KBM ACADEMY AWARD PART II
Penulis: Ummu Zakiyah
Tarjan kecil semakin akrab dengan Gogo gorilla sahabatnya, sejak
kematian kedua orang tuanya, setiap hari tempat yang paling asik baginya
adalah di hutan. Dia akrab dengan penghuni hutan Ciremai, bahkan
mempunyai kemampuan istimewa yang bisa berkomunikasi dengan semua
binatang.
Mentari cerah saat Tarjan tengan bermain dengan
teman-temannya. Tiba-tiba, “Huwaaahh ….” Jerit tangis dari seorang anak
perempuan kecil, membuyarkan perhatian Pak Bambang, seorang professor
yang tengah melakukan penelitian di tepi hutan Ciremai.
“Kenapa, Nak?” Bapak itu segera mendekati anaknya.
“Bola Banowati diambil sama anak gorilla itu Yah, Huwaahh …,” tangisannya semakin keras.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki muncul dengan bergelantungan dari
juntaian akar pohon, lalu segera membujuk teman kecilnya, untuk
mengembalikan bola gadis kecil itu. Lalu dengan mudahnya Si anak gorilla
menurut.
“Ini bolanya” uluran tangan kecilnya beriringan dengan senyuman, gadis kecil itu menerima bolanya penuh suka cita.
“Siapa kamu?” Pak Bambang bertanya menyelidik.
“Saya Tarjan, Pak! Rumah saya di tepi hutan ini, di sebelah selatan sana” tangannya menunjuk ke arah selatan.
“hmm ... ini anak saya, namanya Banowati, kamu bisa bermain dengannya” ujar Pak Bambang sambil tersenyum.
Sejak saat itu Tarjan punya teman akrab, lambat laun perasaan suka
kepada anak professor Susilo mulai merambat dalam hatinya lalu akhirnya
saat mereka sudah sama-sama dewasa, Benih cinta tumbuh di hati keduanya
dan berjanji untuk hidup bersama.
Setelah menikah, mereka
tinggal di rumah pohon yang ditata sedemikian rupa, ada 3 pohon besar
yang dihubungkan dengan beberapa cabang dan papan hingga layaknya
seperti rumah yang disekat menjadi beberapa bagian. Rumah pohon itu
terletak di tepi hutan agak berjauhan dari pemukiman penduduk hingga
setiap hari hanya binatang yang sering jadi teman hidup mereka.
Tahun berikutnya, Banowati melahirkan seorang anak laki-laki. Bayi
mungil itu diberi nama Jaka. Jaka tumbuh menjadi anak laki-laki yang
kuat seperti Bapaknya, Tarjan.
Setiap saat ibunya, Banowati
mengajarkan banyak hal kepada Jaka, termasuk membaca dan menulis, tapi
anak berusia 6 tahun seperti Jaka tetap lebih senang bermain, termasuk
bermain dengan Gogo gorilla, Ulil Ular, Matul si Macan tutul, Gagah
gajah dan banyak lagi teman yang lain. Tapi hari ini emaknya terlihat
senewen karena lagi-lagi Jaka bandel saat diajar membaca oleh ibunya.
“Jaka, kemari, Nak. Kita belajar membaca dan menulis lagi ya!”
“Baik, Mak”
“Anak pintar!” Emak mengambil perlengkapan menulisnya, lalu menunjukkan
beberapa tulisan ke Jaka. Lalu Jaka menulis dituntun oleh emaknya. Ulil
Ular yang sebelumnya asik melingkarkan badan dekat Jaka, perlahan
merambat ke bahu Jaka.
“Lil, entar kita main rumah pohon yang baru ya?”
“sshhss…” Si Ulil mendesis lirih.
“Dengan si Gogo, tenang aja dia nggak akan ngusilin kamu lagi kok.”
“Ulil, mainnya sebentar ya, Jaka mau belajar. Sana main sendiri aja
dulu” Banowati memandang Ulil Ular lalu mengisyaratkan dengan tangan
agar Ulil menjauh dulu, Ulil paham lalu merambat keluar ke beranda rumah
pohon.
“Ulil, tunggu.” Jaka secepat kilat beranjak dan berlari
menyusul Ulil. Sontak emaknya memanggil “Jaka, sini belajar dulu,
mainnya nanti kalau sudan selesai belajarnya” emak berusaha meraih
lengan Jaka tapi tidak berhasil!
“Entar aja ya Mak belajarnya,
Jaka mau main dulu” Jaka berteriak lalu segera menyusul Ulil, Emaknya
hanya bisa mendengus kesal.
“Jakaa… tiap emak mau ngajarin,
kamu selalu berasalan. Padahal Mak ingin kamu bisa membaca dan menulis,
jangan seperti Bapakmu yang malas belajar membaca.
“A U O O O …” seiring teriakan itu Jaka menjuntai dan melejit lincah ke pohon lain, dan Emak hanya berbicara dengan angin!
***
Banowati Sudah seringkali menghadapi kebandelan Jaka jika sedang
diajar, tapi sebagai Emak dia selalu mencari cara agar anaknya, Jaka
bisa pintar.
Merlihat Tarjan memanggul setandan Pisang dan membawa
berbagai buah-buahan di kedua tangannya. Banowati segera menumpahkan
kekesalannya.
“Pak, itu anakmu si Jaka bandel banget” Tarjan yang baru saja datang menjadi pelampiasan.
“Banowati, aku juga waktu masih kecil seperti Jaka, paling senang bermain dengan binatang”
“Tapi itu kamu Jan, jangan di samakan dengan Jaka” Suara istrinya mulai meninggi.
“Ya, anak-anak sebaiknya jangan di paksa, dipaksa belajar juga nggak akan mempan” Tarjan berujar tenang.
“pokoknya nggak bisa dibiarkan terus seperti ini, aku akan panggil Pak
Susilo sepupuku biar bisa ngajarin Jaka, siapa tahu aja dia mau nurut
jika yang ngajarin laki-laki juga.” Banowati masih berapi-api dengan
semangatnya.
“Iya, panggil aja Pak Susilo, semoga dia betah ngajarin
Jaka” sambil berkata itu Tarjan membopong Banowati dari belakang,
banowati sesaat terkejut tapi seketika terhenti dari pembicaraannya,
segera dia melingkarkan lengannya ke leher Tarjan, kalau ingin merasa
aman dalam gendongan Tarjan,
“Mumpung Jaka lagi main dengan temannya” Tatapan mesra Tarjan tepat ke manik mata istrinya.
“Ah, Tarjan suka gitu deh” terdengar nada grogi tapi manja dari suara Banowati.
Sejurus kemudian, tiada lagi percakapan, sekat kecil rumah pohonlah yang jadi saksi. Diam!
***
Esok harinya, Banowati terlihat kasak kusuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Pak Susilo, sepupunya.
“Jan, hari ini Pak Susilo akan datang mengajar Jaka membaca, Tolong si Jaka jangan diajak main dulu ya.”
Tarjan yang diajak berbicara terlihat asik mengusap punggung Si Gagah gajah.
“Jaan!! Kamu denger aku nggak sih,” Banowati nampak kesal merasa di cuekin oleh Tarjan.
“iya dengar kok”
“Jan, sadar nggak, kamu tuh ya lebih sering asik dengan
binatang-binatang itu ketimbang berbicara serius dengan aku” Banowati
merajuk.
Tarjan berhenti dari keasikannya, menoleh kebelakang, menghadap ke istrinya lalu tersenyum manis.
“sebentar Pak Susilo akan kemari kan?”
”iya benar.”
“Tuh kan, aku tahu kamu bicara apa tadi, berarti aku perhatiin pembicaraanmu dong” Tarjan masih dengan senyumnya.
“huh, nyebelin kamu Jan” Banowati bersungut-sungut memasuki rumah
pohonnya seraya berseru, “Jaan, suruh Si Jaka pulang, sebentar lagi Pak
Susilo datang”
Entahlah Tarjan mendengar perkataan istrinya
barusan atau enggak,tahu-tahu “A U O O O …!” Wuuussshh … Tarjan sudah
berpindah pohon dengan mudah yang disusul oleh beberapa pengikutnya.
“Jaka a …!” dari kejauhan Tarjan memanggil anaknya
“Iya, Paak!” Jaka balas berteriak.
“Kata Makmu, sebentar sepupunya Pak Susilo akan datang ngajarin kamu
membaca, padahal sebentar Bapak mau main ke tengah hutan dengan Cantul
Si Macan tutul.
“Jaka ikut ya, Pak!” Jaka merajuk.
“Jaka, kamu balik dulu kalau nggak mau dapat omelan Emak”
“ Jaka malas banget belajar membaca di rumah, Mendingan main sama si Gogo.”
Dan benar saja, Jaka ikut kedalam hutan.
Di rumah, Sang Emak sudah gelisah setengah mati karena Jaka belum juga
kelihatan batang hidungnya, padahal Pak Susilo sudah datang.
“Pak, aku cari Jaka dulu ya”
“Iya Banowati, Silahkan!”ujar Pak Susilo
“aku tinggal dulu, Pak”
“Iya, Nggak apa-apa” Pak susilo mengangguk tersenyum.
Banowati berjalan ke tengah hutan.
“kancil, temani aku cari Jaka, Yuk” Tangannya melambai ke arah kancil yang segera mengikut di belakangnya.
“Jaka a, dimana kamu, Nak!?” teriakannya memecah hutan.
***
Sementara di tengah hutan, suasana sangat tegang, suara tembakan
terdengar dua kali yang menyebabkan para binatang berlarian, dan sayang
tembakan itu mengenai kaki adik Si Gagah gajah.
Tarjan begitu marah, segera dia mengayun sambil berteriak lantang “A U O OO …!”
Cantul Si Macan tutul dan beberapa binatang segera menyusul Tarjan, dan siap menunggu instruksi Tarjan berikutnya.
Sejurus kemudian, terdengar lagi dentuman peluru. Suasana mencekam,
Jaka terlihat mendekam bersembunyi di gua rahasia bersama gajah yang
terluka.
Di luar gua, Tarjan mengambil peluru besar yang berupa
batu, dipasangkannya dengan tali pelontar yang telah dia buat, Si Bubu
burung terlihat hinggap di bahunya sepertinya memberitahukan kepada
Tarjan dimana posisi kedua pemburu itu berada. Tarjan Manggut-manggut.
Diarahkan tali pelontar itu kepada sasarannya, lalu sekuat tenaga
dilontarkannya tali itu mengarah ke sasaran.
“Dhuaarr… Bruk”
Lontaran pertama tepat mengenai kepala pemburu yang tengah membidik,
temannya terperanjat tapi belum hilang rasa kagetnya, sebuah batu besar
menghantam tepat dihidungnya, tubuhnya limbung tapi dia tidak pingsan
hanya saja dia merasa ada banyak bintang di atas kepalanya. Keduanya
bergegas berdiri dan kembali mengarahkan senapan kearah lawan.
Tapi…
“A U O O …!!” teriakan itu lagi bagai komando segerombolan macan tutul
yang siap mencabik-cabik tubuh kedua pemburu, mereka lari tunggang
langgang, menuju ke mobilnya di tepi hutan.
Tarjan menyusul, kedua pemburu itu kaget bukan kepalang.
“Jangan coba-coba berburu di tempat ini lagi, atau teman-temanku akan mencabik-cabik tubuh kalian” Tarjan berseru keras!!
keduanya mengkerut karena ketakutan “Baik, Pak Tarjan!!” ujar mereka gemetaran.
“Awas ya, kalau aku melihat kalian lagi disini”
Wuuusshh…. Selesai mengatakan itu, Tarjan berlalu meninggalkan kedua pemburu yang hanya bisa tergugu dalam diam.
***
Di tengah hutan,
“Jaka, bagaimana kaki adik Si Gagah?”
“Sudah, agak mendingan, Pak. Tadi pelurunya mengenai tulang betis jadi pelurunya mental dan hanya ada sedikit luka”
“Kamu obatin pakai apa, Nak?”
“Pakai ramuan daun yang pernah bapak ajarkan” Jaka tersenyum.
“Anak pintar” ujar Tarjan sembari mengelus kepala anaknya. Pelukan erat
Jaka ke badan Bapaknya, membuat Tarjan mengangkat badan Jaka lalu
membuainya ke udara sambil berputar. Mereka tertawa lepas, bahagia!
“Pak, Emak pasti marah-marah nih karena hari ini Jaka nggak belajar”
Jaka berkata itu sambil berlari menuju taman mungil nan teduh di tengah
hutan. Tempat itu baru dua hari ditemukan oleh Jaka. Tarjan menyusul
anaknya.
“Paak, kita belajar di sini saja ya” seruan Jaka begitu girang.
Tarjan menyusul ikut duduk di dekat Jaka.
“Pak, Jaka udah tahu beberapa huruf, lho”
“Coba tunjukkan ke Bapak”
Jaka lalu menuliskan beberapa huruf, satu persatu huruf itu dia
lafalkan dan menyuruh Bapaknya mengikuti ucapannya, seperti yang sering
dilakukan oleh ibunya.
Awalnya Tarjan kesulitan, terutama saat diminta oleh Jaka mengucapkan gabungan lima huruf yang diajarkan oleh Jaka.
“Ahaaa … Jaka ada akal, biar Bapak mudah menyebut gabungan kelima huruf itu”
“Akal apaan Jaka?” selidik Bapaknya penasaran
“Selama ini, Bapak kan manggil teman-teman dengan seruan A U O O …,
mulai sekarang biar Bapak terbiasa seruan itu diganti, Pak”
“Diganti bagaimana, Jaka?” Bapak penasaran juga dengan pernyataan Jaka barusan.
“Biar Bapak mudah menghafal, seruannya ganti menjadi A I U E O O O …, biar lengkap, Pak!”
Jaka berdiri tegak, meletakkan kedua belah tangannya secara terbuka di
dekat mulut lalu berseru lantang. “A I U E O O O …” dan serta merta
beberapa binatang berhamburan kedekat Jaka. Bapaknya terbahak-bahak
melihat aksi anaknya.
“sekarang, Bapak yang berteriak”
“A I U E O O O…”
“A I U E OOO …” teriakan ini terdengar lebih lantang, menyebabkan
binatang-binatang lain makin berdatangan, karena telah terbiasa
mendengar teriakan Tarjan.
Tapi tiba-tiba …
“Tarja a an, Jaka a a …” rupanya ada teriakan yang lebih lantang!
TARJAN dan JAKA: Ooh ada Emak …!?! Mereka hanya bisa berpandangan!!!
Jika para binatang bisa takluk oleh suara Tarjan dan Jaka, Maka Suara
Emak adalah penakluk keduanya. Dan Emak, adalah raja yang sesungguhnya.
Tarjan dan Jaka, mengkerut tersihir oleh pelototan Emak.
Hahaha, hanya itu komen terindah dari saya....
BalasHapusMbak Ummu, yang menarik bagi saya, tulisan ini bukaj Copas, asli nulis di sini,
BalasHapusSaya akan coba nulis backlink mbak
www.kangdana.com
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus