Minggu, 23 Februari 2014
°°°Embun malam merindu lagi°°°
Entah kenapa, gerimis senja masih saja betah menganak sungai jika melintas jejakmu bulan
Padahal
duniamu dan dunianya sudah beda
Tiada yang bisa menyatukan
selain garis Tuhan
Oh, malam malam gulita
Semoga larik bayangmu masih mampu bercerita
Sampaikan rindu
Pada bulan separuh
Katakan ...
embun malam masih menunggu
Masih seperti dulu
Tetap dalam rindu membuncah
Akan janjimu menantinya di surga
Bulan separuh ...
Embun malam merindu!
Ujung Desa, semenit menjelang 24 februari 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
-Kisah Klasik-
-Kisah Klasik-
Liar tetangan masa menggerayang jagad
Membelai lembut
lalu tibatiba mencengkeram kuat
tanpa ampun
Gemulai lagi
Merambah pada selaksa kisah
Beringas lagi
Mengganas pada jutaan babad
Menghamba pada Tuan diatas Tuan
Para musafir
Mendayu merayu
Memelas, memaki lalu teriak
Edan!
Ah ...
Tabir seolah menguak aib
Menikam bekas bilurbilur sejarah
Tetap saja tanpa ampun
Padahal jejurus maut telah menghunjam
Tiada jera ...
Petilasan sirah nyaris tak membekas
Pahatkan goresan titah
Titah Raja Diraja
Tertegun pada kisah klasik mayapada
Lalu pemisah menjemput paksa
Koit!
Hadapkan segala kisah kasih
Ceritakan cinta cinta buta
Dalam diam
North Gale-Song, 23-02-2014
Liar tetangan masa menggerayang jagad
Membelai lembut
lalu tibatiba mencengkeram kuat
tanpa ampun
Gemulai lagi
Merambah pada selaksa kisah
Beringas lagi
Mengganas pada jutaan babad
Menghamba pada Tuan diatas Tuan
Para musafir
Mendayu merayu
Memelas, memaki lalu teriak
Edan!
Ah ...
Tabir seolah menguak aib
Menikam bekas bilurbilur sejarah
Tetap saja tanpa ampun
Padahal jejurus maut telah menghunjam
Tiada jera ...
Petilasan sirah nyaris tak membekas
Pahatkan goresan titah
Titah Raja Diraja
Tertegun pada kisah klasik mayapada
Lalu pemisah menjemput paksa
Koit!
Hadapkan segala kisah kasih
Ceritakan cinta cinta buta
Dalam diam
North Gale-Song, 23-02-2014
°°°TIKET GRATIS°°°
"Sob, tadi aku baru aja apelin Si Alysia." Dengan wajah sumringah bin bahagia Adit laporan ke sahabatnya, Jodi.
Tak kalah antusiasnya Jodi menimpali. "Wow! terus tadi main kemana dengan pacarmu?"
Seketika ... kedua belah tangan Adit dirapatkan di dada, pandangannya menerawang ke langit-langit seperti lagi membayangkan hal yang paling indah dalam hidupnya, lalu berujar pelan.
"Ke tempat paling romantis di dunia."
"Di mana tuh?" Jawaban Adit lumayan membuat Jodi terperangah, matanya melotot bagai hendak mencelat keluar.
"Reaksinya nggak gitu juga keles" tawa Adit renyah melihat tingkah sahabatnya, Si Jodi.
"Habis omonganmu, lebay banget sih."
"Nyantai Sob kayak di pantai, rileks kayak di kompleks" terangnya sambil mengerling dan masih saja dengan tawanya.
"Emangnya, tadi kamu bawa kemana Si Alysia." Jodi menyelidik dengan memicingkan mata tepat di hadapan Adit.
"Ke Pantai Salju Sob, pantai dengan kelembutan pasir putihnya nomor dua di dunia, suasana sepi banget!" Adit menyampaikan kalimatnya dengan pelan dan penuh penghayatan hingga tak sadar Jodi terhanyut dalam perkataan Adit.
"Tadi ... Suasana pantai romantis banget, lalu kami melanjutkan petualangan ke tempat yang lebih asyik lagi," Adit masih asik dengan penghayatannya, bak pujangga yang tengah merapal syair-syairnya.
"Wow banget!" Jodi takjub pada cerita sahabatnya.
"Sob Jodi, Jatuh cinta itu enggak dosa kan?"
"Sama sekali enggak dosa Sob Adit, bahkan kamu akan dapetin tiket gratis."
"Tiket apaan?"
Diam sejenak, sepersekian detik, lalu kembali melanjutkan ucapannya,
"Tiket masuk neraka,
jika kamu menjadikan cinta sebagai alasan untuk melakukan dosa"
Lalu Jodi melengos pergi, meninggalkan Adit yang masih syahdu dalam kebingungannya. ^^
*The End
Jumat, 21 Februari 2014
PEMAKAIAN TANDA BACA DALAM PUISI
Hakekat puisi adalah KATA dan kata merupakan bagian dari BAHASA
agar kita bisa menyusun kata menjadi sebuah paduan indah penuh makna kita HARUS menguasai bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia).
Kemampuan berbahasa akan menjadi pijakan dasar yang kuat agar kita dapat berpuisi. Berbeda dengan bahasa lisan, bahasa tulis membutuhkan tanda baca untuk dapat menyampaikan perasaan, pesan dan emosi penulis kepada penikmatnya.
TANDA BACA adalah simbol yang bertindak untuk menunjukkan struktur serta penyusunan tulisan, juga intonasi ketika dibaca secara lisan.
Khususnya dalam puisi, sekalipun tidak dibaca secara lisan, tanda baca memiliki peran penting menunjukkan intonasi/ekspresi dan emosi yang terkandung dalam bait-baitnya.
Tanda baca utama ialah :
1. Tanda Noktah atau titik ( . )
Titik digunakan sebagai tanda penutup di akhir kalimat (fungsi lain cek pada referensi).
Titik menandakan intonasi datar/normal. Misal:
Hari demi hari berlalu
aku masih tetap membisu
tak tau apa maumu.
Sedangkan titik-titik (…………) bisa dimaknai sebagai “saat hening/ renungan”, speechless – perasaan yang tidak dapat diwakili kata-kata, petunjuk adanya jeda periode waktu, atau emosi yang mengambang. Tergantung pada peletakannya. Bedakan emosi bait di atas dengan:
Hari demi hari berlalu
aku masih tetap membisu
tak tau apa maumu…..
2. Tanda koma ( , )
Tanda koma berguna untuk memisahkan beberapa hal, sebagai tanda berhenti-sementara dalam membaca, juga penggabungan dua kalimat (kadang dimanfaatkan sebagai pengganti kata ganti). Perbedaan peletakan koma bisa dimaknai sebagai perbedaan fokus pada puisi. Misal bandingkan
Hari demi hari, berlalu
aku masih tetap membisu
tak tau apa maumu.
Dengan
Hari demi hari berlalu
aku, masih tetap membisu
tak tau apa maumu.
3. Tanda tanya atau soal ( ? )
Tanda tanya mengakhiri suatu kalimat tanya. Juga menegaskan unsur pertanyaan pada kalimat yang tidak mengandung kata tanya. Kesannya adalah bimbang, ingin tahu, heran, dan semacamnya.
4.Tanda seruan ( ! )
Tanda seru digunakan sesudah penyataan yang berupa seruan, perintah, atau rasa emosi yang kuat. Bandingkan emosi pada
“Aku tak tau, apa maumu?” dengan
“Aku tak tau, apa maumu!”
Semakin banyak tanda seru, kesannya adalah seruan yang makin tegas atau kasar.
5. Tanda sempang/ tanda hubung ( - )
Tanda ini berfungsi menyambungkan dua kata, atau justru bisa berkesan memisahkan dua hal.
6. Tanda noktah bertindih/ titik dua ( : )
Tanda ini digunakan sebelum penjabaran akan sesuatu.
Dalam puisi, bait-bait di belakang tanda ini seolah-olah merupakan penjabaran dari kata di depannya
7. Tanda titik koma (;)
Titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian/ kalimat-kalimat yang bernilai setara
8. Huruf besar
Dalam bahasa tulis, peran utama huruf besar adalah sebagai huruf awal suatu kalimat. Sehingga penggunaan huruf besar pada awal larik-larik puisi bisa mengesankan bahwa kalimat itu “penting”, “berdiri sendiri”, atau terpisah dari kalimat di atasnya, bandingkan pembacaan bait di atas bila ditulis:
Hari demi hari berlalu
Aku masih tetap membisu
Tak tau apa maumu
Penggunaan huruf-huruf besar semuanya, memberikan kesan sesuatu yang sangat PENTING, tegas, atau sebuah TERIAKAN
Hari demi hari berlalu
Aku masih tetap membisu
TAK TAU APA MAUMU
Semoga bermanfaat khususnya untuk teman-teman yang baru tertarik memahami puisi
Sumber Wikipedia
Kiriman Member By Pidri Esha
Kamis, 20 Februari 2014
Download Gratis Serial Wiro Sableng
- Wiro Sableng 1 (Empat Brewok)
- Wiro Sableng 2 (Petualangan di Tiongkok)
- Wiro Sableng 3 (Petaka Gundik Jelita)
- Wiro Sableng 4 (Pangeran Matahari)
- Wiro Sableng 5 (Halilintar di Singgalang)
- Wiro Sableng 6 (Ki Ageng Tunggul Keparat)
- Wiro Sableng 7 (Dendam di Puncak Singgalang)
- Wiro Sableng 8 (Petualangan di Negeri)
- Wiro Sableng 9 (Dendam Manusia Paku)
- Wiro Sableng 10 (Wasiat Iblis)
- Wiro Sableng 11 (Tua Gila dari Andalas)
- Wiro Sableng 12 (Bola-Bola Iblis)
- Wiro Sableng 13 (Kembali Ke Tanah Jawa)
- Wiro Sableng 14 (Badik Sumpah Darah)
- Wiro Sableng 15 (113 Lorong Kematian)
- Wiro Sableng 16 (Perjanjian dengan Roh)
- Wiro Sableng 17 (Dadu Setan)
- Wiro Sableng 18 (Petaka Patung)
- Wiro Sableng 19 (Si Cantik Gila)
- Wiro Sableng 20 (Kupu-Kupu Giok)
- Wiro Sableng 21 (Malam Jahanam)
- Wiro Sableng 22 (Bidadari Dua Musim)
Rabu, 19 Februari 2014
gara-gara headset
Ada seorang remaja tanggung bernama Toto yang gemar sekali mendengar musik. Kemana-mana dengar musik. Belajar, makan, bahkan tidurpun selalu ditemani musik. Namun selain dengar musik, remaja ini juga punya kebiasaan yang aneh dan jorok. Dia senang mempermainkan kentutnya. Membuatnya seirama dengan alunan musik. Pernah suatu saat, dia berada di kantin sekolah bersama teman-temannya. Tiba-tiba dia merasakan perutnya mulas dan ingin buang angin. Karena tak ingin ketahuan teman-temannya, di memutar musik keras-keras dan leluasalah dia mempermainkan kentutnya. Tapi Toto merasa heran karena teman-temannya dan seisi kantin terus saja memperhatikan. Barulah ia sadar saat teman disampingnya mencolek dan mengatakan "To, kamu pake headset!!"
hahaha
hahaha
arba'a rokaatin
Irfan Hawary
suatu ketika idin berangkat haji,ia tahu isterinya ingin dibelikan baju sebagai oleh-oleh dari tanah suci.singkat cerita ia pergi ke pasar arab.sayangnya dia tidak bisa bahasa arab ,juga tidak membawa penerjemah.jadi yang ada dia menggunakan bahasa isyarat dengan penjualnya. ia menunjuk baju yang warna merah. penjual:khomsah riyadh (saya lupa ,angka 5 dalam bahasa arab apa yg pasti penjual bicara benar) si idin ingin menawar tapi tidak tahu harus ngomong apa.lalu ia teringat sedikit bahasa arab. idin:arba'! arba' arokaa'tin!(set engah berteriak!) penjual terkekeh,tapi langsung berteriak :"halal...halal ..." dan terjualah baju warna merah .(bagi yg ngerti artinya bakal sedikit tersenyum) # diambil dari cerita saudara dan nyata
suatu ketika idin berangkat haji,ia tahu isterinya ingin dibelikan baju sebagai oleh-oleh dari tanah suci.singkat cerita ia pergi ke pasar arab.sayangnya dia tidak bisa bahasa arab ,juga tidak membawa penerjemah.jadi
Kerjaan buat Si Udin
Udin sedang pusing nyari pekerjaan. sudah 3 bulan belum juga ada pekerjaan yang cocok untuknya. Ia menemui Haris sambil dengan wajah kusut.
Udin: pusing gue, nyari pekerjaan yang layak kagak dapat-dapat!
Haris: kemarin gue tawarin di benngkel loe kagak mau
Udin: pan loe tau gue kagak suka bepotan oli. Gak gue banget!
Haris: di restoran loe juga gak mau
Udin: gajinya gak seberapa. Gue pengen yang agak santai kerjanya gak terlalu meres tenaga.
Haris: ( menjentikkan jari, wajahnya sumringah) gue tau pekerjaan yang cocok buat loe. 7 juta sebulan dan gak kotor-kotoran dan agak santai.
Udin: gue demen nih! Apa, Ris?
Haris: gelitikin mayat sampe ketawa
Udin: @@@@@
Udin: pusing gue, nyari pekerjaan yang layak kagak dapat-dapat!
Haris: kemarin gue tawarin di benngkel loe kagak mau
Udin: pan loe tau gue kagak suka bepotan oli. Gak gue banget!
Haris: di restoran loe juga gak mau
Udin: gajinya gak seberapa. Gue pengen yang agak santai kerjanya gak terlalu meres tenaga.
Haris: ( menjentikkan jari, wajahnya sumringah) gue tau pekerjaan yang cocok buat loe. 7 juta sebulan dan gak kotor-kotoran dan agak santai.
Udin: gue demen nih! Apa, Ris?
Haris: gelitikin mayat sampe ketawa
Udin: @@@@@
nggak punya otak
Pagi-pagi, lagi sakit gigi sepet bener denger tukang sayur teriak-teriak. "Bu ayam buuu, masih segerr-seger! Nongol bentar keluar. "Hey Bang berisik! Gak punya otak yak!" "Engga punya bu, hari ini special edition ayam doang bu!"
barangkali
Ibu Guru: Ayo anak-anak, sekarang buatlah kalimat dari kata "Barangkali"
Wati: "Barangkali di sini, sayalah yang paling cantik"
Dedi: "Barangkali di sini, ayah sayalah yang paling kaya."
Nana: "Barangkali akulah yang paling pintar."
Udin: "Pasir, batu, ikan, air, adalah termasuk barang kali."
ALAMAT EMAIL MEDIA YANG MENERIMA PUISI/CERPEN/ESSAI
Ummu Sarah
Senin pukul 14:27
INFO!! SEMOGA BERMANFAAT ALAMAT EMAIL MEDIA YANG MENERIMA PUISI/CERPEN/ESSAI BERIKUT HONORNYA
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dan tabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI/ESAI.
1. Kompas
opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Honorcerpen Rp 1400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp 500.000,- (tanpapotong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan,honor sudah ditransfer ke rekening penulis.
2. Koran Tempo
ktminggu@tempo.co.id
Honor cerpentergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp 700.000,- honor puisi Rp600.000,- (pernah Rp 250.000,- s/d Rp 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer 2 mingguan setelah pemuatan.
3. Jawa Pos
ari@jawapos.co.id
Honorcerpen Rp 1.000.000,- (potong pajak), honor puisi Rp 500.000,- (referensiIsbedy Stiawan Zs), ditransfer 1-2 minggu setelah cerpen/puisi dimuat.
CARA MENGIRIMKAN TULISAN KE RUBRIK GAGASAN KORAN JAWA POS
Rubrik Gagasan Jawa Pos berisi sebuah ide yang unik dilengkapi dengan solusinya ditulis sekitar 100-250 kata. Dikirim ke opini@jawapos.co.id dengan Subjek : GAGASAN : JUDUL TULISAN...
Di akhir tulisan cantumkan CV/Curiculum Vitae (data-data kita sebagai penulis). Jangan dalam file terpisah. Kebetulan saya kemarin mencantumkan data-data saya bukan dalam bentuk narasi.
Contoh CV/Data-data penulis yang harus dicantumkan untuk rubrik Gagasan Koran Jawa Pos:
Nama penulis:
Alamat lengkap:
No HP:
Alamat email:
NPWP:
No rekening atas nama sendiri:
Honor sekitar Rp140.000,- (info dari Nurhayati Pujiastuti) dan pemuatan naskah di rubrik Gagasan tanpa pemberi tahuan. Bila naskah untuk Gagasan dalam waktu 5 hari tidak ada kabar berarti belum layak untuk dimuat.
4. Suara Merdeka
swarasastra@gmail.com
Kirimkancerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda. Cerpen maksimal10.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp 300.000,- (potong pajak),honor puisi Rp 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatancerpen. Bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksidi kota Anda—jika ada.
5. Media Indonesia
cerpenmi@mediaindonesia.com, cerpenmi@yahoo.co.id
Naskah cerpen maksimal 9.000 karakter. Honor pemuatan cerpen Rp 500.000,-dipotong pajak. (referensi dari Yetti A.Ka, Benny Arnas, Sungging Raga, dkk)
6. Republika
sekretariat@republika.co.id
Tidak adapemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen. Sudah lama tidak memuatpuisi. Honor cerpen Rp 400.000,- (potong pajak), tetapi—pengalaman beberaparekan penulis, harus sabar menagih ke redaksi beberapa kali agar segera cairalias agak susah cair honornya.
7. Suara Karya
ami.herman@yahoo.com (email terbaru, diinformasikan redakturnya di grup CC)
Menurut redakturnya honor cerpen Suara Karya sudah naik jadi Rp 250.000,-(tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
8. Jurnal Nasional
tamba@jurnas.com, witalestari@jurnas.com
Honorcerpen Rp 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untukkonfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
9. Pikiran Rakyat
khazanah@pikiran-rakyat.com
Honorcerpen Rp 300.000,- (tanpa potong pajak), hubungi bagian keuangan via teleponuntuk konfirmasi pencairan honor setelah 2-3 hari dimuat, honor ditransferseminggu setelah konfirmasi, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
10. Tribun Jabar
cerpen@tribunjabar.co.id, hermawan_aksan@yahoo.com
Selain ada cerpen berbahasa Indonesia setiap Minggu, juga ada cerpen bahasaSunda setiap hari Kamis bersambung Jumat. Honor cerpen Rp 200.000,- (tanpapotong pajak). Honor ditransfer 1 minggu setelah dimuat.
11. Kedaulatan Rakyat
naskahkr@gmail.com, jayadikastari@yahoo.com
Panjang cerpen maksimal 5.000 karakter dengan spasi. Honor cerpen Rp 400.000,-
12. Joglo Semar (Yogyakarta)
harianjoglosemar@gmail.com
Honorcerpen Rp100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
13. Minggu Pagi (Yogyakarta)
we_rock_we_rock@yahoo.co.id
Terbitseminggu sekali setiap Jumat. Honor cerpen Rp 150.000,- hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung kekantor redaksi.
14. Radar Surabaya
radarsurabaya@yahoo.com, diptareza@yahoo.co.id
Honorcerpen Rp 200.000,- (potong pajak) . Honor cair seminggu setelah dimuat.
15. Lampung Post
lampostminggu@yahoo.com
Menerimacerpen, puisi, dan esai. Honor cerpen Rp 200.000,- Honor puisi kalau tak salahjuga Rp 200.000,- Sekarang honor sudah ditransfer langsung oleh bagiankeuangan, paling lambat 1 minggu setelah dimuat. Jika belum, silakan emailbagian keuangan di emil_lampost@yahoo.com
16. Padang Ekspres
yusrizal_kw@yahoo.com, cerpen_puisi@yahoo.com
Honorcerpen Rp 100.000,- s/d Rp 125.000,- honor puisi Rp 75.000,- hubungi redaksivia email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggalpemuatan cerpen, bisa diambil langsung, atau minta tolong teman mengambilkanhonor ke kantor redaksi.
17. Haluan (Padang)
nasrulazwar@yahoo.com
Honorcerpen Rp 150.000,- honor puisi Rp 100.000,- hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatancerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
18. Singgalang (Padang)
hariansinggalang@yahoo.co.id, a2rizal@yahoo.co.id
Honor cerpen Rp 50.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
19. Riau Pos
budayaripos@gmail.com, kabut.azis@gmail.com
Honor cerpen Rp 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
20. Analisa (Medan)
rajabatak@yahoo.com
Honor cerpen Rp 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
21. Sinar Harapan
redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com
Honor cerpen Rp 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
22. Jurnal Cerpen Indonesia
jurnalcerpen@yahoo.com, jurnalcerita@yahoo.com
Honor cerpen Rp 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
23. Majalah Horison
horisoncerpen@gmail.com, horisonpuisi@gmail.com
Honor cerpen Rp 350.000,- honor puisi tergantung berapa jumlah puisi yangdimuat, biasanya dikirimi majalahnya sebagai bukti terbit. Hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor atau bisa diambil langsung kekantor redaksi, dan kadang honor dikirim via wesel jika tidak ada nomerrekening.
24. Majalah Esquire
cerpen@esquire.co.id
Honor cerpen Rp 800.000,- (potong pajak). Jika akan dimuat ada konfirmasi dariredaksi.
25. Majalah Suara Muhammadiyah
redaksism@gmail.com
Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
26. Majalah Ummi
kru_ummi@yahoo.com
Tema cerpen seputar keluarga dan rumah tangga. Honor cerpen Rp 250.000,-(dipotong pajak) ditransfer paling telat satu bulan setelah pemuatan. Adakonfirmasi jika akan dimuat.
27. Majalah Kartini
redaksi_kartini@yahoo.com
Honor cerpen Rp 350.000,- Sekarang honor ditransfer ke rekening penulissekitar 3 bulanan atau jika belum juga silakan hubungi redaksi via email atausosial media Kartini. Ada konfrimasi jika akan dimuat.
28. Majalah Alia
majalah_alia@yahoo.com
Honor cerpen Rp 300.000,- Ada konfirmasi pemuatan.
29 Majalah Femina
kontak@femina.co.id
Honor cerpen Rp. 850.000,- dan cair seminggu setelah dimuat. Ada konfirmasijika akan dimuat dan menanda-tangani surat pernyataan keaslian karya di atas matrai. Honor terakhir sudah naik. (Bisa ditanyakan pada Yulina Trihaningsih dan Nurhayati Pujiastuti)
31. Majalah Story
story_magazine@yahoo.com
Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Konfirmasi pemuatan cerpen via telepondari redaksi Story. Antrian pemuatan panjang, bisa 1-2 tahun. Honor cerpen Rp250.000,-
32. Majalah Gadis
GADIS.redaksi@feminagroup.com
Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Honor untuk Percikan (cerpen mini tigahalaman) Rp. 500.000,- Honor untuk Cerpen Rp 800.000,- ditransfer 2-3 minggusetelah majalah terbit.
33. Majalah Bobo
bobonet@gramedia-majalah.com
Honor cerpen Rp300.000 - Rp400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
36. Kompas khusus Cerpen Anak
opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Pada subjek email ditulis CERPEN ANAK: JUDUL CERPEN. Honor cerpen Rp. 300.000,-Resensi buku anak honor Rp 250.000,- Honor cair tiga hari setelah pemuatan.
37. Tabloid Nova
nova@gramedia-majalah.com
Honor cerpen Rp 388.000,- Honor ditransfer sebulan setelah dimuat.
38. Tabloid Cempaka (Jawa Tengah)
sontrotku@gmail.com
Honor cerpen Rp 135.000, harus ditagih ke redaksi. Ada konfirmasi pemuatan.
39. Inilah Koran (Jawa Barat)
inilahkoran@inilah.com, redaksijabar@inilah.com
Honor: Rp100.000 (mahasiswa) dan Rp150.000(umum). Lebih baik minta dicairkan pada teman yang berdomisili di Bandung.
40. Majalah HAI (Majalah Cowok)
cerpen_hai@yahoo.com
Dengan spesifikasi: panjang tulisan maksimal 6000 karakter (berikut spasi).
6000 – 9000 karakter, ketik 2 spasi, kertas folio/A4 format rtf.
Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN
Terbit tiap Senin.
41. Majalah Aneka Yes!
aneka@indosat.net.id or yess_pals@yahoo.com dengan subjek FIKSI
-Cerpen maksimal 7 hlm folio spasi ganda
-Sertakan pernyataan cerpen orisinil dan belum pernah dipublikasikan danbermaterai
Jika dalam waktu 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen tak layak muat.
42. Majalah CHIC
cerpen_chic@yahoo.co.id
Cerpen metro-pop, ketik 2 spasi. Atau Maks. 9rb CWS halaman A4
43. Tabloid Gaul
tabloid.gaul@yahoo.co.id
cerpen teenlit, maks. 8 hal. Folio, ketik 1,5 spasi, sekitar 10.000 karakter+spasi
44. Majalah Kawanku
cerpenkawanku@gmail.com
Cerpen remaja, maks. 8 halaman A4, ketik 2 spasi.
Cantumkan identitas lengkap, alamat, dan nomor rekening
Jika 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen tak layak muat.
45. Wonder Teens
majalah.teen@gmail.com, majalah.teen2@gmail.com
Cerpen teenlit, maks. 6 hal A4, ketik1,5 spasi
SUMBER: https://www.facebook.com/notes/ibu-ibu-doyan-nulis-interaktif/alamat-email-media-yang-menerima-puisicerpenessai/594480167273887
BERIKUT alamat-alamat email redaksi koran, majalah, jurnal dan tabloid yang menerima kiriman CERPEN/PUISI/ESAI.
1. Kompas
opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Honorcerpen Rp 1400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp 500.000,- (tanpapotong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan,honor sudah ditransfer ke rekening penulis.
2. Koran Tempo
ktminggu@tempo.co.id
Honor cerpentergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp 700.000,- honor puisi Rp600.000,- (pernah Rp 250.000,- s/d Rp 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer 2 mingguan setelah pemuatan.
3. Jawa Pos
ari@jawapos.co.id
Honorcerpen Rp 1.000.000,- (potong pajak), honor puisi Rp 500.000,- (referensiIsbedy Stiawan Zs), ditransfer 1-2 minggu setelah cerpen/puisi dimuat.
CARA MENGIRIMKAN TULISAN KE RUBRIK GAGASAN KORAN JAWA POS
Rubrik Gagasan Jawa Pos berisi sebuah ide yang unik dilengkapi dengan solusinya ditulis sekitar 100-250 kata. Dikirim ke opini@jawapos.co.id dengan Subjek : GAGASAN : JUDUL TULISAN...
Di akhir tulisan cantumkan CV/Curiculum Vitae (data-data kita sebagai penulis). Jangan dalam file terpisah. Kebetulan saya kemarin mencantumkan data-data saya bukan dalam bentuk narasi.
Contoh CV/Data-data penulis yang harus dicantumkan untuk rubrik Gagasan Koran Jawa Pos:
Nama penulis:
Alamat lengkap:
No HP:
Alamat email:
NPWP:
No rekening atas nama sendiri:
Honor sekitar Rp140.000,- (info dari Nurhayati Pujiastuti) dan pemuatan naskah di rubrik Gagasan tanpa pemberi tahuan. Bila naskah untuk Gagasan dalam waktu 5 hari tidak ada kabar berarti belum layak untuk dimuat.
4. Suara Merdeka
swarasastra@gmail.com
Kirimkancerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda. Cerpen maksimal10.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp 300.000,- (potong pajak),honor puisi Rp 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatancerpen. Bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksidi kota Anda—jika ada.
5. Media Indonesia
cerpenmi@mediaindonesia.com, cerpenmi@yahoo.co.id
Naskah cerpen maksimal 9.000 karakter. Honor pemuatan cerpen Rp 500.000,-dipotong pajak. (referensi dari Yetti A.Ka, Benny Arnas, Sungging Raga, dkk)
6. Republika
sekretariat@republika.co.id
Tidak adapemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen. Sudah lama tidak memuatpuisi. Honor cerpen Rp 400.000,- (potong pajak), tetapi—pengalaman beberaparekan penulis, harus sabar menagih ke redaksi beberapa kali agar segera cairalias agak susah cair honornya.
7. Suara Karya
ami.herman@yahoo.com (email terbaru, diinformasikan redakturnya di grup CC)
Menurut redakturnya honor cerpen Suara Karya sudah naik jadi Rp 250.000,-(tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
8. Jurnal Nasional
tamba@jurnas.com, witalestari@jurnas.com
Honorcerpen Rp 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untukkonfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
9. Pikiran Rakyat
khazanah@pikiran-rakyat.com
Honorcerpen Rp 300.000,- (tanpa potong pajak), hubungi bagian keuangan via teleponuntuk konfirmasi pencairan honor setelah 2-3 hari dimuat, honor ditransferseminggu setelah konfirmasi, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
10. Tribun Jabar
cerpen@tribunjabar.co.id, hermawan_aksan@yahoo.com
Selain ada cerpen berbahasa Indonesia setiap Minggu, juga ada cerpen bahasaSunda setiap hari Kamis bersambung Jumat. Honor cerpen Rp 200.000,- (tanpapotong pajak). Honor ditransfer 1 minggu setelah dimuat.
11. Kedaulatan Rakyat
naskahkr@gmail.com, jayadikastari@yahoo.com
Panjang cerpen maksimal 5.000 karakter dengan spasi. Honor cerpen Rp 400.000,-
12. Joglo Semar (Yogyakarta)
harianjoglosemar@gmail.com
Honorcerpen Rp100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
13. Minggu Pagi (Yogyakarta)
we_rock_we_rock@yahoo.co.id
Terbitseminggu sekali setiap Jumat. Honor cerpen Rp 150.000,- hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung kekantor redaksi.
14. Radar Surabaya
radarsurabaya@yahoo.com, diptareza@yahoo.co.id
Honorcerpen Rp 200.000,- (potong pajak) . Honor cair seminggu setelah dimuat.
15. Lampung Post
lampostminggu@yahoo.com
Menerimacerpen, puisi, dan esai. Honor cerpen Rp 200.000,- Honor puisi kalau tak salahjuga Rp 200.000,- Sekarang honor sudah ditransfer langsung oleh bagiankeuangan, paling lambat 1 minggu setelah dimuat. Jika belum, silakan emailbagian keuangan di emil_lampost@yahoo.com
16. Padang Ekspres
yusrizal_kw@yahoo.com, cerpen_puisi@yahoo.com
Honorcerpen Rp 100.000,- s/d Rp 125.000,- honor puisi Rp 75.000,- hubungi redaksivia email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggalpemuatan cerpen, bisa diambil langsung, atau minta tolong teman mengambilkanhonor ke kantor redaksi.
17. Haluan (Padang)
nasrulazwar@yahoo.com
Honorcerpen Rp 150.000,- honor puisi Rp 100.000,- hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatancerpen, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
18. Singgalang (Padang)
hariansinggalang@yahoo.co.id, a2rizal@yahoo.co.id
Honor cerpen Rp 50.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
19. Riau Pos
budayaripos@gmail.com, kabut.azis@gmail.com
Honor cerpen Rp 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
20. Analisa (Medan)
rajabatak@yahoo.com
Honor cerpen Rp 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
21. Sinar Harapan
redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com
Honor cerpen Rp 100.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
22. Jurnal Cerpen Indonesia
jurnalcerpen@yahoo.com, jurnalcerita@yahoo.com
Honor cerpen Rp 250.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
23. Majalah Horison
horisoncerpen@gmail.com, horisonpuisi@gmail.com
Honor cerpen Rp 350.000,- honor puisi tergantung berapa jumlah puisi yangdimuat, biasanya dikirimi majalahnya sebagai bukti terbit. Hubungi redaksi viaemail/telepon untuk konfirmasi pencairan honor atau bisa diambil langsung kekantor redaksi, dan kadang honor dikirim via wesel jika tidak ada nomerrekening.
24. Majalah Esquire
cerpen@esquire.co.id
Honor cerpen Rp 800.000,- (potong pajak). Jika akan dimuat ada konfirmasi dariredaksi.
25. Majalah Suara Muhammadiyah
redaksism@gmail.com
Honor cerpen Rp. 150.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
26. Majalah Ummi
kru_ummi@yahoo.com
Tema cerpen seputar keluarga dan rumah tangga. Honor cerpen Rp 250.000,-(dipotong pajak) ditransfer paling telat satu bulan setelah pemuatan. Adakonfirmasi jika akan dimuat.
27. Majalah Kartini
redaksi_kartini@yahoo.com
Honor cerpen Rp 350.000,- Sekarang honor ditransfer ke rekening penulissekitar 3 bulanan atau jika belum juga silakan hubungi redaksi via email atausosial media Kartini. Ada konfrimasi jika akan dimuat.
28. Majalah Alia
majalah_alia@yahoo.com
Honor cerpen Rp 300.000,- Ada konfirmasi pemuatan.
29 Majalah Femina
kontak@femina.co.id
Honor cerpen Rp. 850.000,- dan cair seminggu setelah dimuat. Ada konfirmasijika akan dimuat dan menanda-tangani surat pernyataan keaslian karya di atas matrai. Honor terakhir sudah naik. (Bisa ditanyakan pada Yulina Trihaningsih dan Nurhayati Pujiastuti)
31. Majalah Story
story_magazine@yahoo.com
Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Konfirmasi pemuatan cerpen via telepondari redaksi Story. Antrian pemuatan panjang, bisa 1-2 tahun. Honor cerpen Rp250.000,-
32. Majalah Gadis
GADIS.redaksi@feminagroup.com
Tema cerpen khas ala remaja/teenlit. Honor untuk Percikan (cerpen mini tigahalaman) Rp. 500.000,- Honor untuk Cerpen Rp 800.000,- ditransfer 2-3 minggusetelah majalah terbit.
33. Majalah Bobo
bobonet@gramedia-majalah.com
Honor cerpen Rp300.000 - Rp400.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasipencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
36. Kompas khusus Cerpen Anak
opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
Pada subjek email ditulis CERPEN ANAK: JUDUL CERPEN. Honor cerpen Rp. 300.000,-Resensi buku anak honor Rp 250.000,- Honor cair tiga hari setelah pemuatan.
37. Tabloid Nova
nova@gramedia-majalah.com
Honor cerpen Rp 388.000,- Honor ditransfer sebulan setelah dimuat.
38. Tabloid Cempaka (Jawa Tengah)
sontrotku@gmail.com
Honor cerpen Rp 135.000, harus ditagih ke redaksi. Ada konfirmasi pemuatan.
39. Inilah Koran (Jawa Barat)
inilahkoran@inilah.com, redaksijabar@inilah.com
Honor: Rp100.000 (mahasiswa) dan Rp150.000(umum). Lebih baik minta dicairkan pada teman yang berdomisili di Bandung.
40. Majalah HAI (Majalah Cowok)
cerpen_hai@yahoo.com
Dengan spesifikasi: panjang tulisan maksimal 6000 karakter (berikut spasi).
6000 – 9000 karakter, ketik 2 spasi, kertas folio/A4 format rtf.
Kirim via e-mail dengan subjek CERPEN
Terbit tiap Senin.
41. Majalah Aneka Yes!
aneka@indosat.net.id or yess_pals@yahoo.com dengan subjek FIKSI
-Cerpen maksimal 7 hlm folio spasi ganda
-Sertakan pernyataan cerpen orisinil dan belum pernah dipublikasikan danbermaterai
Jika dalam waktu 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen tak layak muat.
42. Majalah CHIC
cerpen_chic@yahoo.co.id
Cerpen metro-pop, ketik 2 spasi. Atau Maks. 9rb CWS halaman A4
43. Tabloid Gaul
tabloid.gaul@yahoo.co.id
cerpen teenlit, maks. 8 hal. Folio, ketik 1,5 spasi, sekitar 10.000 karakter+spasi
44. Majalah Kawanku
cerpenkawanku@gmail.com
Cerpen remaja, maks. 8 halaman A4, ketik 2 spasi.
Cantumkan identitas lengkap, alamat, dan nomor rekening
Jika 3 bulan tidak dimuat, berarti cerpen tak layak muat.
45. Wonder Teens
majalah.teen@gmail.com, majalah.teen2@gmail.com
Cerpen teenlit, maks. 6 hal A4, ketik1,5 spasi
SUMBER: https://www.facebook.com/notes/ibu-ibu-doyan-nulis-interaktif/alamat-email-media-yang-menerima-puisicerpenessai/594480167273887
Dekik Full
13 Januari
Opini
Setelah membaca beberapa puisi. Apa saja unsur puisi ..., setelah membaca beberapa buku dan artikel, coba merangkum salah satu struktur puisi.
Struktur Fisik Puisi
Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dan lain-lain.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup
(a) Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutardji C.B.).
(b) Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]).
(c) Pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
Salam karya untuk sahabat semua.
Setelah membaca beberapa puisi. Apa saja unsur puisi ..., setelah membaca beberapa buku dan artikel, coba merangkum salah satu struktur puisi.
Struktur Fisik Puisi
Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dan lain-lain.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup
(a) Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutardji C.B.).
(b) Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]).
(c) Pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
Salam karya untuk sahabat semua.
Selasa, 18 Februari 2014
PANDUAN INI SAYA BUAT KARENA ADA ANGGOTA KBM YANG MENULIS NON FIKSI ASAL-ASALAN
CARA MENULIS NON FIKSI KONVENSIONAL UNTUK MEDIA MASSA
OLEH: AGUNG PRIBADI
-Judul yang menarik atau provokatif tapi tidak membocorkan isinya
-LEAD (OPENING) ATAU PARAGRAF PERTAMA: PERISTIWA YANG AKTUAL DAN MENARIK SEBAGAI NEWSPEG (CANTELAN BERITA)
PARAGRAF KEDUA: KALIMAT PERTAMA PREMIS (STATEMEN/PERNYATAAN), KALIMAT KEDUA DAN SETERUSNYA ARGUMENTASI YANG MEMPERKUAT PReMIS INI BISA BERUPA WAWANCARA TOKOH ATAU KUTIPAN BUKU.
PARAGRAF KETIGA DAN SETERUSNYA SAMA PERSIS DENGAN PARAGRAF KEDUA
PARAGRAF KEEMPAT DAN SETERUSNYA SAMA PERSIS DENGAN PARAGRAF KEDUA SAMPAI SATU PARAGRAF SEBELUM CLOSING (PENUTUP)
PARAGRAF TERAKHIR PENUTUP BISA BERUPA KESIMPULAN BISA BERUPA PERTANYAAN YANG MEMBUTUHKAN RISET SELANJUTNYA.
Dalam menulis buku Gara-Gara Indonesia saya berimprovisasi tidak terlalu berpegangan pada cara konvensional ini. Tapi buat penulis pemula sebelum berimprovisasi bagusnya mengetahui dulu ilmu yang baku supaya jangan asal tulis atau asbun (asal bunyi). Seperti musisi Jazz yang berimprovisasi sebelumnya mereka menguasai dulu music klasik. Atau pemusik Rock seperti Yngwie Malmsteen, sebelum dia bermain rock, dia menguasai dulu musik klasik.
Wallau A’lam Bish Shawab.
Teman Bulan
Bulan separuh...
Embun disini sayang
Hanya malam yang bisa persuakan
Pandangimu dari altar kasih
Menikmati bentuk indahmu
Merindumu
Di kejauhan asa
Tapi sia-sia
Waktu menepis
Jarak menahan
Tetap nggak bisa menyapamu
Meski hanya sekedar berteman
Gemintang selalu cemburu
Saat embun menyapa
Aih .. Bintang jahat!
Padahal embun nggak seburuk fikirannya
Ya sudah, kalau nggak bisa ketemu di dunia
tunggu embun ya di surga
Embun disini sayang
Hanya malam yang bisa persuakan
Pandangimu dari altar kasih
Menikmati bentuk indahmu
Merindumu
Di kejauhan asa
Tapi sia-sia
Waktu menepis
Jarak menahan
Tetap nggak bisa menyapamu
Meski hanya sekedar berteman
Gemintang selalu cemburu
Saat embun menyapa
Aih .. Bintang jahat!
Padahal embun nggak seburuk fikirannya
Ya sudah, kalau nggak bisa ketemu di dunia
tunggu embun ya di surga
Ini prosa[?]
Ini prosa[?]
Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.
Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!
Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.
Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .
Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.
Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.
Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.
Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.
Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.
Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.
Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!
*curhatan tengah malam, toeweweng....
Langit masih saja menangis, gelegar guruh sesekali membersitkan kilatan di kelabu awan.
Memilih pulang adalah keputusan yang tepat daripada harus mendekam di kantor tanpa sesiapa, tempat yang bagai mati, sepi!
Ini bukan yang pertama, konsekuensi menempuh 50 KM bersama teman setia Si Motor butut telah kujalani selama 4 tahun, dan aku menyebutnya sahabat robot.
Sejam sudah berjibaku dengan robot-robot mesin di aspal licin, mereka menderu, kecepatan tinggi, salib kanan salib kiri yang memaksa netra untuk tidak lengah disebalik kaca helm yang buram .
Koordinasi pendengaran, penglihatan, gerakan tangan pada stang dan pijakan kaki pada rem, berada pada status siaga satu.
Rasa kram perlahan mulai menjalari jari-jari kecil di tangan dan kaki karena terpaan air hujan, tapi tujuanku sudah membayang. 4 KM lagi, fikirku.
Pandangan masih awas ketika sebuah pick up yang searah denganku mengerem tiba-tiba, sekuat tenaga aku menekan rem tapi gagal! Tabrakan keras ke ekor mobil membuat tubuhku terpental dan tertindih sahabat robot.
Aku percaya ini goresan takdir, sama seperti ketika aku meyakini bahwa doa-doa tulus yang mengalir dari hati ibu telah menghindarkanku dari hantaman motor-motor yang juga melaju dari belakang.
Kelelahan bergelayut manja memaksa badan terlelap dalam tidur, padahal isya baru saja berlalu.
Nyeri di sekujur badan baru terasa, memaksaku terjaga di gulita malam, bagai telah ditimpuk dengan godam.
Astagfirullah, Maafkan hamba jika lalai ya Allah. Semoga meditasi munajat dalam rokaat bisa meringankan,
Amin!
*curhatan tengah malam, toeweweng....
Minggu, 16 Februari 2014
==JALAN KELUAR==
==JALAN KELUAR==
"Aku nggak gila!" teriakan perempuan malang itu menyisakan suara serak.
"Diam kataku, perempuan gila!" suaminya balas berteriak tak kalah sengitnya, anak-anak mereka hanya diam, sudah terbiasa dengan keadaan serupa.
"Kamu yang gila, tidak tahu bagaimana memperlakukan istri dengan baik!”
Tangisan perempuan itu seketika menjadi pecah seraya memelas dalam doanya, “Ampuni hamba ya Allah, ampuni suami hamba yang sudah menyiksa dan menganiaya hamba. Terima pinta hamba ya Allah" isakannya sungguh memilukan.
"Plak!" tamparan keras telak mendarat di pipi kanan perempuan yang sangat kuyu itu, tangisannya semakin menyayat hati.
"Aku akan membunuhmu," seiring ancaman itu, tiba-tiba suaminya ke dapur, mengibaskan dengan kasar semua benda yang ada di meja dan mencari pisau dapur.
Menyadari bahaya yang akan menemuinya, perempuan malang itu berlari sekuat mungkin dengan sisa tenaga, menyusuri pekatnya malam di desa yang sepi, segera terlintas di benaknya untuk mencari perlindungan ke tetangga, tapi malang tuan rumah yang dituju tidak mengijinkan dia untuk sekedar menghindar dari suaminya yang sudah kalap. entah apa alasannya.
Kembali dia berlari, mencari tempat aman agar tak ditemukan oleh suaminya. Untung saja ia segera melihat toilet samping rumah tetangga yang sudah lama tidak terpakai.
Nafasnya tersengal, sebisa mungkin diaturnya nafas yang memburu karena ketakutan, nyamuk-nyamuk yang berpesta pora di kulitnya tak dihiraukan lagi karena takut menimbulkan suara, suasana hening!
Tiba-tiba ada suara yang mendekat. Andai ia bisa, akan dihentikan sejenak detakan jantungnya agar tak kedengaran.
Hampir sejam ia mendekam dalam ketakutan, dan meninggalkan tempat sumpek itu, setelah merasa bahwa keadaan sudah benar-benar aman.
Langkah gontai membawa kemana kakinya melangkah tanpa tujuan, malam ini tak mungkin kembali ke rumahnya.
Ketika berjalan diantara rerimbun pohon mangga di kebun pak Imam, dilihatnya lampu rumah Bu Nisa masih menyala, ke sanalah langkahnya tertuju.
Tok...tok..tok… "Assalamualaikum, Bu Nisa," perlahan Ia mengetuk pintu seraya memanggil nama Bu Nisa, tapi belum ada jawaban dari dalam.
"Bu Nisa, Asaalamu alaikum" kali ini salamnya lebih dikeraskan lagi
"Waalaikumsalam, siapa ya"
"Saya Bu Marni, Bu Nisa tolong Buka pintunya dulu Bu"
Tergopoh-gopoh perempuan bernama Bu Nisa itu membuka pintu
"Lho Bu Marni ya? Mari,...silahkan masuk Bu.” Bu Nisa menutup pintu lalu berlalu ke dapur mengambil segelas air minum untuk tamu malamnya.
"Ini Bu Marni minum dulu ya" ujar Bu Nisa dengan pandangan iba.
"Makasih banyak Bu Nisa, ibu terlalu baik"
"Biasa aja Bu Marni, kebetulan saya juga lagi sendiri, suami saya ke pelelangan ikan, dan pulangnya besok pagi. Jadi Bu Marni bisa nginap di sini dulu"
"Skali lagi trimakasih banyak ya Bu, saya sudah merepotkan ibu"
"Nggak apa-apa Bu, ceritakan gimana sampai malam-malam seperti ini, Ibu pergi dari rumah," tanya Ibu Nisa dengan sangat hati-hati.
"Tadi suami mau membunuh saya Bu" suaranya terdengar lirih
"Masyaallah Bu, kok bisa ya suami Ibu seperti itu" Bu Nisa bertanya, meski sebenarnya sudah sering mendengar keributan dari rumah Bu Marni yang tak begitu jauh dari kediamannya.
"Suami saya kalau lagi mabuk suka kayak gitu Bu, seringkali pulangnya malam dan suka marah-marah, gimana saya nggak setres, Bu” Hambar ucapan Bu Marni.
“Tadi dia nyari lauk waktu mau makan padahal sudah berapa hari saya nggak diberi uang sepeser pun, kalau sudah gitu pasti saya yang kena amukannya, paling sering di pukulin Bu" ucapnya sesenggukan, rasanya tak kuat lagi dengan penderitaan yang dialaminya.
Bu Nisa menyentuh lembut bahu Bu Marni seraya berujar lirih "Astagfirullah, semoga Allah segera memberi petunjuk ke suami Ibu, Bu Marni yang sabar ya... Percayalah, disini Ibu bisa aman, Ibu makan dulu setelah itu, istirahat ya"
Bu Nisa segera berlalu dan menyiapkan makan buat tetangganya yang nampaknya tidak bertenaga lagi. Kasihan!
Ibu berusia 46 tahun itu, merebahkan badannya ke ubin yang beralaskan tikar dan perlahan memejamkan mata lelahnya.
"Bu Marni, ini makanannya sudah siap Bu" ucapannya pelan, sambil menyentuh bahu Bu Marni seakan tidak ingin mengganggu.
Kelopak matanya terbuka "Bu Nisa sangat baik, beruntung sekali saya bisa mengenal Bu Nisa."
"Biasa aja Bu, Sesama manusia kita memang dianjurkan saling tolong menolong” sambil mengatakan itu, senyum manis tak lekang dari raut wajahnya yang sangat tulus, Bu Marni bisa merasakannya.
“Mari silahkan Bu, tadi saya sudah makan sama Si Kecil” lanjut Bu Nisa, masih dengan senyumnya. Menyejukkan!
Pagi hari sebelum kejadian heboh di rumah Bu Marni.
“Mak, Indah lapar” Anak kecil berusia 7 tahun merengek pada emaknya
“Sabar ya nak, sebentar lagi Bapak pasti datang dan bawa beras untuk kita, pagi ini tempat beras Mak sudah kosong” Ibu tujuh anak itu berusaha membujuk anak bungsunya.
Gubuk bambu berukuran 4x6 M jadi saksi, perut-perut mereka yang keroncongan sejak pagi.
“tapi Indah lapar banget, Mak!”
“Emak buatin teh manis ya Ndah, biar perutnya nggak begitu berasa laparnya”
“iya deh, Mak”
Keadaan seperti itu bukan sekali dua kali terjadi di rumah Bu Marni, untuk meminta ke tetangga, rasanya sudah malu.
Sering kali Bu Marni meminta kepada mereka yang masih mau berbaik hati, tapi keadaan mereka tak jauh lebih baik dari keluarga Bu Marni belum lagi dua tetangga Bu marni yang sering membuat kerusuhan, sering mengatakan Bu marni sebagai perempuan gila, dan mengadu domba antara Bu Marni dan Suaminya.
Karena lingkungan yang tidak bersahabat itulah, menyebabkan ia seringkali mengalami depresi akut hingga pernah dirawat di sebuah rumah sakit jiwa yang ada di kota.
Dan akhirnya rumor yang menganggap bahwa Bu Marni itu gila kian merebak di lingkungannya, termasuk di keluarga Pak Imam, salah seorang keluarga terpandang di desa itu yang rumahnya tak jauh dari rumah keluarga Bu Marni.
Tapi tidak demikian dengan Bu Nisa, di mata menantu Pak Imam itu, Bu Marni adalah Ibu Malang yang harus di tolong.
Sebelum kejadian heboh di rumah Bu Marni, Perempuan berpembawaan tenang itu sudah mempunyai rencana untuk mengajak Bu Marni berbagi cerita. Hingga terjadilah peristiwa yang membuat Bu Marni menjadi semakin shock.
Mungkin ini skenario Allah yang akhirnya membuat Bu Marni dan Bu Nisa menjadi dekat seperti malam ini.
Di Rumah Bu Nisa, ibu bertubuh kurus itu terlihat makan dengan sangat lahap karena memang dari pagi lambungnya belum bertemu nasi sedikitpun. Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya Bu Marni segera membereskan piring-piringnya lalu segera dibawa ke dapur.
"Biar saya saja Bu yang beresin, ibu istirahat saja dulu"
"Nggak apa-apa Bu, ini saya udah ngerepotin ibu banget."
"Nggak usah difikirkan Bu, ayo istirahat dulu. Udah tengah malam ini."
Setelah semua peralatan makan dibereskan, ibu Nisa menyiapkan bantal, selimut dan obat nyamuk. Sejurus kemudian mereka terlelap bersama kelam malam dengan fikiran masing-masing.
Menjelang subuh Bu Nisa sudah terbangun, dia melihat Bu Marni masih lelap dalam tidurnya, tersirat lelah dari wajahnya, karena persoalan hidup yang harus ditanggungnya, termasuk menghadapi suami yang doyan mabuk dan berjudi di tambah lagi dengan tanggung jawab yang dipikulnya sebagai ibu dari anak-anaknya.
Untung saja dua orang anaknya yang hanya tamat SMP telah bekerja di kota sebagai penjaga toko, Anak pertamanya, seorang perempuan berumur 20 tahun telah menikah dan diboyong oleh suaminya ke rumah mertua. Sisanya 4 orang anak lagi yang masih kecil-kecil.
Perlahan perempuan berhati mulia itu membangunkan Bu Marni dengn lembut.
"Bu... Bu Marni, sudah subuh nih, Ayo sholat subuh berjamaah dengan saya."
Celingukan Bu Marni membalikkan badan kearah Bu Nisa dan langsung bangun "Oh...maaf Bu, Saya kesiangan ya ?" Agak kelimpungan dia berbicara ke arah Bu Nisa.
"Nggak Bu, ini masih shubuh, masjid sebelah baru aja selesai adzan. Ibu berwudhu dulu, saya tadi sudah, saya siapkan mukenanya ya Bu."
Sholat subuh kali itu dirasakan begitu memberi kedamaian yang menyusupi seluruh batin Bu Marni.
Tak terasa bulir bening perlahan mengalir dan menganak sungai di pipinya. Selama ini hidupnya telah jauh dari Allah, kehidupannya yang susah seakan telah menimbulkan perasaan marah kepada Allah, dia merasa Allah tiada memperhatikan dirinya. Tapi subuh ini, sukmanya merasakan kepiluan yang hebat tiba-tiba perasaannya tenang, damai tidak seperti hari-hari kemarin yang senantiasa diliputi oleh kekalutan. Setelah salam ke ke kanan dan ke kiri Bibirnya berucap lirih "Astagfirullahal adzim."
"Bu Marni, menangis ya?"
"Saya sudah banyak dosa pada Allah, Bu Nisa, pasti Allah tidak akan memafkan saya lagi."
"Bu, jangan berkata seperti itu, kasih sayang dan ampunan Allah tidak pernah terbatas bagi hamba yang mau bertobat."
"Tapi dosa saya selama ini sudah banyak banget Bu, sholat masih banyak bolongnya. Selama ini juga beranggapan bahwa Allah tidak sayang kepada saya, Allah memihak hanya kepada orang tertentu saja."
"Masyaallah, Bu Marni ... Allah tidak seperti itu Bu, bahkan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, hanya kadang kita yang terlalu banyak mengeluh dan mungkin tidak menyadari bahwa kondisi sehat kita ini adalah nikmat yang luar biasa Bu, ada banyak orang diluar sana yang tengah terbaring sakit sehingga hanya makanan tertentu saja yang bisa mereka makan, padahal uang mereka tidak sedikit dan bisa membeli apa saja yang diinginkan, ada juga yang cacat Bu Marni, kita harusnya bersyukur karena memiliki anggota badan yang sempurna,” tenang sekali ucapan Bu Nisa.
Lalu kemudian melanjutkan perkataannya.
“Bu, maafkan saya ya, tidak ada maksud menggurui ibu, saya hanya ingin berbagi apa yang saya ketahui."
"Sama sekali saya tidak merasa digurui, justru saya sangat senang bisa berada disini sekarang."
"Bu Marni, semua kejadian itu selalu ada hikmah atau rahasia di baliknya, hanya kita mungkin belum mengetahui apa maksud Allah menimpakan suatu kejadian dalam kehidupan kita, Kadang-kadang kita melihat bahwa kejadian itu terlalu buruk buat kita tetapi sebenarnya dalam keburukan itu ada kebaikan yang terkandung di dalamnya" Sejenak mereka terdiam dan larut dengan fikiran masing-masing.
Bu Nisa menatap lembut tetangganya yang tengah tertunduk, mungkin berusaha mencerna perkataan Bu Nisa barusan, lalu melanjutkan ucapannya,
“inilah pentingnya kita memiliki iman Bu, agar tidak mudah terombang-ambing dalam kondisi keduniaan yang beraneka macam ini. Sebab orang yang beriman itu selalu menyerahkan hidupnya kepada Allah, sehingga dalam suka maupun duka orang yang beriman tetap tunduk, patuh dan berusaha melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan larangan Allah."
"Tapi Bu Nisa.... " Bu Marni menghentikan perkataannya.
"Tapi kenapa Bu Marni?"
"Kenapa kehidupan ekonomi saya tidak bisa membaik Bu, kadangkala saya, suami dan anak-anak harus kelaparan karena tidak punya uang untuk beli beras."
“Bu Marni, percaya kan kalau kehidupan ini ada yang mengatur?”
“Percaya, Bu.”
“Kalau ibu percaya, bahwa kehidupan ini diatur oleh Allah, maka akan kemana lagi kita mengadukan semua permasalahan hidup kita selain kepada Allah, Bu?”
Bu Nisa memberi jeda pada ucapannya dan membirkan Bu Marni memikirkan apa yang diucapkannya barusan.
Lalu melanjutkan kembali kalimatnya “lalu bagaimana kita mengadukan permasalahan kita? Tentu saja dengan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah, memperbanyak dzikir kepada Allah, dengan cara berusaha menjalankan semua perintah Allah dan sebisa mungkin menjauhi larangan-Nya.”
Suasana subuh yang tenang begitu dirasakan oleh kedua perempuan itu.
“Bu Marni, jika kita ingin menjadi hamba yang istimewa di hadapan Allah maka kita pun harus melakukan ibadah-ibadah yang juga istimewa menurut Allah.”
“Ibadah istimewa ya, Bu?” Bu Marni mengerutkan keningnya.
“Iya benar, Bu.”
Bu Nisa meneruskan ucapannya dengan sabar.
“Selain ibadah wajib seperti sholat dan puasa yang sering kita lakukan, sebenarnya ada beberapa amalan sunnah yang istimewa dihadapan Allah, Bu.”
“Misalnya apa aja ya, Bu” Bu Marni menyela karena ingin segera mengetahui kelanjutannya.
“Melakukan sholat tahajud dan sholat dhuha, waktu-waktu ini adalah waktu yang sangat makbul untuk mengadukan semua unek-unek hidup kita Bu, disaat kebanyakan hamba tengah terlelap dalam mimpi malamnya maka hamba yang istimewa bersimpuh di hadapan Rabb-nya, dan pada saat hamba lain tengah sibuk mengerjakan pekerjaan di pagi hari, ada hamba yang rela meninggalkan kesibukan demi bersimpuh di hadapan Allah.”
Bu Marni terlihat menyelami ucapan Bu Nisa,
Lalu Bu Nisa melanjutkan perkataannya, “ Insyaallah kalau Bu Marni mengamalkan ini, hati Ibu akan tenang dan tidak mudah terombang-ambing, dan yakinlah bahwa Allah akan menolong semua kesulitan hidup kita Bu, cepat atau lambat” Senyum manis Bu Nisa makin membuat Bu Marni seperti terhipnotis dan manggut-manggut pertanda memahami apa yang diucapkan Bu Nisa, sahabat barunya.
“Insyaallah, saya tidak akan meninggalkan sholat lima waktu lagi Bu Nisa, dan akan berusaha menjadi hamba istimewa di mata Allah. Saya capek dengan kehidupan saya yang sekarang Bu, Doakan saya ya Bu Nisa?” terlihat kesungguhan dari kalimatnya yang terakhir.
“Pasti saya doakan Bu, kita saling mendoakan ya bu, semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk tetap istiqomah di jalan yang diridhoi-NYA.”
Semburat jingga mentari pagi mulai menampakkan cahayanya yang masih malu-malu, indah dan menyejukkan seperti sejuknya hati kedua perempuan itu yang kini tengah menikmati sarapan.
Bu Nisa menjalani rutinitasnya di pagi hari, menyapu guguran daun mangga kering yang berserakan di halaman rumahnya sementara Bu Marni membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan. Tiba-tiba suami Bu Marni datang dan mendekat, dari jauh terlihat tatapan tajam matanya diarahkan pada Bu Nisa yang seketika terhenti dari kegitannya, tapi Bu Nisa tetap tenang!
“Saya tau Emaknya Indah ada di rumah Bu Nisa”
“Iya, Benar Pak Samsul” Bu Nisa menjawab tenang
“Nggak apa-apa Bu, Saya mau memastikan saja, baguslah kalau dia ada disini, saya juga merasa tenang kalau dia bersama Ibu” Ibu Nisa tidak menyangka akan perkataan Pak Samsul baru saja, padahal dalam hati, ibu satu anak itu sudah menyiapkan amunisi untuk menghadapi Suami Bu Marni jika pagi ini dia marah-marah.
“Pak Samsul nggak marah kan kalau besok-besok, Bu Marni main ke rumah saya lagi? Katanya dia mau belajar mengaji.”
“Nggak apa-apa Bu, saya malah berterimakasih kepada ibu karena mau percaya pada istri saya disaat orang lain menganggap dia gila.”
“Istri bapak nggak gila, dia hanya depresi karena lingkungannya yang tidak bersahabat, istri bapak adalah perempuan yang baik hati,” Bu Nisa menuturkan kalimatnya dengan tenang padahal dari dalam rumah, terlihat Bu Marni yang sangat was-was dengan kedatangan suaminya.
“Baiklah, Bu. Biar dia tenang dulu sebelum pulang ke rumah.”
“Baik Pak Samsul,” Bu Marni masih menatap punggung suaminya berjalan menjauh dari rumah Bu Nisa, kemarahannya kepada suaminya berangsur-angsur berkurang.
***
Sejak kejadian itu, Bu Marni sering bertandang ke rumah Bu Nisa. Terlebih lagi karena Bu Marni ingin menenangkan perasaan dan menghindari cemoohan tetangganya yang menganggap Bu Marni gila. Mereka berdua seperti dua orang sahabat yang saling mengingatkan di Jalan Allah. Seperti hari ini Bu Nisa terlihat sedang mengajari sahabat barunya itu mengaji, dan saat azan berkumandang dari masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Bu Nisa, mereka lalu bersama-sama ke masjid.
Bu Marni terlihat lebih sering berjamah di Masjid dan Masyaallah, atas kehendak Allah, suami dan anak-anak Bu Marni jadi terpengaruh untuk sering juga berjamaah di Masjid, suaminya mulai berubah dan tak sekasar dulu.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, rumah gubuk mereka telah berganti menjadi bangunan permanen hasil dari perkongsian suami Bu Marni dan anak-anaknya yang bekerja di Kota.
Sekiranya benar Firman Allah: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (At-Thalaq ayat: 2)
*the end*
Tulisan ini saya dedikasikan untuk pesmerga dan inqilabi, trimakasih banyak ya.... Atas bantuan kalian cerpen ini bisa selesai :)
"Aku nggak gila!" teriakan perempuan malang itu menyisakan suara serak.
"Diam kataku, perempuan gila!" suaminya balas berteriak tak kalah sengitnya, anak-anak mereka hanya diam, sudah terbiasa dengan keadaan serupa.
"Kamu yang gila, tidak tahu bagaimana memperlakukan istri dengan baik!”
Tangisan perempuan itu seketika menjadi pecah seraya memelas dalam doanya, “Ampuni hamba ya Allah, ampuni suami hamba yang sudah menyiksa dan menganiaya hamba. Terima pinta hamba ya Allah" isakannya sungguh memilukan.
"Plak!" tamparan keras telak mendarat di pipi kanan perempuan yang sangat kuyu itu, tangisannya semakin menyayat hati.
"Aku akan membunuhmu," seiring ancaman itu, tiba-tiba suaminya ke dapur, mengibaskan dengan kasar semua benda yang ada di meja dan mencari pisau dapur.
Menyadari bahaya yang akan menemuinya, perempuan malang itu berlari sekuat mungkin dengan sisa tenaga, menyusuri pekatnya malam di desa yang sepi, segera terlintas di benaknya untuk mencari perlindungan ke tetangga, tapi malang tuan rumah yang dituju tidak mengijinkan dia untuk sekedar menghindar dari suaminya yang sudah kalap. entah apa alasannya.
Kembali dia berlari, mencari tempat aman agar tak ditemukan oleh suaminya. Untung saja ia segera melihat toilet samping rumah tetangga yang sudah lama tidak terpakai.
Nafasnya tersengal, sebisa mungkin diaturnya nafas yang memburu karena ketakutan, nyamuk-nyamuk yang berpesta pora di kulitnya tak dihiraukan lagi karena takut menimbulkan suara, suasana hening!
Tiba-tiba ada suara yang mendekat. Andai ia bisa, akan dihentikan sejenak detakan jantungnya agar tak kedengaran.
Hampir sejam ia mendekam dalam ketakutan, dan meninggalkan tempat sumpek itu, setelah merasa bahwa keadaan sudah benar-benar aman.
Langkah gontai membawa kemana kakinya melangkah tanpa tujuan, malam ini tak mungkin kembali ke rumahnya.
Ketika berjalan diantara rerimbun pohon mangga di kebun pak Imam, dilihatnya lampu rumah Bu Nisa masih menyala, ke sanalah langkahnya tertuju.
Tok...tok..tok… "Assalamualaikum, Bu Nisa," perlahan Ia mengetuk pintu seraya memanggil nama Bu Nisa, tapi belum ada jawaban dari dalam.
"Bu Nisa, Asaalamu alaikum" kali ini salamnya lebih dikeraskan lagi
"Waalaikumsalam, siapa ya"
"Saya Bu Marni, Bu Nisa tolong Buka pintunya dulu Bu"
Tergopoh-gopoh perempuan bernama Bu Nisa itu membuka pintu
"Lho Bu Marni ya? Mari,...silahkan masuk Bu.” Bu Nisa menutup pintu lalu berlalu ke dapur mengambil segelas air minum untuk tamu malamnya.
"Ini Bu Marni minum dulu ya" ujar Bu Nisa dengan pandangan iba.
"Makasih banyak Bu Nisa, ibu terlalu baik"
"Biasa aja Bu Marni, kebetulan saya juga lagi sendiri, suami saya ke pelelangan ikan, dan pulangnya besok pagi. Jadi Bu Marni bisa nginap di sini dulu"
"Skali lagi trimakasih banyak ya Bu, saya sudah merepotkan ibu"
"Nggak apa-apa Bu, ceritakan gimana sampai malam-malam seperti ini, Ibu pergi dari rumah," tanya Ibu Nisa dengan sangat hati-hati.
"Tadi suami mau membunuh saya Bu" suaranya terdengar lirih
"Masyaallah Bu, kok bisa ya suami Ibu seperti itu" Bu Nisa bertanya, meski sebenarnya sudah sering mendengar keributan dari rumah Bu Marni yang tak begitu jauh dari kediamannya.
"Suami saya kalau lagi mabuk suka kayak gitu Bu, seringkali pulangnya malam dan suka marah-marah, gimana saya nggak setres, Bu” Hambar ucapan Bu Marni.
“Tadi dia nyari lauk waktu mau makan padahal sudah berapa hari saya nggak diberi uang sepeser pun, kalau sudah gitu pasti saya yang kena amukannya, paling sering di pukulin Bu" ucapnya sesenggukan, rasanya tak kuat lagi dengan penderitaan yang dialaminya.
Bu Nisa menyentuh lembut bahu Bu Marni seraya berujar lirih "Astagfirullah, semoga Allah segera memberi petunjuk ke suami Ibu, Bu Marni yang sabar ya... Percayalah, disini Ibu bisa aman, Ibu makan dulu setelah itu, istirahat ya"
Bu Nisa segera berlalu dan menyiapkan makan buat tetangganya yang nampaknya tidak bertenaga lagi. Kasihan!
Ibu berusia 46 tahun itu, merebahkan badannya ke ubin yang beralaskan tikar dan perlahan memejamkan mata lelahnya.
"Bu Marni, ini makanannya sudah siap Bu" ucapannya pelan, sambil menyentuh bahu Bu Marni seakan tidak ingin mengganggu.
Kelopak matanya terbuka "Bu Nisa sangat baik, beruntung sekali saya bisa mengenal Bu Nisa."
"Biasa aja Bu, Sesama manusia kita memang dianjurkan saling tolong menolong” sambil mengatakan itu, senyum manis tak lekang dari raut wajahnya yang sangat tulus, Bu Marni bisa merasakannya.
“Mari silahkan Bu, tadi saya sudah makan sama Si Kecil” lanjut Bu Nisa, masih dengan senyumnya. Menyejukkan!
Pagi hari sebelum kejadian heboh di rumah Bu Marni.
“Mak, Indah lapar” Anak kecil berusia 7 tahun merengek pada emaknya
“Sabar ya nak, sebentar lagi Bapak pasti datang dan bawa beras untuk kita, pagi ini tempat beras Mak sudah kosong” Ibu tujuh anak itu berusaha membujuk anak bungsunya.
Gubuk bambu berukuran 4x6 M jadi saksi, perut-perut mereka yang keroncongan sejak pagi.
“tapi Indah lapar banget, Mak!”
“Emak buatin teh manis ya Ndah, biar perutnya nggak begitu berasa laparnya”
“iya deh, Mak”
Keadaan seperti itu bukan sekali dua kali terjadi di rumah Bu Marni, untuk meminta ke tetangga, rasanya sudah malu.
Sering kali Bu Marni meminta kepada mereka yang masih mau berbaik hati, tapi keadaan mereka tak jauh lebih baik dari keluarga Bu Marni belum lagi dua tetangga Bu marni yang sering membuat kerusuhan, sering mengatakan Bu marni sebagai perempuan gila, dan mengadu domba antara Bu Marni dan Suaminya.
Karena lingkungan yang tidak bersahabat itulah, menyebabkan ia seringkali mengalami depresi akut hingga pernah dirawat di sebuah rumah sakit jiwa yang ada di kota.
Dan akhirnya rumor yang menganggap bahwa Bu Marni itu gila kian merebak di lingkungannya, termasuk di keluarga Pak Imam, salah seorang keluarga terpandang di desa itu yang rumahnya tak jauh dari rumah keluarga Bu Marni.
Tapi tidak demikian dengan Bu Nisa, di mata menantu Pak Imam itu, Bu Marni adalah Ibu Malang yang harus di tolong.
Sebelum kejadian heboh di rumah Bu Marni, Perempuan berpembawaan tenang itu sudah mempunyai rencana untuk mengajak Bu Marni berbagi cerita. Hingga terjadilah peristiwa yang membuat Bu Marni menjadi semakin shock.
Mungkin ini skenario Allah yang akhirnya membuat Bu Marni dan Bu Nisa menjadi dekat seperti malam ini.
Di Rumah Bu Nisa, ibu bertubuh kurus itu terlihat makan dengan sangat lahap karena memang dari pagi lambungnya belum bertemu nasi sedikitpun. Setelah menyelesaikan suapan terakhirnya Bu Marni segera membereskan piring-piringnya lalu segera dibawa ke dapur.
"Biar saya saja Bu yang beresin, ibu istirahat saja dulu"
"Nggak apa-apa Bu, ini saya udah ngerepotin ibu banget."
"Nggak usah difikirkan Bu, ayo istirahat dulu. Udah tengah malam ini."
Setelah semua peralatan makan dibereskan, ibu Nisa menyiapkan bantal, selimut dan obat nyamuk. Sejurus kemudian mereka terlelap bersama kelam malam dengan fikiran masing-masing.
Menjelang subuh Bu Nisa sudah terbangun, dia melihat Bu Marni masih lelap dalam tidurnya, tersirat lelah dari wajahnya, karena persoalan hidup yang harus ditanggungnya, termasuk menghadapi suami yang doyan mabuk dan berjudi di tambah lagi dengan tanggung jawab yang dipikulnya sebagai ibu dari anak-anaknya.
Untung saja dua orang anaknya yang hanya tamat SMP telah bekerja di kota sebagai penjaga toko, Anak pertamanya, seorang perempuan berumur 20 tahun telah menikah dan diboyong oleh suaminya ke rumah mertua. Sisanya 4 orang anak lagi yang masih kecil-kecil.
Perlahan perempuan berhati mulia itu membangunkan Bu Marni dengn lembut.
"Bu... Bu Marni, sudah subuh nih, Ayo sholat subuh berjamaah dengan saya."
Celingukan Bu Marni membalikkan badan kearah Bu Nisa dan langsung bangun "Oh...maaf Bu, Saya kesiangan ya ?" Agak kelimpungan dia berbicara ke arah Bu Nisa.
"Nggak Bu, ini masih shubuh, masjid sebelah baru aja selesai adzan. Ibu berwudhu dulu, saya tadi sudah, saya siapkan mukenanya ya Bu."
Sholat subuh kali itu dirasakan begitu memberi kedamaian yang menyusupi seluruh batin Bu Marni.
Tak terasa bulir bening perlahan mengalir dan menganak sungai di pipinya. Selama ini hidupnya telah jauh dari Allah, kehidupannya yang susah seakan telah menimbulkan perasaan marah kepada Allah, dia merasa Allah tiada memperhatikan dirinya. Tapi subuh ini, sukmanya merasakan kepiluan yang hebat tiba-tiba perasaannya tenang, damai tidak seperti hari-hari kemarin yang senantiasa diliputi oleh kekalutan. Setelah salam ke ke kanan dan ke kiri Bibirnya berucap lirih "Astagfirullahal adzim."
"Bu Marni, menangis ya?"
"Saya sudah banyak dosa pada Allah, Bu Nisa, pasti Allah tidak akan memafkan saya lagi."
"Bu, jangan berkata seperti itu, kasih sayang dan ampunan Allah tidak pernah terbatas bagi hamba yang mau bertobat."
"Tapi dosa saya selama ini sudah banyak banget Bu, sholat masih banyak bolongnya. Selama ini juga beranggapan bahwa Allah tidak sayang kepada saya, Allah memihak hanya kepada orang tertentu saja."
"Masyaallah, Bu Marni ... Allah tidak seperti itu Bu, bahkan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, hanya kadang kita yang terlalu banyak mengeluh dan mungkin tidak menyadari bahwa kondisi sehat kita ini adalah nikmat yang luar biasa Bu, ada banyak orang diluar sana yang tengah terbaring sakit sehingga hanya makanan tertentu saja yang bisa mereka makan, padahal uang mereka tidak sedikit dan bisa membeli apa saja yang diinginkan, ada juga yang cacat Bu Marni, kita harusnya bersyukur karena memiliki anggota badan yang sempurna,” tenang sekali ucapan Bu Nisa.
Lalu kemudian melanjutkan perkataannya.
“Bu, maafkan saya ya, tidak ada maksud menggurui ibu, saya hanya ingin berbagi apa yang saya ketahui."
"Sama sekali saya tidak merasa digurui, justru saya sangat senang bisa berada disini sekarang."
"Bu Marni, semua kejadian itu selalu ada hikmah atau rahasia di baliknya, hanya kita mungkin belum mengetahui apa maksud Allah menimpakan suatu kejadian dalam kehidupan kita, Kadang-kadang kita melihat bahwa kejadian itu terlalu buruk buat kita tetapi sebenarnya dalam keburukan itu ada kebaikan yang terkandung di dalamnya" Sejenak mereka terdiam dan larut dengan fikiran masing-masing.
Bu Nisa menatap lembut tetangganya yang tengah tertunduk, mungkin berusaha mencerna perkataan Bu Nisa barusan, lalu melanjutkan ucapannya,
“inilah pentingnya kita memiliki iman Bu, agar tidak mudah terombang-ambing dalam kondisi keduniaan yang beraneka macam ini. Sebab orang yang beriman itu selalu menyerahkan hidupnya kepada Allah, sehingga dalam suka maupun duka orang yang beriman tetap tunduk, patuh dan berusaha melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan larangan Allah."
"Tapi Bu Nisa.... " Bu Marni menghentikan perkataannya.
"Tapi kenapa Bu Marni?"
"Kenapa kehidupan ekonomi saya tidak bisa membaik Bu, kadangkala saya, suami dan anak-anak harus kelaparan karena tidak punya uang untuk beli beras."
“Bu Marni, percaya kan kalau kehidupan ini ada yang mengatur?”
“Percaya, Bu.”
“Kalau ibu percaya, bahwa kehidupan ini diatur oleh Allah, maka akan kemana lagi kita mengadukan semua permasalahan hidup kita selain kepada Allah, Bu?”
Bu Nisa memberi jeda pada ucapannya dan membirkan Bu Marni memikirkan apa yang diucapkannya barusan.
Lalu melanjutkan kembali kalimatnya “lalu bagaimana kita mengadukan permasalahan kita? Tentu saja dengan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah, memperbanyak dzikir kepada Allah, dengan cara berusaha menjalankan semua perintah Allah dan sebisa mungkin menjauhi larangan-Nya.”
Suasana subuh yang tenang begitu dirasakan oleh kedua perempuan itu.
“Bu Marni, jika kita ingin menjadi hamba yang istimewa di hadapan Allah maka kita pun harus melakukan ibadah-ibadah yang juga istimewa menurut Allah.”
“Ibadah istimewa ya, Bu?” Bu Marni mengerutkan keningnya.
“Iya benar, Bu.”
Bu Nisa meneruskan ucapannya dengan sabar.
“Selain ibadah wajib seperti sholat dan puasa yang sering kita lakukan, sebenarnya ada beberapa amalan sunnah yang istimewa dihadapan Allah, Bu.”
“Misalnya apa aja ya, Bu” Bu Marni menyela karena ingin segera mengetahui kelanjutannya.
“Melakukan sholat tahajud dan sholat dhuha, waktu-waktu ini adalah waktu yang sangat makbul untuk mengadukan semua unek-unek hidup kita Bu, disaat kebanyakan hamba tengah terlelap dalam mimpi malamnya maka hamba yang istimewa bersimpuh di hadapan Rabb-nya, dan pada saat hamba lain tengah sibuk mengerjakan pekerjaan di pagi hari, ada hamba yang rela meninggalkan kesibukan demi bersimpuh di hadapan Allah.”
Bu Marni terlihat menyelami ucapan Bu Nisa,
Lalu Bu Nisa melanjutkan perkataannya, “ Insyaallah kalau Bu Marni mengamalkan ini, hati Ibu akan tenang dan tidak mudah terombang-ambing, dan yakinlah bahwa Allah akan menolong semua kesulitan hidup kita Bu, cepat atau lambat” Senyum manis Bu Nisa makin membuat Bu Marni seperti terhipnotis dan manggut-manggut pertanda memahami apa yang diucapkan Bu Nisa, sahabat barunya.
“Insyaallah, saya tidak akan meninggalkan sholat lima waktu lagi Bu Nisa, dan akan berusaha menjadi hamba istimewa di mata Allah. Saya capek dengan kehidupan saya yang sekarang Bu, Doakan saya ya Bu Nisa?” terlihat kesungguhan dari kalimatnya yang terakhir.
“Pasti saya doakan Bu, kita saling mendoakan ya bu, semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk tetap istiqomah di jalan yang diridhoi-NYA.”
Semburat jingga mentari pagi mulai menampakkan cahayanya yang masih malu-malu, indah dan menyejukkan seperti sejuknya hati kedua perempuan itu yang kini tengah menikmati sarapan.
Bu Nisa menjalani rutinitasnya di pagi hari, menyapu guguran daun mangga kering yang berserakan di halaman rumahnya sementara Bu Marni membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan. Tiba-tiba suami Bu Marni datang dan mendekat, dari jauh terlihat tatapan tajam matanya diarahkan pada Bu Nisa yang seketika terhenti dari kegitannya, tapi Bu Nisa tetap tenang!
“Saya tau Emaknya Indah ada di rumah Bu Nisa”
“Iya, Benar Pak Samsul” Bu Nisa menjawab tenang
“Nggak apa-apa Bu, Saya mau memastikan saja, baguslah kalau dia ada disini, saya juga merasa tenang kalau dia bersama Ibu” Ibu Nisa tidak menyangka akan perkataan Pak Samsul baru saja, padahal dalam hati, ibu satu anak itu sudah menyiapkan amunisi untuk menghadapi Suami Bu Marni jika pagi ini dia marah-marah.
“Pak Samsul nggak marah kan kalau besok-besok, Bu Marni main ke rumah saya lagi? Katanya dia mau belajar mengaji.”
“Nggak apa-apa Bu, saya malah berterimakasih kepada ibu karena mau percaya pada istri saya disaat orang lain menganggap dia gila.”
“Istri bapak nggak gila, dia hanya depresi karena lingkungannya yang tidak bersahabat, istri bapak adalah perempuan yang baik hati,” Bu Nisa menuturkan kalimatnya dengan tenang padahal dari dalam rumah, terlihat Bu Marni yang sangat was-was dengan kedatangan suaminya.
“Baiklah, Bu. Biar dia tenang dulu sebelum pulang ke rumah.”
“Baik Pak Samsul,” Bu Marni masih menatap punggung suaminya berjalan menjauh dari rumah Bu Nisa, kemarahannya kepada suaminya berangsur-angsur berkurang.
***
Sejak kejadian itu, Bu Marni sering bertandang ke rumah Bu Nisa. Terlebih lagi karena Bu Marni ingin menenangkan perasaan dan menghindari cemoohan tetangganya yang menganggap Bu Marni gila. Mereka berdua seperti dua orang sahabat yang saling mengingatkan di Jalan Allah. Seperti hari ini Bu Nisa terlihat sedang mengajari sahabat barunya itu mengaji, dan saat azan berkumandang dari masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Bu Nisa, mereka lalu bersama-sama ke masjid.
Bu Marni terlihat lebih sering berjamah di Masjid dan Masyaallah, atas kehendak Allah, suami dan anak-anak Bu Marni jadi terpengaruh untuk sering juga berjamaah di Masjid, suaminya mulai berubah dan tak sekasar dulu.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, rumah gubuk mereka telah berganti menjadi bangunan permanen hasil dari perkongsian suami Bu Marni dan anak-anaknya yang bekerja di Kota.
Sekiranya benar Firman Allah: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (At-Thalaq ayat: 2)
*the end*
Tulisan ini saya dedikasikan untuk pesmerga dan inqilabi, trimakasih banyak ya.... Atas bantuan kalian cerpen ini bisa selesai :)
Langganan:
Postingan (Atom)