Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Februari 2014
°°°Embun malam merindu lagi°°°
Entah kenapa, gerimis senja masih saja betah menganak sungai jika melintas jejakmu bulan
Padahal
duniamu dan dunianya sudah beda
Tiada yang bisa menyatukan
selain garis Tuhan
Oh, malam malam gulita
Semoga larik bayangmu masih mampu bercerita
Sampaikan rindu
Pada bulan separuh
Katakan ...
embun malam masih menunggu
Masih seperti dulu
Tetap dalam rindu membuncah
Akan janjimu menantinya di surga
Bulan separuh ...
Embun malam merindu!
Ujung Desa, semenit menjelang 24 februari 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
-Kisah Klasik-
-Kisah Klasik-
Liar tetangan masa menggerayang jagad
Membelai lembut
lalu tibatiba mencengkeram kuat
tanpa ampun
Gemulai lagi
Merambah pada selaksa kisah
Beringas lagi
Mengganas pada jutaan babad
Menghamba pada Tuan diatas Tuan
Para musafir
Mendayu merayu
Memelas, memaki lalu teriak
Edan!
Ah ...
Tabir seolah menguak aib
Menikam bekas bilurbilur sejarah
Tetap saja tanpa ampun
Padahal jejurus maut telah menghunjam
Tiada jera ...
Petilasan sirah nyaris tak membekas
Pahatkan goresan titah
Titah Raja Diraja
Tertegun pada kisah klasik mayapada
Lalu pemisah menjemput paksa
Koit!
Hadapkan segala kisah kasih
Ceritakan cinta cinta buta
Dalam diam
North Gale-Song, 23-02-2014
Liar tetangan masa menggerayang jagad
Membelai lembut
lalu tibatiba mencengkeram kuat
tanpa ampun
Gemulai lagi
Merambah pada selaksa kisah
Beringas lagi
Mengganas pada jutaan babad
Menghamba pada Tuan diatas Tuan
Para musafir
Mendayu merayu
Memelas, memaki lalu teriak
Edan!
Ah ...
Tabir seolah menguak aib
Menikam bekas bilurbilur sejarah
Tetap saja tanpa ampun
Padahal jejurus maut telah menghunjam
Tiada jera ...
Petilasan sirah nyaris tak membekas
Pahatkan goresan titah
Titah Raja Diraja
Tertegun pada kisah klasik mayapada
Lalu pemisah menjemput paksa
Koit!
Hadapkan segala kisah kasih
Ceritakan cinta cinta buta
Dalam diam
North Gale-Song, 23-02-2014
Selasa, 18 Februari 2014
Teman Bulan
Bulan separuh...
Embun disini sayang
Hanya malam yang bisa persuakan
Pandangimu dari altar kasih
Menikmati bentuk indahmu
Merindumu
Di kejauhan asa
Tapi sia-sia
Waktu menepis
Jarak menahan
Tetap nggak bisa menyapamu
Meski hanya sekedar berteman
Gemintang selalu cemburu
Saat embun menyapa
Aih .. Bintang jahat!
Padahal embun nggak seburuk fikirannya
Ya sudah, kalau nggak bisa ketemu di dunia
tunggu embun ya di surga
Embun disini sayang
Hanya malam yang bisa persuakan
Pandangimu dari altar kasih
Menikmati bentuk indahmu
Merindumu
Di kejauhan asa
Tapi sia-sia
Waktu menepis
Jarak menahan
Tetap nggak bisa menyapamu
Meski hanya sekedar berteman
Gemintang selalu cemburu
Saat embun menyapa
Aih .. Bintang jahat!
Padahal embun nggak seburuk fikirannya
Ya sudah, kalau nggak bisa ketemu di dunia
tunggu embun ya di surga
Kamis, 13 Februari 2014
Sepi!
Beku, hening!
Salju berbisik pelan
;Jiwa Merinding
Tanpa dekapan
;Jiwa Merinding
Tanpa dekapan
Dingin menyusupi
Menohok hingga belulang
;Tiada selimut hati
Selain kelebat bayang
Menohok hingga belulang
;Tiada selimut hati
Selain kelebat bayang
Bayang pilu kehidupan
Nan meraja dalam hampa
O, cinta tak bertuan!
Puas berkawan nestapa
Nan meraja dalam hampa
O, cinta tak bertuan!
Puas berkawan nestapa
Kasih purba pun jemawa
Sepi dalam sendiri
Wahai Engkau Penguasa raya
Hamba rindu, dekaplah jiwa ini!
Sepi dalam sendiri
Wahai Engkau Penguasa raya
Hamba rindu, dekaplah jiwa ini!
Balada Dara-Aden
Balada Dara-Aden
;Semekar kuncup nirwana
Bermesra tapaki jagad
Indah mendulang renjana
Selaku intan zabarjad
;Semekar kuncup nirwana
Bermesra tapaki jagad
Indah mendulang renjana
Selaku intan zabarjad
Cita cinta Dara-Aden
Insaninsan khusyuk berkasihan
Mendulang rinai asmara
Menuai rindu membara
Insaninsan khusyuk berkasihan
Mendulang rinai asmara
Menuai rindu membara
;Aduhai Cinta
Terpaut amarah
Tatkala Cita
Terpasung bencana
Terpaut amarah
Tatkala Cita
Terpasung bencana
O, Dara; Dara Sayang
Sukma hinggap bercenayang
Sertakan luluh lantak jiwa merana
Pada amor nan membuana entah dimana
Sukma hinggap bercenayang
Sertakan luluh lantak jiwa merana
Pada amor nan membuana entah dimana
O, Cinta; Cinta Sayang
Bunga kamboja menyeringai
Meranggas kerana kasih tak tergapai
Sisakan sukma menggersang
Bunga kamboja menyeringai
Meranggas kerana kasih tak tergapai
Sisakan sukma menggersang
Aduhai,
Tatkala damba Menjerit parau, Meraih impian yang membelit
Asa pun entah raib dalam dimensi noktah tak terperih
;Kasih, Cinta, siasia!
Tatkala damba Menjerit parau, Meraih impian yang membelit
Asa pun entah raib dalam dimensi noktah tak terperih
;Kasih, Cinta, siasia!
-UZ,
=Zuhud=
Oleh: Ummu Zakiyah
Nuansa pagi, lirih menjamah jumawa
Belai lembut pintupintu cakrawala
Hangat menyentuh sukma
Nikmat merambah jiwa
Tamam kitari masa
Di sekeliling kilau ratna mutumanikam
Memendar membelai seluruh alam
Perhiasan bagi insan faham
Dan mereka yang waham
Kini telah khatam
Penciptanya sungguh Kuasa dan Bertuah
Hanya kepadaMu-lah diri berserah
Meluruhkan Cinta dan Pasrah
Sejuk, murni tak bernoktah
Melampau para dafnah
Izinkan hamba takzim dikala mencinta
Patutkan nurani hingga tiada terkira
Tunduk ke hadiratMU Penguasa
Trima bakti suci sujud hamba
Menjura dalam Tuma'nina
Galesong, 13 Februari 2014
Nuansa pagi, lirih menjamah jumawa
Belai lembut pintupintu cakrawala
Hangat menyentuh sukma
Nikmat merambah jiwa
Tamam kitari masa
Di sekeliling kilau ratna mutumanikam
Memendar membelai seluruh alam
Perhiasan bagi insan faham
Dan mereka yang waham
Kini telah khatam
Penciptanya sungguh Kuasa dan Bertuah
Hanya kepadaMu-lah diri berserah
Meluruhkan Cinta dan Pasrah
Sejuk, murni tak bernoktah
Melampau para dafnah
Izinkan hamba takzim dikala mencinta
Patutkan nurani hingga tiada terkira
Tunduk ke hadiratMU Penguasa
Trima bakti suci sujud hamba
Menjura dalam Tuma'nina
Galesong, 13 Februari 2014
Lepas!
Katakan pada karang ...
Tak sudi melihatmu lagi
Kokohmu menancap begitu angkuh
Teruslah bernyanyi dengan pongah
Suarakan keegoisan akut
Hingga lelah menjemputmu
Dan maut men-ciduk rohmu
Lakumu Menyebalkan!
Aku tidak marah
Hanya kecewa pada ketidakadilan!
Cuihh ...
Dan engkau, menguaplah bersama tangis!
Lega!
Tak sudi melihatmu lagi
Kokohmu menancap begitu angkuh
Teruslah bernyanyi dengan pongah
Suarakan keegoisan akut
Hingga lelah menjemputmu
Dan maut men-ciduk rohmu
Lakumu Menyebalkan!
Aku tidak marah
Hanya kecewa pada ketidakadilan!
Cuihh ...
Dan engkau, menguaplah bersama tangis!
Lega!
Khidmat ...
Sayup rinai tertangkap indra
Bak pepuisi indah nan mendayu
Hijau bagai hiasan tundra
Menghampari sukma kuyu
Tatkala damba amorf kian meracau
Melindap di remang malam
Kemana hati hendak menjangkau
Menghimpun ridho Penguasa alam
Aduhai di redup temaram
Menyungkur dalam khidmat sujud
Menghiba dengan wujud
Untuk menggapai cinta tamam
Ke Duli Tuhanku hamba berserah
Mengharap sejumput asa
Kabulkan pinta dalam titah
Untuk hidup nan bahagia
Amin Ya Azza Wajalla!
Galesong, Sabtu Pagi 8 Feb 2014
*Ummu Zakiyah*
Bak pepuisi indah nan mendayu
Hijau bagai hiasan tundra
Menghampari sukma kuyu
Tatkala damba amorf kian meracau
Melindap di remang malam
Kemana hati hendak menjangkau
Menghimpun ridho Penguasa alam
Aduhai di redup temaram
Menyungkur dalam khidmat sujud
Menghiba dengan wujud
Untuk menggapai cinta tamam
Ke Duli Tuhanku hamba berserah
Mengharap sejumput asa
Kabulkan pinta dalam titah
Untuk hidup nan bahagia
Amin Ya Azza Wajalla!
Galesong, Sabtu Pagi 8 Feb 2014
*Ummu Zakiyah*
-Isyarat Dari Tuhan-
Sepi merajai
Penat merasuki
Keperihan membersit
Saat Penyakit
Pelan menggerogoti
Tepatnya di hati
Miris!
"Apa ini isyarat, Tuhan?"
Bila saatnya
Menuju keabadian
Sadarkan hamba
Dari khilaf
Dari lengah
Hamba insaf, Tuhan!
Tiada jera
Tengadahkan tangan
Dalam sholat dan do'a
Ampunkan hamba
Mudahkanlah, Tuhan!
Ketika tiada daya
Di hadapan pencabut nyawa
Hanya kepada Engkau
Hamba berserah
Bermunajat tanpa lelah
Dalam pengharapan
Kabulkanlah, Tuhan!
Amin Ya Rohman.
-uz,
Penat merasuki
Keperihan membersit
Saat Penyakit
Pelan menggerogoti
Tepatnya di hati
Miris!
"Apa ini isyarat, Tuhan?"
Bila saatnya
Menuju keabadian
Sadarkan hamba
Dari khilaf
Dari lengah
Hamba insaf, Tuhan!
Tiada jera
Tengadahkan tangan
Dalam sholat dan do'a
Ampunkan hamba
Mudahkanlah, Tuhan!
Ketika tiada daya
Di hadapan pencabut nyawa
Hanya kepada Engkau
Hamba berserah
Bermunajat tanpa lelah
Dalam pengharapan
Kabulkanlah, Tuhan!
Amin Ya Rohman.
-uz,
Lelaki dan Eleginya
Cinta...
Sudikah memulihkan memorimu?
Pada semaian harmoni damba
Yang pernah hiasi taman kasih kita
Ketika sabana kering meranggas
Hadirmulah sanggup menyejukkan
menelisik hingga ke kalbu
Penuhi ruang batin yang merindu
Cinta ...
Lihat rasa hebat yang tak kuasa tertitahkan
dalam diksi sempurna
Tapi ini pasti dan nyata, sayang
Kuharap engkau pun bisa merasainya
Seperti rasaku kepadamu, cinta!
Lihatlah cinta...
Kini ladang itu telah rimbun
oleh mekar bebungaan
Cantik bak taman firdaus
Dengan aneka warna
Begitu menyejukkan di selayang netra
Tak satupun bisa menyangkal
Termasuk engkau.... perempuanku
Tapi kenapa?
Engkau tega Membabat habis
Lalu menyisakan ambisi
Tanpa makna nan terpatri
Dengan tepisan keangkuhanmu
Hingga terberailah asa itu
Hempaskan aku ke lembah duka
Tanpa ampun ....
Cinta ...
Mengapa tak jua engkau akui
Bahwa sayang itu masih mengakar
Terhunjam kuat dalam karsa
Menohok hingga ke sanubari
Bak pilar tak tergoyahkan
Fahamkan aku cinta!
Kalbuku begitu rapuh
Untuk bisa arungi segara logikamu
Sampai kini..
Jeruji cinta masih kuat mengungkung
Takkan lekang oleh masa
Padahal kuncup mawar kini kabur
Tertutup rimbun ilalang
Yang ada hanya nyanyian elegi cinta
Terdengar mengalun tanpa nada
Rasa ini pun tiada usai menemui muaranya
Miris... Cinta!
Semoga engkau insyaf dalam khilafmu
Lalu kembali dalam dekap mesra cintaku
Yang tak juga usai karena ketiadaanmu
Sebab lukisan sayangku tlah termaktub
tertuang apik dalam kanvas kisah syahdu
Bahkan waktu pun tak sanggup menafikannya
cinta ...
Kembali ... Kembalilah perempuan-ku
Biar engkau mafhum
Perihal Lara hati yang merajai
Hingga akhirnya Allah menentukan
Jodoh yang terbaik buat hamba-NYA
Sudikah memulihkan memorimu?
Pada semaian harmoni damba
Yang pernah hiasi taman kasih kita
Ketika sabana kering meranggas
Hadirmulah sanggup menyejukkan
menelisik hingga ke kalbu
Penuhi ruang batin yang merindu
Cinta ...
Lihat rasa hebat yang tak kuasa tertitahkan
dalam diksi sempurna
Tapi ini pasti dan nyata, sayang
Kuharap engkau pun bisa merasainya
Seperti rasaku kepadamu, cinta!
Lihatlah cinta...
Kini ladang itu telah rimbun
oleh mekar bebungaan
Cantik bak taman firdaus
Dengan aneka warna
Begitu menyejukkan di selayang netra
Tak satupun bisa menyangkal
Termasuk engkau.... perempuanku
Tapi kenapa?
Engkau tega Membabat habis
Lalu menyisakan ambisi
Tanpa makna nan terpatri
Dengan tepisan keangkuhanmu
Hingga terberailah asa itu
Hempaskan aku ke lembah duka
Tanpa ampun ....
Cinta ...
Mengapa tak jua engkau akui
Bahwa sayang itu masih mengakar
Terhunjam kuat dalam karsa
Menohok hingga ke sanubari
Bak pilar tak tergoyahkan
Fahamkan aku cinta!
Kalbuku begitu rapuh
Untuk bisa arungi segara logikamu
Sampai kini..
Jeruji cinta masih kuat mengungkung
Takkan lekang oleh masa
Padahal kuncup mawar kini kabur
Tertutup rimbun ilalang
Yang ada hanya nyanyian elegi cinta
Terdengar mengalun tanpa nada
Rasa ini pun tiada usai menemui muaranya
Miris... Cinta!
Semoga engkau insyaf dalam khilafmu
Lalu kembali dalam dekap mesra cintaku
Yang tak juga usai karena ketiadaanmu
Sebab lukisan sayangku tlah termaktub
tertuang apik dalam kanvas kisah syahdu
Bahkan waktu pun tak sanggup menafikannya
cinta ...
Kembali ... Kembalilah perempuan-ku
Biar engkau mafhum
Perihal Lara hati yang merajai
Hingga akhirnya Allah menentukan
Jodoh yang terbaik buat hamba-NYA
°MIMPI°
Aduhai tuan Bestari...
Siluetmu masih saja di sini
Disini dalam sukma rapuh ini
Menguasai hati nan penuh rinai
Rinai damba yang kian Sepi
Sepi dari hadirmu lagi
Lagi-lagi aku masih lunglai
Lunglai dalam asa yang kian menepi
Aduhai engkau tuan bestari...
Mengapa tak kesini
Penuhi rasaku dalam kasih
Kasih sayang abadi
Abadi dalam hati
Aduhai tuan bestari...
Disini aku masih menanti
Menanti dalam lapik sunyi
Sesunyi kelam malam ini
Saat damba masih terpatri
Terpatri dalam rona mimpi
Mimpi dalam mimpi
mimpi yang tak pasti....
Galesong, 280114
`BEKAL PULANG`
Pulang!!
Pulanglah
Sekarang atau besok
Kamu pasti akan pulang!!!
Bekal!!
Mana bekalmu
Kemasilah dengan apik
Atau kepulanganmu minim bekal???
Celaka!!
Celaka dua belas
Na'udzubillahi min dzaalik
Tsumma Na'udzubillahi min dzaalik!!!
Pulanglah
Sekarang atau besok
Kamu pasti akan pulang!!!
Bekal!!
Mana bekalmu
Kemasilah dengan apik
Atau kepulanganmu minim bekal???
Celaka!!
Celaka dua belas
Na'udzubillahi min dzaalik
Tsumma Na'udzubillahi min dzaalik!!!
Langganan:
Postingan (Atom)