masih tertegun di dekat pintu kamar dan kembali menajamkan indra untuk menangkap semua suara aneh yang datangnya dari luar rumah, sebenarnya aku begitu takut, debaran jantungku semakin tak beraturan bagai dentuman drum yang menceracau.
Dengan keberanian yang tersisa perlahan aku mendekati pintu samping, dan benar saja suara-suara itu semakin jelas, sekuat tenaga kutenangkan diri dan berusaha mengatur nafas yang sudah tidak beraturan, sekarang aku benar-benar yakin kalau diluar sana ada seseorang atau mungkin lebih yang berniat melakukan aksi ilegalnya, aku sengaja untuk tidak mengintip, takutnya mata kami bersirobok saat melihatnya lewat jendela, sehingga 'surprising plan’ yang tiba-tiba terformat secara otomatis di otak ku jadi gagal sebelum di eksekusi.
Sebentar lagi usaha si maling untuk membuka jendela rumah yang tanpa pengaman itu akan berhasil, aku harus menggagalkan usahanya, dia tak boleh berhasil memasuki rumahku, atau akan terjadi duel yang tidak berimbang antara maling yang mungkin bertubuh kekar melawan seorang perempuan, aku masih berlidung dibalik tembok diantara ruang tengah dan dapur.
Dengan posisi sigap yang bebas mengawasi pintu samping, mematung dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara secuil pun, usaha ‘tamu tak diundang’ itu untuk membuka jendela samping semakin gencar saja.
Saatnya menjalankan rencana…… segera kuraih sapu ijuk yang tergantung di dinding, dan mengendap-endap mendekati jendela samping, lalu... "prak...!" sekuat tenaga kuhantam pintu samping dengan gagang sapu yang disertai teriakan lantang “naintu pantarang..!!!"
Hampir bersamaan dengan teriakan ku yang cetar membahana, Si maling mengambil langkah seribu, suara kakinya begitu ramai beradu dengan bambu-bambu kering yang teronggok rapi di samping rumah, bersamaan itu pula suamiku terbangun
“Bunda kenapa sih, kucing aja diladenin, tidur aja lah Bun”
Kurasakan jantungku masih berdebar hebat tapi aku cekikikan sendiri, membayangkan si maling lari pontang panting karena terkejut setengah mati.
Keesokan pagi harinya… saat adik ku berkunjung kerumah, aku ceritakan kejadian semalam, lalu mengajaknya melihat ‘hasil karya’ si maling semalam, dia sempat sangat was-was tapi sekaligus cekikan mendengar ceritaku,
Tiba-tiba, “Kak, ini apa sih yang bergerak-gerak” aku melongok kearah yang ditunjuk oleh adikku
“MasyaAlloh….” Hampir bersamaan kita bergumam
Rupanya kain sarung lusuh yang dilihat oleh adik berisi 3 ekor ayam. Seekor ayam jantan dan 2 ekor ayam betina. Ujung kain sarung terikat kuat, lalu diatas nya dionggokkan secara rapat sehingga ayam-ayamnya masih tetap berada disana. Pasti malingnya ngedumel karena semalam sudah mendapat shock terapi gratis yang menyebabkan hasil curian nya ketinggalan,
“Kakak halangin orang cari nafkah aja deh” seloroh adikku sambil cengar cengir.
“Cari nafkah sih cari nafkah tapi gak di rumah orang juga kali” timpal ku sambil cekikikan yang diikuti oleh adik.
Segera aku memanggil tetangga yang kebetulan akan berangkat ke sawahnya, siapa tahu saja salah satu atau bahkan semua ayam-ayam itu adalah miliknya.
Suamiku baru percaya, saat melihat ada seekor ayam jago dan 2 ekor ayam betina yang lagi asik nangkring di samping rumah.
*Galesong Utara, 171103
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar